Ramallah, Otoritas Kepresidenan Palestina menilai meningkatnya aksi pasukan dan pemukim Israel di Tepi Barat semakin mengancam prospek perdamaian dan stabilitas kawasan.
Juru Bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh, Jumat (14/8), mengecam sejumlah insiden terbaru di Kota Qusra, Kegubernuran Nablus.
Ia menyoroti serangan terhadap warga, pengepungan keluarga Palestina, hingga upaya pendirian pos permukiman di atas tanah milik warga Palestina.
Palestina Desak Dewan Keamanan PBB Bertindak
Rudeineh mengatakan tindakan pasukan dan pemukim Israel tidak hanya berdampak terhadap keselamatan warga Palestina, tetapi juga mempersempit peluang terciptanya perdamaian.
Ia meminta masyarakat internasional, terutama Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), menjalankan tanggung jawabnya dengan mendesak Israel menghentikan apa yang disebutnya sebagai agresi terhadap warga Palestina.
Pernyataan tersebut dikutip kantor berita resmi Palestina, WAFA.
Situasi di sejumlah wilayah Tepi Barat kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan mengenai pengepungan terhadap keluarga Palestina di kawasan Ras al-Ain, Qusra, sebelah selatan Nablus.
Tiga Rumah Dikepung Selama Sepekan
Sumber-sumber Palestina melaporkan pasukan Israel pada Jumat menghalangi sejumlah aktivis asal Israel dan mancanegara yang hendak mendekati tiga rumah warga.
Ketiga rumah tersebut dilaporkan telah dikepung kelompok pemukim selama sekitar satu pekan. Sekitar 15 warga Palestina, termasuk dua anak-anak, tinggal di lokasi tersebut.
Menurut sumber Palestina, kondisi kemanusiaan para penghuni rumah memprihatinkan karena akses terhadap sejumlah kebutuhan dasar dibatasi.
Pengepungan tersebut menambah kekhawatiran mengenai kondisi warga sipil Palestina di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat.


