Artikel Indeks Palestina

Lembaga HAM: 50 Persen Lebih Warga di Jalur Gaza Hidup Miskin

GAZAMEDIA, PALESTINA – Pegiat Hak Asasi Manusia dari Euro-Mediterania merilis hasil risetnya bahwa sekitar satu setengah juta orang dari populasi penduduk di Jalur Gaza, Palestina yang berjumlah 2,3 juta merupakan orang yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Pemiskinan terhadap warga di Jalur Gaza tersebut terjadi lantaran tindakan aksi blokade yang dilakukan oleh otoritas Israel dan pembatasan ruang gerak sejak 2006 silam.

Dalam laporan tahunannya yang dikeluarkan pada hari Selasa (25/1), Euro-Med Monitor mendokumentasikan efek mengerikan dari blokade jangka panjang di berbagai tingkatan, terutama di sektor sosial, ekonomi dan kemanusiaan, yang juga diperburuk oleh serangan militer berulang di Jalur Gaza, terakhir kali agresi Mei 2021 lalu.

Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan

Menurut laporan tersebut, tingkat pengangguran sebelum pemberlakuan blokade pada tahun 2005 adalah sekitar 23,6%, sedangkan pada akhir tahun 2021 mencapai 50,2%, termasuk di antara tingkat pengangguran tertinggi di dunia.

Tingkat kemiskinan telah meningkat secara tajam akibat dari blokade Israel yang berkepanjangan, melonjak dari 40% pada tahun 2005 menjadi 69% di tahun 2021.

Ekonomi yang Hancur dan Penyeberangan Tertutup

Laporan tersebut meninjau keadaan keruntuhan yang disaksikan oleh tahun-tahun pengepungan, ketika ekonomi Gaza memasuki keadaan stagnasi sejak awal pengepungan, dan Jalur Gaza menyaksikan hampir semua penutupan total penyeberangan komersial, yang melumpuhkan pergerakan ekonomi, terutama selama periode ketika pasukan ‘Israel’ melancarkan serangan militer di Jalur Gaza, menyebabkan PDB per kapita menyusut sebesar 27%.

Sistem Kesehatan yang Memburuk

Menurut laporan tersebut, sektor kesehatan merupakan salah satu sektor yang paling terkena dampak blokade ‘Israel’ karena layanan kesehatan berhubungan langsung dengan tingkat kesehatan penduduk. Penjajah sengaja mencegah atau membatasi masuknya obat-obatan dan perbekalan kesehatan ke Gaza, yang menyebabkan penurunan 66% dalam layanan perawatan kesehatan di Gaza.

Menutup Penyeberangan di Sekitar Gaza Sebagai Bentuk Penjara Terbesar di Dunia

Laporan tersebut menunjukkan bahwa penjajah ‘Israel’ masih mengizinkan sejumlah kecil – kebanyakan kasus kemanusiaan – untuk bergerak melalui pos pemeriksaan “Erez”, yang merupakan satu-satunya penghalang ‘Israel’ yang ditunjuk sebagai pintu masuk dan keluar para individu ke dan dari Jalur Gaza.

Ia menjelaskan, rata-rata bulanan warga Palestina yang dapat keluar dari perlintasan ini (Erez) sekitar 30.000 kasus, sedangkan pada tahun 2021, rata-rata per bulan warga yang boleh keluar hanya mencapai sekitar 8.954 kasus, yakni turun sekitar 70% dibandingkan dengan laju pemberlakuan blokade sebelum tahun 2006.

Sementara perlintasan Rafah juga mengalami peningkatan signifikan dalam pergerakan hilir mudik baik yang keluar maupun masuk dari Jalur Gaza selama tahun 2021, tercatat peningkatan per bulan baik yang masuk maupun keluar menjadi sekitar 15.000 kasus untuk pertama kalinya sejak 2013.

Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania meminta penjajah Israel untuk mengakhiri pengepungannya dan mengizinkan warga Palestina untuk menggunakan semua hak mereka, terutama kebebasan bergerak, dan berhenti menggunakan kebijakan hukuman kolektif terhadap warga sipil.

Euro-Med Monitor meminta masyarakat internasional untuk memaksa Israel agar menghadirkan hak-hak semua penduduk Jalur Gaza sesuai dengan norma-norma internasional yang relevan, termasuk menetralisir ekonomi, kesehatan, makanan, infrastruktur dan lain-lain. []