Al-Quds dan Pertempuran Eksistensi

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Kepala Akademi Wakaf dan Warisan Al-Aqsa, Sheikh Najeh Bakirat, menegaskan bahwa Al-Quds kini sedang bergerak menuju “pertempuran kritis.”

Bakirat mengatakan: “Penjajah Israel tidak mampu menyelesaikan kota tua Al-Quds yang diduduki secara demografis atau visual hadapi ketabahan dan ketangguhan warga Al-Quds.”

Bakirat menjelaskan bahwa Al-Quds adalah tujuan kemenangan, dan siapa pun yang memenangkannya adalah Mansour (dialah pemenangya). Al-Quds adalah ibu kota abadi rakyat Palestina, jiwa bangsa yang merupakan pintu gerbang para nabi menuju surga.

Kini Al-Quds menjadi sasaran penghancuran bangunan di sekitarnya, karena penjajah “Israel” berusaha menciptakan visi visual dan pemandangan baru di mana tidak ada kubah, menara, rumah wakaf Islam, atau gereja Kristen yang akan muncul di sana.

Konflik atas resolusi arsitektur dengan nyata menjelaskan watak para pemimpin pemukiman ilegal “Yahudi” dengan entitas rasisnya untuk me-Yudaisasi-kan Kota Suci Al-Quds.

“Pemukim ilegal tidak mampu menyelesaikan konsep pencaplokan peta mereka , karena warga Al-Quds masih melestarikan realitas arsitektur Arab, meskipun eksistensi masyarakat sekitar mulai terpinggirkan karena intimidasi penjajah, namun kita masih bisa melihat menara dan rumah-rumah berbudaya Arab berdiri kokoh.” Bakirat berkata.

Konflik di lingkungan Sheikh Jarrah tidak hanya tentang keberadaan manusia. “Otoritas penjajah ingin mengalihkan kepemilikan rumah warga Palestina kepada para ekstremis, kemudian menghancurkannya dan membangun menara dan pos-pos pemukiman ilegal “Yahudi”. Pertama, mereka merebut tanah dan kemudian mulai membangun gedung ilegal.”

Dia melanjutkan dengan mengatakan: “Sejak 1967, otoritas menghabiskan 30 miliar dolar AS bangunan arsitektur untuk menciptakan visi visual Yahudisasi, hingga kini rencana itu tidak berhasil karena melawan ketabahan warga para pejuang Al-Quds.”

Al-Quds merupakan kota penuh sejarah, karena di dalamnya terdapat arsitektur, bangunan, ligamen, sabil, gerbang, Masjid Al-Aqsha, dan harmoni hubungan Islam-Kristen.

Mengenai kehadiran warga Al-Quds, otoritas penjajah melancarkan perang terhadap warganya. Menurut Bakirat penjajah bekerja untuk menghancurkan Kota Tua dimulai dari ekonominya dengan memerangi pedagang, mengosongkan pendidikan dengan melecehkan, intimidasi dan menindas siswa, dan mengubah gerbang kota menjadi sinagoga, taman kanak-kanak pemukim ilegal dan penjara milik penjajah “Israel”. Pungkas Bakirat  []