HomeBeritaEskalasi Meluas: Arab Saudi Gabung AS Serang Irak, Iran Bidik Pangkalan Amerika...

Eskalasi Meluas: Arab Saudi Gabung AS Serang Irak, Iran Bidik Pangkalan Amerika di Yordania

BAGHDAD – Tentara Amerika Serikat pada Rabu (29/7) dini hari berhasil mencegat rudal-rudal Iran dan bekerjasama dengan Arab Saudi menyerang sejumlah lokasi yang didukung milisi Iran di Irak. Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menyerang pangkalan militer Amerika di Yordania, laporan Al Jazeera Net.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menegaskan seluruh rudal Iran yang ditembakkan ke arah pasukan AS di Timur Tengah berhasil dicegat. CENTCOM menambahkan pihaknya tetap waspada dan berada dalam kondisi siaga maksimum, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai peluncuran rudal tersebut.

Dalam pernyataan lain, Amerika Serikat dan Arab Saudi mengumumkan pelaksanaan serangan bersama di Irak yang menargetkan lokasi kelompok bersenjata pro-Iran sebagai respons atas puluhan serangan Garda Revolusi Iran dalam beberapa jam terakhir.

Pasukan Amerika memperingatkan setiap serangan lanjutan terhadap personel AS atau infrastruktur energi Arab Saudi dapat memicu tindakan balasan lebih lanjut.

Eskalasi ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran sempat mengalami masa tenang, di mana kedua pihak tidak mengumumkan adanya serangan selama beberapa hari. Masa tenang itu terjadi sekitar dua pekan setelah eskalasi yang mencakup serangan udara malam hari AS terhadap sejumlah lokasi di Iran, terutama di wilayah selatan, serta serangan Teheran terhadap beberapa negara di kawasan, termasuk Yordania yang menyebabkan tewasnya sejumlah tentara Amerika.

Keterlibatan Arab Saudi

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan serangan tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dengan Komando Pusat Amerika Serikat untuk mentarget milisi Irak yang terkait dengan serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi.

Pernyataan itu menambahkan, “Kami menegaskan tidak menginginkan eskalasi, tetapi akan merespons setiap agresi yang ditujukan ke kami’’.

Setelah serangan tersebut, Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak (Hashd al-Shaabi) mengumumkan sejumlah markas mereka di berbagai wilayah Irak diserang, termasuk di Provinsi Niniwe di utara dan Basra di selatan. Sumber keamanan Irak mengatakan kepada Al Jazeera serangan udara juga menghantam Kamp al-Fath al-Mubin di Provinsi Wasith, Irak selatan.

Hashd al-Shaabi juga mengumumkan sedikitnya 20 orang tewas dan 32 lainnya terluka dalam angka korban sementara akibat serangan terhadap sejumlah markas mereka di beberapa provinsi Irak.

Pada Rabu pagi, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi memerintahkan digelarnya rapat darurat Dewan Menteri Keamanan Nasional menyusul serangan Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Sehari sebelumnya, Selasa, Arab Saudi mengumumkan telah menembak jatuh pesawat nirawak yang diluncurkan oleh “milisi yang didukung Iran di Irak” untuk hari kedua berturut-turut. Pada saat yang sama, kelompok Houthi mengklaim telah memaksa sebuah kapal tanker minyak Saudi berbalik arah sebagai bagian dari apa yang mereka sebut “pengepungan terhadap Kerajaan.”

Perdana Menteri Irak saat itu memerintahkan aparat keamanan menyelidiki serangan yang diumumkan Arab Saudi pada Senin. Tentara Irak menegaskan komitmen negaranya untuk mencegah penggunaan wilayah Irak sebagai titik peluncuran maupun jalur bagi serangan terhadap negara-negara sahabat.

Namun, kelompok-kelompok bersenjata Irak membantah terlibat dalam serangan drone yang menargetkan Arab Saudi.

“Perlawanan Islam di Irak”, sebuah aliansi yang terdiri dari beberapa kelompok bersenjata, mengisyaratkan  serangan pada Senin dilakukan oleh kelompok Houthi yang sebelumnya telah mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

Dalam konteks ini, televisi Iran mengutip seorang pejabat militer yang mengatakan, “Kami tidak memiliki hubungan dengan proyektil apa pun yang ditembakkan dari negara lain menuju sasaran di Arab Saudi.” Ia menambahkan  “mengaitkan setiap tindakan terhadap kepentingan Amerika di kawasan dengan Iran merupakan kesalahan perhitungan.”

Serangan ke Yordania

Menurut seorang pejabat Amerika yang dikutip Associated Press, Iran pada malam sebelumnya melancarkan serangan rudal balistik, tanpa menjelaskan rinciannya, sebelum pasukan Amerika Serikat dan Arab Saudi melaksanakan serangan udara di Irak. Pejabat itu menegaskan kedua peristiwa tersebut tidak saling berkaitan.

Namun, situs Axios mengutip seorang pejabat AS yang menyatakan  Iran meluncurkan rudal-rudal balistik ke arah “pangkalan militer Amerika” di Yordania, dan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat.

Sementara itu, militer Yordania mengumumkan telah menembak jatuh lima rudal Iran yang mengarah ke wilayah kerajaan, tanpa menjelaskan lokasi sasaran. Sebelumnya, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang “pangkalan udara militer Amerika di Yordania” menggunakan beberapa rudal balistik.

Garda Revolusi juga mengancam akan melanjutkan serangan “jika ancaman dan pergerakan pasukan Amerika terhadap kepentingan Iran terus berlanjut.”

Pada Selasa, militer Yordania mengumumkan  selama Juli pihaknya telah mencegat 70 rudal balistik Iran dan 25 drone yang berasal dari wilayah Iran. Mereka juga menyebut berhasil mencegat sejumlah drone lain tanpa mengungkap asalnya.

Koresponden Al Jazeera, Tamer al-Samadi, mengutip sumber yang menyatakan  drone yang tidak disebutkan asalnya oleh militer Yordania sebenarnya berasal dari Irak dan diluncurkan oleh kelompok-kelompok bersenjata Irak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin menyatakan  Washington telah menghentikan serangan terhadap Iran sejak Jumat malam—setelah berlangsung sekitar dua pekan—untuk memberi kesempatan terbatas bagi jalur diplomasi atas dorongan para mediator. Namun, Teheran saat itu menegaskan  mereka “tidak sedang bernegosiasi dengan Washington.”

Iran dan Amerika Serikat kembali melanjutkan serangan pada 7 Juli setelah upaya diplomatik runtuh akibat masih adanya perbedaan pandangan mengenai kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Perang Semakin Meluas

Gelombang eskalasi terbaru ini menunjukkan meluasnya cakupan konfrontasi serta bertambahnya jumlah pihak yang terlibat. Arab Saudi yang sebelumnya hanya mencegat drone yang menyerang fasilitasnya kini ikut serta dalam operasi pengeboman di wilayah Irak bersama Amerika Serikat.

Eskalasi ini juga menempatkan pemerintah Irak di bawah tekanan untuk memenuhi komitmennya mencegah wilayahnya digunakan sebagai basis serangan terhadap negara-negara kawasan, di tengah upaya membatasi kepemilikan senjata hanya di tangan negara. Di sisi lain, kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Teheran tetap membantah bertanggung jawab atas serangan ke Arab Saudi.

Pakar militer Kolonel Nidal Abu Zaid mengatakan kepada Al Jazeera  sebaran serangan Amerika Serikat dan Arab Saudi dari Basra, Wasit hingga Niniwe menunjukkan operasi berskala luas yang menargetkan infrastruktur kelompok-kelompok bersenjata yang masih mempertahankan persenjataan mereka. Tujuannya adalah melumpuhkan kemampuan mereka meluncurkan drone serta mengancam pangkalan militer dan fasilitas strategis di kawasan.

Ia menilai Iran memanfaatkan kelompok-kelompok bersenjata tersebut—yang masih menyimpan senjata di Irak di luar kendali pemerintah—untuk memberikan tekanan kepada Arab Saudi serta menghambat hubungan Irak dengan negara-negara Arab, sementara Perdana Menteri Irak yang baru berupaya menjaga hubungan yang seimbang dengan Teheran maupun Washington.

Dari sisi militer, eskalasi terbaru ini juga meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan udara Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan. Associated Press sebelumnya mengutip analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang menyebut  pertempuran terakhir melawan Iran telah menguras sebagian besar stok rudal pencegat Patriot dan THAAD milik Amerika Serikat.

Laporan tersebut menyebutkan  jika serangan terus berlanjut, militer Amerika Serikat mungkin terpaksa membatasi penggunaan rudal pencegat atau menerima tingkat risiko yang lebih tinggi dalam menentukan proyektil mana yang harus dicegat.

 

ARTIKEL TERKAIT

Terkini