Opinions Politics Regional

Bennett Hentikan Program Netanyahu, Kembalikan Bashar al-Assad ke Liga Arab?

GAZAMEDIA, – Surat kabar Ibrani, “Israel Hayom” edisi hari Ahad (3/4/2022) mengungkapkan, Perdana Menteri “Israel”, Naftali Bennett baru-baru ini menghentikan inisiatif regional semangat PM pendahulu, Benjamin Netanyahu dengan berencana membawa Presiden Suriah, Bashar al-Assad dan rezimnya ke Liga Arab.

Menurut surat kabar itu, gagasan inisiatif didasarkan pada rekonsiliasi internasional setelah kemenangan al-Assad dalam perang internal, yang berimbas pada penarikan pasukan Iran dari Suriah.

Klaim inisiatif itu dimunculkan pertama kali oleh “Israel” setelah pertemuan puncak diadakan tiga tahun lalu di Al-Quds yang menghadirkan delegasi Amerika Serikat dan Rusia.

Inisiatif ini didasarkan pada beberapa hal. Pertama, Assad meminta semua pasukan asing yang memasuki Suriah pada tahun 2011 untuk meninggalkan negaranya dengan alasan tidak lagi diperlukan. Kedua, mengembalikan Suriah ke Liga Arab. Ketiga, negara-negara Teluk -terutama UEA- diharap berinvestasi bantu ekonomi Suriah, bukan Iran.

Perdana Menteri “Israel” saat itu, Benjamin Netanyahu merestui inisiatif ini. Kemudian Ben-Shabbat , Penasihat Keamanan dan Kepala Staf Keamanan Nasional “Israel” mendorong negara Arab yang memiliki hubungan dengan “Israel” – termasuk kawasan Arab Teluk- dan Yordania untuk menyetujuinya.

Tujuan utama mereka adalah membebaskan diri dari beban berat jutaan pengungsi Suriah yang tersebar di beberapa negara. Mesir-pun juga mendorong inisiatif ini. Namun, “Israel” dalam hal ini tidak menghubungi pihak Assad menanyakan persetujuan inisiatif tersebut.

Surat kabar “Hayom” melanjutkan: “Dengan berakhirnya perang saudara di Suriah, “Israel” menyadari pada saat itu pemerintahan Assad harus menerima keadaan (fait accompli) yang hanya dapat dukungan internasional dari Rusia.

Sistem politik yang disebut majalah Time dengan ‘Rekonsiliasi dengan Assad Mendorong Iran Keluar dari Suriah’ adalah hasil terbaik yang mungkin dilakukan. Namun sebagai akibat dari pemilihan ulang pentas politik kampanye di “Israel” serta perubahan pemerintahan Washington dan Tel Aviv, inisiatif tersebut dibekukan”.

 

Adapun Kepala Dewan Keamanan Nasional “Israel” saat ini, Eyal Kholta menerima pembaruan dari pendahulunya, Ben Shabbat tentang inisiatif tersebut. Di lain sisi, pihak Bennett memutuskan untuk tidak mempromosikannya.

Akhir-akhir ini, Bennet  mengangkat masalah itu selama pertemuan KTT di Sharm El-Sheikh, Mesir dua minggu lalu. Selain pembahasan Tripartit; forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur pemerintahahan, Bennett, Presiden Mesir, Abdel Fattah El-Sisi dan Putra Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed disinyalir turut menyinggung tentang Assad dan menjadi perhatian mereka.

Bennett menawarkan posisi netral terhadap Assad, dan tidak menentang kemungkinan Suriah dikembalikan ke Liga Arab. Ia percaya bahwa Assad tidak dapat mengusir orang-orang Iran dari negaranya, dan karena itu inisiatif akhirnya menjadi sia-sia.

“Hayom” juga memberitakan, bahwa Bin Zayed saat ini memimpin langkah mengembalikan Suriah ke Liga Arab. Dengan demikian UEA memberikan tekanan pada semua pihak melihat Assad sebagai satu-satunya alternatif yang tersisa untuk memimpin Suriah, tidak ada figur lain karena semua alternatif lebih buruk daripada dia. [ml/as/ofr]