GAZA CITY — Serangan udara Israel menghantam sebuah gedung hunian di kawasan al-Sabra, Gaza City, pada Jumat (9/10/2026), menewaskan sejumlah orang, termasuk anak-anak yang sedang tidur, menurut laporan Al Jazeera. Serangan terjadi hampir setahun setelah gencatan senjata berlaku di Gaza pada 10 Oktober 2025.
Jumlah pasti korban tewas dan luka belum dapat diverifikasi dari sumber yang tersedia saat berita ini ditulis. Identitas korban juga belum dirilis. Redaksi belum menemukan pernyataan militer Israel mengenai target atau alasan serangan tersebut.
Eskalasi di tengah gencatan senjata
Menurut Al Jazeera, lebih dari 1.400 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025. Angka itu sejalan dengan tren yang tercatat sebelumnya: Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 1.005 korban tewas pada pertengahan Juni dan 1.168 pada 21 Juli 2026. PBB menilai data kementerian tersebut dapat diandalkan.
Serangan serupa terjadi sepekan sebelumnya. Pada Sabtu (3/10), serangan udara menghantam gedung al-Asala di kawasan Remal, Gaza City, dan menewaskan sedikitnya lima orang, menurut Pertahanan Sipil Gaza dan staf Rumah Sakit al-Shifa. Militer Israel menyatakan serangan itu menyasar Ali al-Amoudi, yang disebutnya wakil ketua biro politik Hamas di Gaza, dan menyebut apartemen tersebut “digunakan Hamas”.
Fase kedua yang belum berjalan
Gencatan senjata disepakati dalam kerangka rencana perdamaian yang didukung Amerika Serikat. Pada awal Agustus, Board of Peace dan Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan untuk menjalankan tahap berikutnya. Menurut Board of Peace, Hamas menerima peta jalan yang terperinci.
Otoritas Palestina menilai kesepakatan itu masih “di atas kertas” selama serangan Israel berlanjut. Pada 2 Agustus, setidaknya 18 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan di Gaza, menurut laporan Tribune.
Kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata. Militer Israel menyebut lima prajuritnya tewas selama masa gencatan senjata hingga Juni 2026, menurut laporan AFP.
Kondisi kemanusiaan
Al Jazeera pada 7 Oktober melaporkan kamp-kamp tenda pengungsi terus meluas di Gaza City. Otoritas Palestina menyebut lebih dari 90 persen wilayah Gaza hancur.
AFP mencatat pembatasan terhadap media dan akses terbatas ke Gaza membuat angka korban tidak dapat diverifikasi secara independen.
Sumber: Al Jazeera (9/10/2026, 3/10/2026, 7/10/2026); AFP via Arab News (7/6/2026); AP via Inquirer dan NPR (14 dan 17/6/2026); Ahram Online/AFP (21/7/2026); Tribune (Agustus 2026)


