HomeBeritaKesaksian Mengerikan Terungkap, Aktivis GSF Alami Penyiksaan Brutal dalam Tahanan Israel

Kesaksian Mengerikan Terungkap, Aktivis GSF Alami Penyiksaan Brutal dalam Tahanan Israel

ISTANBUL – Sejumlah aktivis kemanusiaan internasional yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla mulai kembali ke negara masing-masing dengan membawa luka fisik dan trauma mendalam setelah kapal mereka dicegat militer Israel di perairan internasional Laut Mediterania pada 18 Mei 2026.

Dalam pernyataan resmi terbaru yang dirilis Global Sumud Flotilla (GSF), para penyintas mengungkap berbagai dugaan tindakan penyiksaan, kekerasan seksual, intimidasi psikologis, hingga penganiayaan brutal yang mereka alami selama penahanan oleh pasukan Israel.

GSF menyebut kekerasan yang terjadi sebagai bagian dari “kampanye penyiksaan sistematis” terhadap ratusan relawan sipil, jurnalis, dan aktivis kemanusiaan yang berlayar membawa misi solidaritas untuk warga Gaza.

“I don’t think there’s a single person without some kind of injury,” ujar relawan GSF, Catríona Graham, menggambarkan kondisi 428 peserta sipil yang sempat ditahan.

Puluhan Aktivis Dilarikan ke Rumah Sakit

Data terbaru dari GSF mengungkap sedikitnya 67 peserta mengalami luka serius hingga harus menjalani pemeriksaan medis lanjutan di rumah sakit negara setempat. Sebanyak 12 orang bahkan harus dirawat inap, sembilan di Turki dan tiga lainnya di Yunani.

Salah satu korban, kapten kapal flotilla Arno Meys, dilaporkan mengalami paru-paru bocor akibat kekerasan yang dialaminya. Kondisinya membuat ia dilarang terbang selama satu bulan penuh.

Korban lainnya masih menjalani perawatan intensif akibat patah kaki, pendarahan internal, gangguan irama jantung, serta cedera serius di bagian tubuh lainnya. Laporan medis juga mencatat sedikitnya 36 kasus patah tulang, cedera tulang rusuk, hingga trauma berat di bagian kepala.

Tenaga medis menyebut sejumlah relawan mengalami kesulitan bernapas akibat tulang rusuk yang hancur, sementara sebagian lainnya kehilangan kesadaran karena hantaman keras saat penahanan berlangsung.

Kesaksian Horor di Dalam Kontainer Gelap

Kesaksian paling mengejutkan datang dari delegasi Prancis, Meriem Hadjal. Ia mengaku diseret menuju kontainer gelap oleh tentara Israel dan mengalami kekerasan fisik serta pelecehan seksual.

“Saya menerima pukulan pertama. Tamparan yang membuat saya hampir pingsan. Semua pukulan diarahkan ke kepala,” ungkap Meriem dalam kesaksiannya.

Ia mengaku ketakutan akan diperkosa setelah seorang tentara terus menyentuh tubuhnya, sementara tentara lain menarik pakaian bagian dada dan celananya. Di dalam kontainer tersebut, ia juga menyaksikan seorang relawan lain disetrum menggunakan taser.

Menurut Meriem, sejumlah tahanan dipaksa telanjang dan dimasukkan ke dalam kontainer sempit tanpa pakaian hangat. Dari dalam ruangan itu, mereka mendengar jeritan para relawan lain yang dipukuli secara bergantian.

Dipukuli hingga Dicekik dengan Bendera Palestina

Kesaksian lain datang dari Karim Awad, tenaga medis berkewarganegaraan Polandia dan Inggris. Ia mengaku dicekik menggunakan bendera Palestina yang robek sebelum dipukuli oleh enam tentara Israel secara bersamaan.

Karim juga mengaku menjadi sasaran kekerasan berulang setelah menuliskan slogan “Free Palestine” di tubuhnya. Ia disebut mengalami penggeledahan paksa berulang kali, dipukul menggunakan detektor logam genggam, hingga rambutnya dijambak.

Dalam kesaksiannya, Karim mengungkap para tahanan sengaja dibuat tidak bisa tidur. Tentara Israel disebut membanjiri lantai kontainer dengan air dingin setiap beberapa jam sekali agar para tahanan tetap terjaga.

Kapten Kapal Ditembak di Kaki

Delegasi Yunani juga mengungkap tindakan kekerasan saat tentara Israel menaiki kapal Kiriakos X. Para awak kapal disebut dipukul dan disetrum untuk memaksa mereka mengungkap identitas kapten kapal.

Demi menghentikan penyiksaan terhadap krunya, seorang kapten perempuan akhirnya maju mengaku sebagai penanggung jawab kapal. Namun, ia justru ditembak langsung di bagian kaki menggunakan peluru karet dan tidak mendapatkan penanganan medis yang layak selama beberapa hari.

Solidaritas di Tengah Kekerasan

Meski mengalami kekerasan brutal, para penyintas mengaku solidaritas antarsesama relawan menjadi kekuatan utama selama masa penahanan. Mereka saling melindungi satu sama lain di tengah serangan dan intimidasi.

GSF menyebut sejumlah relawan rela menjadikan tubuh mereka sebagai tameng untuk melindungi rekannya dari pukulan tongkat aparat. Bahkan dalam kondisi tangan terikat dan dipaksa berada dalam posisi menyakitkan, para tahanan tetap berusaha membantu rekannya agar tidak pingsan karena rasa sakit.

Global Sumud Flotilla kini mendesak adanya investigasi internasional independen terhadap dugaan kejahatan perang yang terjadi dalam operasi penyergapan tersebut. Mereka juga menyerukan embargo senjata dan sanksi internasional terhadap Israel atas dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional serta blokade berkepanjangan terhadap Gaza. (cky)

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler