HomeBeritaPalestinaGaza di Bawah Bayang-Bayang Baghdad: Tiga Abad Era Abbasiyah (750–969 M)

Gaza di Bawah Bayang-Bayang Baghdad: Tiga Abad Era Abbasiyah (750–969 M)

GAZA CITY — Ketika Dinasti Umayyah di Damaskus tumbang pada 750 M, Gaza turut merasakan getaran pergantian kekuasaan itu. Menurut catatan sejarah Palestina, khalifah Umayyah terakhir, Marwan II, melarikan diri melalui Gaza menuju Mesir setelah kekalahannya dari pasukan Abbasiyah, sebelum akhirnya terbunuh di sana. Klaim ini perlu dicatat dengan hati-hati karena sumber yang memuatnya sendiri menandainya sebagai informasi tanpa rujukan primer yang jelas.

Yang lebih pasti adalah bahwa sejak 750 M, Gaza — bersama seluruh Palestina — berpindah dari kekuasaan Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus ke Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, dan kemudian sempat pula di Samarra pada 836–883 M. Era ini berlangsung hingga sekitar 969 M, saat Dinasti Fatimiyah mulai menggantikan pengaruh Abbasiyah di Mesir dan sebagian Palestina.

Kota Pelabuhan yang Meredup

Di bawah Abbasiyah, pusat administrasi Jund Filastin (distrik militer Palestina) tetap berada di Ramla, kota yang dibangun pendahulu mereka dari Umayyah, bukan di Gaza. Gaza mempertahankan posisinya sebagai titik pertemuan jalur laut Mediterania dengan jalur kafilah gurun, namun mengalami penurunan ekspor anggur dan zaitun dibanding masa-masa sebelumnya — sebuah indikasi kemunduran kemakmuran relatif dibanding era Bizantium.

Meski begitu, Gaza tetap punya fungsi strategis dalam sistem pertahanan pesisir. Geograf Muslim al-Muqaddasi, yang menulis pada abad ke-10, mencatat rangkaian pos penjagaan pesisir (ribat) yang membentang dari Gaza hingga Arsuf, bagian dari jaringan pertahanan yang dibangun untuk mengantisipasi serangan Bizantium dari laut. Penelitian arkeologi terbaru tentang ribat Palestina menegaskan bahwa sistem ini memang berkembang di sepanjang pesisir sejak akhir era Umayyah dan berlanjut pada masa Abbasiyah.

Putra Gaza yang Mendunia

Kontribusi Gaza yang paling bertahan dari era ini bukanlah bangunan atau benteng, melainkan seorang manusia. Pada 150 H (767 M), Muhammad ibn Idris al-Syafi’i lahir di Gaza. Ayahnya adalah seorang prajurit yang bertugas di garnisun Gaza, sementara ibunya berasal dari suku Azdi di Yaman. Sang ayah meninggal ketika al-Syafi’i masih kanak-kanak, dan ibunya membawanya pindah ke Makkah agar dibesarkan di tengah kerabat dari klan Quraisy, Bani Muththalib.

Al-Syafi’i kelak menjadi pendiri mazhab Syafi’i, salah satu dari empat mazhab besar fikih Sunni yang hingga kini dianut mayoritas Muslim di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ia sempat berguru pada Imam Malik ibn Anas di Madinah, bekerja di pemerintahan Yaman, diadili di hadapan Khalifah Harun al-Rasyid di Baghdad, dan akhirnya wafat di Fustat, Mesir, pada 204 H (820 M). Sejumlah sumber turut mencatat bahwa Gaza pada abad ke-8 berkembang menjadi salah satu pusat penulisan hukum Islam, meski detail lembaga atau tokoh spesifik di baliknya belum terdokumentasi secara luas dalam literatur akademik yang tersedia.

Komunitas yang Hidup Berdampingan

Penaklukan Muslim atas Gaza pada abad ke-7 tidak mengusir penduduk Yahudi dan Kristen yang telah lama menetap di sana. Di bawah status dzimmi, komunitas-komunitas ini tetap diizinkan menjalankan ibadah dan kehidupan sosial mereka, dan permukiman Yahudi Gaza — yang kelak dikenal dengan sebutan Harat al-Yahud — terus bertahan hingga pertengahan abad ke-11.

Bukti keberlangsungan ini tersimpan dalam dokumen-dokumen Geniza Kairo, koleksi manuskrip Yahudi abad pertengahan yang ditemukan di Mesir. Sejumlah dokumen dari awal abad ke-9 memuat korespondensi antara para pemuka agama Yahudi di Gaza dan di Fustat, termasuk surat-surat yang membahas sengketa warisan. Salah satu tokoh yang tercatat berasal dari Gaza, Ephraim ben Shemariah al-Azati, kelak menjadi pemimpin komunitas Yahudi di Fustat pada abad ke-11 — jejak hubungan intelektual dan sosial yang bertahan lintas generasi.

Keretakan Kekuasaan dan Akhir Era

Kestabilan Abbasiyah di Palestina mulai retak pada paruh kedua abad ke-9. Pada 868 M, Ahmad ibn Tulun, gubernur Mesir, memisahkan diri dari Baghdad dan mendirikan Dinasti Tuluniyah yang turut menguasai Palestina, termasuk Gaza, hingga 905 M. Abbasiyah sempat merebut kembali wilayah ini pada 905–906 M, namun stabilitas tidak bertahan lama.

Antara 903–906 M, kaum Qarmati — sekte Syiah Ismailiyah yang bersifat militan — melancarkan serangkaian pemberontakan yang merusak wilayah Palestina, termasuk kemungkinan menyentuh Gaza mengingat posisinya di jalur utama menuju Mesir. Pada 935 M, Abbasiyah menyerahkan kendali otonom Mesir dan Palestina kepada Muhammad ibn Tughj al-Ikhshid, yang mendirikan Dinasti Ikhshidiyah dan memerintah hingga 969 M — tahun ketika Dinasti Fatimiyah Syiah merebut Mesir dan mulai memperluas pengaruhnya ke Palestina, termasuk Gaza, secara bertahap dalam dekade berikutnya.

Warisan yang Tersisa

Tiga abad kekuasaan Abbasiyah tidak meninggalkan monumen besar di Gaza sebagaimana era-era lain dalam sejarah kota ini. Yang tersisa justru berupa jejak manusia dan institusi: seorang ulama besar yang lahir dari keluarga prajurit sederhana, komunitas lintas agama yang bertahan di tengah pergantian penguasa, dan sebuah kota pelabuhan yang tetap berfungsi meski kehilangan sebagian kejayaan ekonominya.

Warisan al-Syafi’i, misalnya, masih hidup dalam praktik keagamaan jutaan Muslim hingga hari ini — sebuah pengingat bahwa sejarah intelektual Gaza jauh lebih tua dan lebih luas dari sekadar catatan konflik yang mendominasi pemberitaan tentang kota ini pada masa kini.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini