Artikel Indeks

Adakah yang Pantas Kita Sombongkan?

Sombong, bisa hinggap kepada siapa saja. Tak perduli orang awam, alim, dosen, doktor, professor, ustad, ulama atau pun kiai. Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar, ketiganya hampir semakna, merupakan suatu kondisi dimana seseorang merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

Orang sombong, maka dia merasa segala bisa. Tak ada seorang pun yang mampu menyamainya. Ia akan kecewa, sakit hati dan marah jika ada orang lain yang melebihinya dalam segala bidang. Selain itu, orang sombong adalah orang yang terkumpul padanya segala macam sifat buruk. Karena itu, orang yang sombong di mata Allah Swt kelak akan ditempatkan di tempat “terbaik” yakni neraka !

Tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempurnaan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:

Pertama, sombong karena ilmu. Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasa dirinya yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka (umat). Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

Biasanya, ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya antara lain; pertama, ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukan ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan membuat seseorang semakin kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya.

Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala,

 إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَائُوْا، إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ .٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28).

KeduaAl-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak terkalahkan karena ilmu yang dimilikinya. Orang semacam ini selayaknya lebih dulu memperbaiki hati dan jiwa, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus.

Karena sekali lagi yang menjadi ciri khas dari sebuah ilmu adalah ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

Orang, bila senang mengumbar omongan, berbantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

Kedua, sombong karena amal ibadah. Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, atau paling tidak membuat kesan, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

Sebagian ahli ibadah bila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka kadang dia mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan sumpah serapah semacam itu sangat dimurkai Allah, bahkan bisa jadi malah justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka, nauzubillah min dzalik.

Ketiga, sombong karena keturunan (Nasab). Siapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu. Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah ini, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. 32:7-8)

Inilah nasab manusia yang sebenarnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat adalahnuthfah alias air mani. Jika demikian keadaannya, laku bagaimana mungkin manusia merasa sombong dan tinggi dengan  nasabnya? Bukankah nasabnya yang terjauh diciptakan dari tanah? Sementara nasabnya yang terdekat diciptakan dari air mani yang hina dina? Sungguh tak tahu diri bila masih ada orang yang sombong dengan keturunannya.

Keempat, sombong karena kecantikan/ketampanan. Ada juga orang yang sombong karena merasa cantik/tampan. Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama. Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak melihat ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangainya buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak berbekas.

Belum lagi kalau orang mau merenungi, selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya ia mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang bisa menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

Kelima, sombong karena harta. Sebagaimana diketahui, orang yang sombong karena hartanya sebenarnya dia adalah orang yang bodoh, dungu dan tak berakal. Ia tak sadar setiap manusia yang terlahir ke dunia ini tak membawa benang sehelai pun. Lalu, karena kemahabesaran Allah semata dia diberi pakaian dan akal yang sehat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Orang yang sombong karena merasa banyak harta biasanya senang memandang rendah orang fakir dan sering membenci mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupakan potensi pribadi orang yang bersangkutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga bila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

Keenam, sombong karena kekuatan dan kegagahan. Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

Ketujuh, sombong karena banyaknya keluarga, kerabat atau pengikut. Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Setiap orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagaimana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebihan dirinya?

Saudaraku, apa sebenarnya yang patut kita sombongkan? Bukankah kita tahu asal kejadian kta hanya dari setetes air mani yang keji? Bukankah kta tahu satu uban yang tumbuh di atas kepala kita, tak akan pernah mampu kita menahannya? Bukankah kita ini fakir? Sekali lagi, mari menjadi pribadi-pribadi yang penuh tawadhu (rendah hati). Jangan sombong sebab kita pasti akan menjumpai kematian. Tidak ada manusia sombong di muka bumi ini lalu dia akan hidup selamanya.(BA)