Artikel

Israel Beri Izin Eksplorasi Gas di Wilayah Maritim Palestina

Gaza Media, Israel – Israel, yang telah membunuh puluhan ribu warga sipil Palestina dalam serangan dan penjajahan di Jalur Gaza, mengumumkan hasil tender yang diselenggarakannya untuk eksplorasi di perairan Palestina pada 29 Oktober tahun lalu, hanya beberapa hari setelah meningkatkan serangannya di Gaza.

Mereka memberikan izin kepada enam perusahaan Israel dan internasional untuk mengeksplorasi gas alam di wilayah yang termasuk dalam perbatasan maritim Palestina.

Memprotes aturan tersebut, pada tanggal 5 Februari, Adalah, Pusat Hukum untuk Perlindungan Hak-Hak Minoritas Arab di Israel, mengirimkan surat kepada Kementerian Energi Israel menuntut pembatalan izin eksplorasi gas yang dikeluarkan di wilayah tersebut.

Menindaklanjuti permintaan Adalah, Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan dan organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Ramallah, Al-Haq, bersama dengan Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR), juga mengeluarkan peringatan serupa kepada perusahaan pemegang izin untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah tersebut.

“Israel menggunakan kekuatan penjajahan di Jalur Gaza untuk melakukan kontrol atas wilayah maritim Palestina. Penerbitan tender dan pemberian izin eksplorasi di wilayah ini merupakan pelanggaran hukum kemanusiaan internasional,” kata Adalah dalam sebuah pernyataan.

“Tender tersebut, yang dikeluarkan sesuai dengan hukum domestik Israel, secara efektif merupakan aneksasi de facto dan de jure atas wilayah maritim Palestina, karena tender tersebut berupaya untuk menggantikan norma-norma hukum internasional yang berlaku dengan hukum domestik Israel terhadap wilayah tersebut dalam konteks pengelolaan dan eksploitasi sumber daya alam,” tambah Adalah.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa berdasarkan hukum internasional yang berlaku, Israel dilarang menggunakan sumber daya tak terbarukan yang terbatas di wilayah penjajahan untuk keuntungan komersial dan kepentingan kekuatan penjajah sesuai dengan aturan pemanfaatan hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 Peraturan Den Haag.

(Minggu, 18 Februari 2024)
(07.51)
_____

Source: Anadolu Agency
Writer/Translator: @nurlitas

Israel Beri Izin Eksplorasi Gas di Wilayah Maritim Palestina Read More »

Mungkinkah Terjadi Konfrontasi di Masjid Al Aqsa pada Bulan Suci Ramadan Tahun Ini?

Gaza Media, Palestina – Bulan suci Ramadan semakin dekat, pihak keamanan Israel mulai mempersiapkan diri untuk apa yang mereka anggap sebagai bulan paling sulit setiap tahunnya. Terlebih lagi, pada tahun ini, Ramadan datang di tengah-tengah perang yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.

Bagaimanapun juga, Ramadan akan tiba di pada situasi eskalasi dan permusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh kelompok pemukim ilegal dan ekstremis sayap kanan Israel menyusul peristiwa 7 Oktober, yang belum bisa diatasi atau ditangani oleh Israel hingga saat ini.

“Persiapan” Israel untuk Ramadan tahun ini menjadi hal paling sensitif sejak dimulainya penjajahan terhadap masjid suci pada tahun 1967. Namun, kita tahu dari pengalaman sebelumnya, bahwa ketika memasuki bulan suci Ramadan di Masjid Al-Aqsa, penjajah Israel biasanya menghadapi tantangan pada dua tingkatan.

Tingkatan pertama diwakili oleh para pemuda Al-Quds, biasanya juga bersama pemuda Palestina dari wilayah 1948 yang seharusnya dapat mengakses Masjid Al-Aqsa pada waktu-waktu lain dalam setahun karena mereka memegang kartu identitas Israel. Mereka seringkali menjadi beban keamanan terbesar bagi pihak keamanan Israel di masjid tersebut, terutama para pemuda Palestina dari Al-Quds, yang menganggap diri mereka selalu dalam konfrontasi dengan penjajah.

Warga Palestina di Tepi Barat biasanya tidak diizinkan mengakses Masjid Al-Aqsa kecuali selama Bulan Suci Ramadan. Mereka yang diperbolehkan beribadah adalah yang memiliki izin keamanan dan berusia tertentu, terutama pada hari Jumat. Satu-satunya masalah yang mereka timbulkan bagi pihak otoritas Israel adalah jumlah mereka yang besar dan pemuda Al-Quds seringkali memanfaatkan situasi tersebut.

Ketika jumlah orang di Masjid Al-Aqsa dibatasi, pihak keamanan Israel dapat mengendalikan masjid, mengontrol pergerakan, menghentikan gesekan atau bentrokan, dan membubarkan orang dengan mudah. Namun, peningkatan jumlah orang di dalam masjid dianggap sebagai tantangan keamanan utama karena polisi Israel tidak dapat mengontrol pergerakan orang secara efektif, seperti yang terjadi pada Ramadan di tahun 2021.

Sebuah kebocoran media menunjukkan bahwa ada perbedaan pendapat antara tentara dan polisi Israel mengenai izin bagi warga Palestina di Tepi Barat untuk mengakses Masjid Al-Aqsa selama bulan suci mendatang. Hal ini dilaporkan surat kabar Israel Yedioth Ahronoth beberapa hari yang lalu.

Menurut jurnalis Israel, Itamar Eichner, polisi penjajah yang berada di bawah kuasa Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir ingin menerapkan kebijakan “nol warga Palestina” dan mencegah semua penduduk Palestina di Tepi Barat yang dijajah memasuki kawasan Masjid Al-Aqsa selama bulan suci Ramadan. Namun, tentara Israel meyakini bahwa sejumlah warga Tepi Barat harus diizinkan mencapai Al-Aqsa untuk mengurangi tekanan kuat di wilayah Palestina yang dijajah.

Informasi ini dibocorkan dengan sengaja karena tujuannya jelas-jelas untuk membatasi akses penduduk Tepi Barat ke Al-Quds (Yerusalem) pada tahun ini, meskipun ada klaim dari Yedioth Ahronoth mengenai ketidaksepakatan antara polisi dan tentara. Perbedaan pendapat ini bukan soal prinsipnya, tapi jumlah jamaahnya, yaitu haruskah Israel mengizinkan warga Tepi Barat yang jumlahnya sangat terbatas untuk beribadah di Al-Aqsa, atau melarang mereka semua beribadah di sana? Bocoran tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan warga Palestina apabila tidak diperbolehkan untuk beribadah di Masjid Al-Aqsa selama Ramadan.

Bulan suci umat Islam pada tahun ini bertepatan dengan sejumlah festival Yahudi yang biasanya menjadi alasan serbuan pemukim kolonial Israel dan pasukan keamanan mereka ke Masjid Al-Aqsa. Pertama adalah Purim, yang jatuh pada pertengahan Ramadan. Meskipun biasanya bulan ini bukan merupakan musim terjadinya serbuan besar-besaran, namun kenyataan bahwa Purim jatuh bertepatan dengan bulan Ramadan dan konteks agresi di Gaza menjadikan bulan ini semakin penting bagi kelompok Temple Mount Yahudi ekstremis, gerakan zionisme keagamaan sayap kanan sekaligus gerakan Kahanis neofasis, dengan Ben-Gvir menjadi salah satu pilar terpentingnya.

Ramadan dan musim festival Yahudi akan menjadi kesempatan untuk menampilkan kekuatan Ben-Gvir di Masjid Al-Aqsa, dan untuk menunjukkan kemampuannya dalam memaksakan kedaulatan Israel atas Tempat Suci umat Islam dengan cara yang bahkan Benjamin Netanyahu sendiri tidak mampu melakukannya. Mungkin ini akan menjadi kesempatan emas bagi Ben-Gvir untuk menampilkan dirinya sebagai pemimpin sayap kanan Israel, hal yang telah ia coba lakukan sejak pengangkatannya sebagai menteri, terutama ketika dimulainya genosida di Gaza.

Oleh karena itu, beberapa pekan ke depan akan menjadi waktu yang sangat penting, karena pemerintah sayap kanan Israel juga melakukan persiapan untuk hari raya Yahudi berikutnya, yaitu Pesach atau Paskah Yahudi yang jatuh setelah akhir bulan Ramadan. Kelompok ekstremis Temple Mount akan berupaya melakukan pengorbanan hewan di dalam Masjid Al-Aqsa dengan cara yang lebih serius dibandingkan dengan sebelumnya.

Tantangan utama yang dihadapi Israel adalah mengurangi jumlah umat Islam di Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan, sekaligus memungkinkan serangan Purim sedemikian rupa sehingga dianggap sukses. Jika semuanya berjalan sesuai rencana Israel, maka akan timbul keinginan untuk melakukan ritual pengorbanan hewan di dalam masjid, yang akan menjadi ritual keagamaan terakhir yang diperlukan untuk melakukan perubahan status quo di Al-Aqsa dengan mengubahnya menjadi sebuah kuil Yahudi.

Rencananya adalah dengan merebut sebagian Masjid Al-Aqsa sebagai langkah awal untuk mengubahnya menjadi kuil, atau dengan menguasai sepenuhnya setidaknya setengah dari area situs suci tersebut, situs tersuci ketiga di dunia Muslim. Israel telah bermimpi melakukan hal ini selama lebih dari 55 tahun, dan kelompok perlawanan sangat menyadari fakta ini.

Target tersebut menempatkan tanggung jawab besar atas Al-Aqsa di tangan warga Al-Quds dan rakyat Palestina di Tepi Barat, karena kemampuan Israel untuk melaksanakan rencana ini bergantung pada bagaimana mereka menghadapi larangan Israel dalam mengakses Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan, ketika keimanan dan praktik keagamaan pada umumnya berada pada titik terkuatnya.

Israel mengkhawatirkan peningkatan semangat ini, karena hal tersebut mendorong warga Palestina sepanjang Ramadan untuk mengintensifkan persiapan psikologis dan spiritual mereka dalam menentang tindakan Israel terhadap masjid suci. Israel tidak menginginkan hal ini, karena mereka tahu bahwa percikan besar apa pun di Yerusalem dapat memicu intifada baru atau mengarah pada perluasan perang di Gaza ke tingkat yang tidak dapat dibayangkan oleh Israel maupun sekutunya.

(Sabtu, 17 Februari 2024)
(22.55)
_____

Source: Middle East Monitor
Writer/Translator: @nurlitas

Mungkinkah Terjadi Konfrontasi di Masjid Al Aqsa pada Bulan Suci Ramadan Tahun Ini? Read More »

Warga Palestina kembali mencari tempat yang aman di tengah serangan Israel di Rafah

Gaza Media, Gaza – Ratusan warga Palestina melarikan diri dari kota Rafah paling selatan di Gaza setelah pasukan Israel menyerang daerah di mana setidaknya 1,4 juta warga Palestina berlindung.

Otoritas kesehatan Palestina mengatakan setidaknya 67 orang syahid dalam serangan pada hari Senin (12/2) setelah serangan Israel menghantam 14 rumah dan tiga masjid.

Meskipun ada seruan untuk menahan diri, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berbicara tentang melancarkan serangan darat di Rafah. Dengan adanya ancaman serangan lagi, banyak warga Palestina yang awalnya melarikan diri ke selatan menuju kota untuk mencari keselamatan. Kini melarikan diri kembali ke wilayah tengah.

Rafah di Gaza, hanya memilimi luas sekitar 64 km persegi (25 mil persegi), wilayah tersebut sangat padat sejak ratusan ribu warga sipil Palestina melarikan diri ke wilayah tersebut setelah tentara Israel menetapkan Kota Rafah sebagai “zona aman” dalam perang yang sedang berlangsung.

Lebih dari separuh penduduk Gaza kini memadati wilayah tersebut untuk menghindari pengeboban Israel. Sayangnya, Israel tidak pernah membiarkan warga Palestina untuk hidup dengan tenang.

Rawaa Abu Dayya, yang telah tujuh kali mengungsi bersama keluarganya sejak perang Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, termasuk di antara mereka yang baru-baru ini meninggalkan Rafah.

“Kami hidup dalam ketakutan yang luar biasa,” katanya kepada Al Jazeera. Keluarga tersebut berasal dari Beit Lahiya di utara Gaza, dan sekarang mendirikan tenda di Deir el-Balah di Gaza tengah.

“Tidak ada tempat yang aman. Tapi setidaknya kami merasa Deir el-Balah relatif aman saat ini. Ketakutan terbesar saya adalah kehilangan anggota keluarga saya, seseorang yang saya cintai dan sangat saya sayangi,” jelasnya.

(Rabu/14 Februari 2024)
(06.31)

________

Source: @aljazeeraenglish
Writer/translator: @sitisopiati

Warga Palestina kembali mencari tempat yang aman di tengah serangan Israel di Rafah Read More »

Afrika Selatan mengajukan permintaan mendesak kepada ICJ mengenai serangan Israel di Rafah

Gaza Media, Afrika Selatan – Pemerintah Afrika Selatan telah meminta Mahkamah Internasional (ICJ) untuk mempertimbangkan apakah rencana Israel untuk memperluas operasi di Rafah “mengharuskan pengadilan menggunakan kekukasaannya untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut terhadap hak-hak warga Palestina di Gaza”.

Dikatakan dalam pernyataannya bahwa “pengadilan dapat sewaktu-waktu memutuskan untuk memeriksa Proprio Motu apalah keadaan kasus tersebut memerlukan indikasi tindakan sementara yang harus diambil atau dipatuhi oleh salah satu atau semua pihak”.

Proprio Motu sendiri memiliki arti secara garis besar adalah kewenangan ‘inisiatif diri sendiri’ oleh jaksa yang digunakan untuk memulai investigasi atas kejahatan internasional yang menjadi yurisdiksi (berdasarkan hukum) Intenational Criminal Court (ICC), yakni genosida, kejahatan perang, kejahatan perang, dan kejahatan agresi tanpa adanya laporan terlebih dahulu. Hal ini dijelaskan rinci di pasal 5 Statuta Roma, (sumber : Google).

Pemerintah Afrika Selatan menambahkan bahwa pihaknya sangat prihatin bahwa serangan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rafah telah menyebabkan dan akan mengakibatkan pembunuhan, kerusakan, dan kehancuran dalam skala besar.

“Ini merupakan pelanggaran serius dan tidak dapat diperbaiki baik terhadap Konvensi Genosida maupun Perintah Peradilan tanggal 26 Januari 2024. Afrika Selatan percaya bahwa masalah ini akan menjadi genting mengingat jumlah kematian setiap harinya di Gaza”, tambahnya.

(Selasa/13 Februari 2024)
(11.23)

____

Source: @aljazeeraenglish
Writer/Translator: @nanaandriiana

Afrika Selatan mengajukan permintaan mendesak kepada ICJ mengenai serangan Israel di Rafah Read More »

Senat AS Mengesahkan bantuan Israel Senilai $14 miliar dan Meneruskannya ke Kongres

Gaza Media, Amerika Serikat – Senat AS yang dipimpin Demokrat hari ini mengesahkan paket bantuan $95,34 miliar untuk Ukraina, Israel, dan Taiwan, di tengah-tengah keraguan tentang nasib undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat yang dikendalikan oleh Republik, laporan Reuters.

Anggota parlemen menyetujui langkah tersebut dalam 70-29 suara yang melampaui batas 60 suara untuk pengesahan dan pengiriman undang-undang ke Dewan. Dua puluh dua partai Republik bergabung dengan sebagian besar Demokrat untuk mendukung RUU tersebut.

Undang-undang tersebut mencakup $61 miliar untuk Ukraina, $14 miliar untuk Israel, dan $4,83 miliar untuk mendukung mitra di Indo-Pasifik, termasuk Taiwan, dan mencegah agresif oleh Cina.

Ini juga akan memberikan $9,15 miliar bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di Gaza dan Tepi Barat, Ukraina, dan zona konflik lainnya di seluruh dunia.

(Selasa, 13 Februari 2024)
(21.36)
_____

Source: Middle East Monitor
Writer/Translator: @nurlitas

Senat AS Mengesahkan bantuan Israel Senilai $14 miliar dan Meneruskannya ke Kongres Read More »

‘Menunggu’ Kematian Sistem Kesehatan di Gaza Akibat Genosida Israel.

Gaza Media, Gaza – Pelayanan medis di seluruh Gaza terganggu oleh serangan Israel yang sengaja ditujukan kepada tenaga medis dan fasilitas medis. Dengan ancaman invasi darat ke Rafah, para profesional medis khawatir tentang bagaimana operasi darat tersebut akan semakin melemahkan sistem kesehatan yang sudah runtuh di daerah tersebut.

Jamal al-Hams, merupakan seorang dokter di Rumah Sakit Kuwait di Rafah, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan Israel terhadap kota di wilayah selatan akan menyebabkan penderitaan tak berujung bagi rakyat Palestina.

“Kami sangat menderita selama beberapa hari karena jumlah besar pengungsi dari daerah utara dan tengah Jalur Gaza menuju Rafah,” kata al-Hams.

“Kedua, kami memiliki sejumlah besar orang yang terluka dan pasien dengan penyakit kronis dan penyakit akut yang telah dikumpulkan dari seluruh Jalur Gaza ke Rafah. Kami menderita karena kekurangan peralatan medis dan obat-obatan. Sebagian besar antibiotik dan analgesik tidak tersedia.”

Selain itu, kepala WHO mengatakan rumah sakit di Rafah di Jalur Gaza kelebihan beban dan penuh sampai meluap. “Di bagian lain dari Jalur Gaza, sebagian besar rumah sakit minim atau tidak berfungsi,” tambahnya.

Sementara itu, di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, air limbah telah membanjiri bagian gawat darurat kompleks medis. Hal tersebut menghambat staf medis dalam memberikan perawatan medis dan menyelamatkan nyawa. Kementerian Kesehatan Palestina meminta perlindungan bagi staf teknis rumah sakit untuk memperbaiki jaringan air limbah di halaman medis. Namun, hal tersebut berujung tujuh orang syahid akibat ditembak mati oleh penembak jitu Israel dan 14 lainnya terluka.

Baik Rumah Sakit Al Nasser maupun Rumah Sakit Al Amal di Khan Younis telah berada di bawah pengepungan militer selama lebih dari dua minggu dan menjadi sasaran serangan Israel yang konstan. PRCS sekali lagi meminta masyarakat internasional untuk melindungi para staf kesehatan profesional setelah pasukan Israel membunuh dua paramedis PRCS dalam serangan udara saat mereka bertugas untuk menyelamatkan Hind Rajab, gadis berusia enam tahun, yang juga dibunuh oleh Israel beberapa meter dari tempat tersebut.

PRCS mengatakan, “Menurut hukum kemanusiaan internasional dan Konvensi Jenewa, penargetan langsung dan pembunuhan sengaja terhadap kru dan relawan PRCS dianggap sebagai kejahatan perang,” kata kelompok itu dalam pernyataan di X. “Para pihak yang menandatangani Konvensi Jenewa, berkewajiban untuk menegakkan penghormatan terhadap hukum kemanusiaan internasional dan harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menekan, menolak, dan menghukum pelaku,” kata PRCS.

Francesca Albanese, yang merupakan juru bicara PBB tentang Palestina, juga mengatakan bahwa eskalasi Israel di Gaza telah menyebabkan ratusan korban, lebih banyak kerusakan, dan pengungsian paksa, melanggar putusans sela yang Mahkamah Internasional berlakukan pada Israel, termasuk mengakhiri genosida dan meningkatkan pasokan bantuan kemanusiaan.

“Israel berkewajiban untuk mematuhi perintah pengadilan dan negara-negara harus bertindak secara tegas demi mencegah kejahatan lebih lanjut,” katanya.

(Selasa, 13 Februari 2024)
(21.20)
_____

Source: Mondoweiss
Writer/Translator: @nurlitas

‘Menunggu’ Kematian Sistem Kesehatan di Gaza Akibat Genosida Israel. Read More »

Gunakan Alasan Politik, Tentara Israel Merampok Bank Palestina di Gaza

Gaza Media, Gaza – Pasukan Israel telah menyita 200 juta shekel ($54,29 juta) dari markas besar Bank Palestina di Gaza dan langkah ini diambil sebagai keputusan politik.

Meskipun mencuri dari orang Palestina yang menjadi korban merupakan praktik umum olen tentara penjajah Israel, perampokan yang terjadi di kantor pusat Bank Palestina di Gaza ini berbeda, karena bermotivasi politik, kata tentara Israel.

Anadolu Agency, mengutip surat kabar Israel, Maariv, yang melaporkan bahwa pasukan Israel menyita 200 juta shekel ($54,29 juta) dari markas besar Bank Palestina di Gaza. Maariv mengacu pada perwira Israel, mengatakan pasukan militer telah mengambil dana yang dialokasikan untuk Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah.

Tidak ada komentar dari Otoritas Palestina atau Gerakan Perlawanan Palestina tentang laporan ini. Namun, tentara Israel membenarkan perampokan itu dengan logika yang unik.

“Pasukan Israel berada di markas besar Bank Palestina di Gaza minggu lalu untuk mencegah uang mencapai Hamas,” kata juru bicara militer Israel kepada Maariv, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Dia mengatakan langkah ini diambil sebagai tindakan politik.

Meskipun putusan sela telah dikeluarkan Mahkamah Internasional pada bulan lalu, Israel tetap melanjutkan serangannya terhadap Jalur Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sebanyak 28.340 warga sipil syahid, dan 67.984 orang lainnya terluka akibat genosida yang sedang berlangsung di Gaza sejak 7 Oktober 2023 hingga saat ini.

Selain itu, setidaknya 8.000 orang tidaj diketahui nasib dan keberadaanya, di duga syahid akibat tertimbun reruntuhan puing-puing bangunan rumah mereka di seluruh Jalur Gaza. Organisasi Palestina dan Internasional mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka yang syahid dan terluka dari kalangan perempuan dan anak-anak.

(Selasa, 13 Februari 2024)
(20.49)
_____

Source: Palestine Chronicle
Writer/Translator: @nurlitas

Gunakan Alasan Politik, Tentara Israel Merampok Bank Palestina di Gaza Read More »

Media Ibrani Mengungkapkan, Sebuah Rencana untuk Mengakhiri Perang dan Mencapai Tujuannya di Gaza

Gaza Media, Israel – Dua rencana untuk mengakhiri perang di Gaza sedang diklarifikasi di dewan perang penjajah Israel, mengklaim bahwa mereka akan mencapai tujuan Tel Aviv dalam perang ini, dan dalam jangka waktu yang dapat diterima oleh Tel Aviv, pemerintah Amerika, dan sekutu Arabnya, menurut apa yang dilansir situs Ynet pada Selasa.

Rencana pertama disusun oleh Perdana Menteri pemerintah penjajah, Benjamin Netanyahu, dan Menteri Urusan Strategis, Ron Dermer, dan rencana kedua disusun oleh Benny Gantz dan Gadi Eisenkot.

Situs web tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan besar antara kedua rencana tersebut, kecuali jadwalnya. Gantz dan Eisenkot juga sepakat untuk mengungkap isi rencana mereka dan membahasnya di dewan perang, sementara Netanyahu menunda pembahasan rencananya untuk mengantisipasi reaksi mitranya dari sayap kanan ekstrem, yang diwakili oleh Menteri Bezalel Smotrich dan Itamar Ben. Gvir, dan penarikan mereka dari pemerintah dan penggulingannya.

Netanyahu akan berusaha mengungkapkan rencananya untuk mengakhiri perang pada menit-menit terakhir, tetapi dia sedang melakukan negosiasi rahasia mengenai hal tersebut, melalui Dermer, dengan pemerintahan Biden, menurut “Ynet.”

Rencana Netanyahu bertujuan untuk “mencapai tujuan perang dan menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi,” dan dia bertaruh pada solusi militer dalam waktu singkat, menurut Ynet. Netanyahu ingin mencapai kesepakatan pertukaran tahanan sebelum bulan Ramadhan, namun kemungkinan besar hal tersebut tidak mungkin terjadi, setelah ia menolak tuntutan gerakan Hamas dalam kesepakatan tersebut.

Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yoav Galant mengharapkan ketegasan militer penuh terhadap Hamas, membunuh pemimpin Hamas di Jalur Gaza, Yahya Sinwar, dan memimpin gerakan tersebut atau menetralisirnya dengan mengendalikan Rafah, sebelum atau selama bulan Ramadhan.

Rencana Netanyahu mengklaim bahwa serangan militer terhadap Rafah, meskipun tidak mengarah pada pembunuhan Sinwar, akan membuat Hamas melunakkan posisinya dan memungkinkan terjadinya kesepakatan pertukaran tahanan. Hal ini juga akan memungkinkan Tel Aviv untuk mengambil keputusan mengenai “hari berikutnya”. ” setelah perang dari posisi yang kuat.

Ynet melanjutkan, “Netanyahu bertaruh pada solusi militer yang akan memberinya semua tujuan perang tanpa dipaksa untuk menyerah atau melakukan konfrontasi dengan mitra koalisinya mengenai harga pembebasan para tahanan.”

Netanyahu menyerukan kepada Kepala Staf tentara pendudukan, Herzi Halevy, “untuk mengakhiri penghancuran Hamas di Khan Yunis dan mulai mengambil kendali atas Rafah.” Sementara itu, Halevy mengatakan bahwa pertempuran di Khan Yunis akan berlanjut untuk periode lain, selain beberapa minggu, untuk melakukan evakuasi ke Rafah dari lebih dari 1,3 juta pengungsi Palestina yang mengungsi di sana. Hal ini juga membutuhkan kesepakatan dengan Mesir.

Diperkirakan Netanyahu akan mulai memaksakan rencananya pada bulan April atau Mei mendatang, dan sampai saat itu fase ketiga perang akan berakhir, dan transisi ke fase keempat – “Kontrol keamanan Israel di Jalur Gaza dari dalam wilayah pendudukan dan zona penyangga, dan ini akan menandai berakhirnya perang di sektor Selatan.

Netanyahu berharap pada saat itu akan tercapai kesepakatan untuk menormalisasi hubungan antara Tel Aviv dan Riyadh, dan sampai saat itu tercapai penyelesaian diplomatik yang akan menyingkirkan pasukan Hizbullah dari perbatasan Lebanon.

Mengenai rencana Gantz dan Eisenkot, rencana tersebut menetapkan “pencapaian kemenangan secara bertahap, termasuk gencatan senjata jangka panjang untuk melaksanakan kesepakatan pertukaran tahanan, membongkar kemampuan militer dan otoriter Hamas, dan mencapai keamanan bagi penduduk wilayah utara yang diduduki.” Menurut rencana ini, kesepakatan pertukaran tahanan “tidak ada harganya.”

Gantz dan Eisenkot percaya bahwa rencana mereka akan mengurangi tekanan terhadap Biden dari dalam dan luar Amerika Serikat, yang mengharuskan dia untuk memberikan tekanan pada Tel Aviv untuk menghentikan perang, dan agar presiden Amerika mengklaim bahwa perang akan berhenti pada bulan Juni mendatang. lima bulan sebelum pemilihan presiden.

Rencana ini memperhitungkan bahwa hal itu tidak akan dilaksanakan, dan bahwa perang akan berlanjut di semua lini di Tel Aviv, dan bahwa tentara harus bersiap menghadapi kemungkinan seperti itu.

Secara paralel, rencana ini mengusulkan untuk mulai menerapkan rencana Biden pasca perang: menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi, setelah Tel Aviv mengumumkan janji yang tidak jelas mengenai negosiasi pembentukan negara Palestina; Perjanjian pembiayaan rekonstruksi Gaza dalam kerangka perjanjian normalisasi; Terus membangun zona penyangga di Jalur Gaza dengan lebar 1.000 hingga 1.200 meter. Negosiasi mengenai penyelesaian diplomatik sebagai imbalan bagi Hizbullah untuk memindahkan pasukannya sejauh 8 hingga 10 kilometer dari perbatasan; Tel Aviv mempertahankan kebebasan bertindak untuk mempertahankan keamanannya melalui operasi militer dan intelijen di Jalur Gaza.

(Selasa, 13 Februari 2024)
(21.11)
_____

Source: Royanews
Writer/Translator: @kuntariaii

Media Ibrani Mengungkapkan, Sebuah Rencana untuk Mengakhiri Perang dan Mencapai Tujuannya di Gaza Read More »

Semua Mata Tertuju Pada Rafah

Gaza Media, Gaza – Saat ini kami sedang menyaksikan pembantaian masal didepan mata kami.

Israel membom Rafah yang berada di wilayah Gaza selatan. Saat ini Rafah menjadi tempat terpadat di bumi. Sekitar 1,4 juta lebih warga sipil Palestina telah berlindung di Rafah setelah dipaksa melarikan diri, mengungsi, mencari tempat yang katanya ‘aman’ di kota tersebut setelah tentara Israel membombardir wilayah Gaza utara, dan Khan Younis di Gaza selatan. Saat ini, tidak ada lagi tempat yang tersisa untuk pergi.

Serangan tersebut telah menewaskan setidaknya selusin anak-anak, dan dianggap sebagai pelopor invasi darat skala penuh yang direncanakan ke kota tersebut. Meskipun ada peringatan dari seluruh pemimpin di seluruh dunia, Netanyahu menegaskan, bahwa operasi diperlukan, dengan mengatakan bahwa “kemenangan total” berada dalam jangkauan.

Israel telah menyarankan warga sipil untuk dapat mencari perlindungan di kamp tenda yang belum dibangun.

Dua per tiga dari wilayah Gaza sudah berada dibawah perintah untuk evakuasi, tetapi dengan pertempuran yang meluas, melintasi jalur pesisir dan perbatasan yang dikendalikan ketat, tidak jelas ke mana begitu banyak orang bisa pergi dengan aman.

Mesir telah mengatakan dalam keadaan apapun mereka tidak akan membiarkan pengungsi Palestina menyeberang ke Mesir, yang berbatasan langsung dengan wilayah Gaza di selatan. Jika hanya tersisa satu wilayah, ke mana lagi warga sipil di Gaza harus pergi dan mencari tempat perlindungan?

Ini sudah jelas dan sangat-sangat jelas merupakan pembataian terhadap warga Palestina di Gaza. Jangan berpaling. Dan tidak ada pilihan lain selain “Hentikan pembantaian sekarang juga!”

(Selasa, 13 Februari 2024)
(07.58)
_____

Source: Visualizing Palestine, Earth Studio
Writer/Translator: @nurlitas

Semua Mata Tertuju Pada Rafah Read More »

Jaksa ICC mengancam Israel dengan kemungkinan tindakan atas aktivitas militer di Rafah

Gaza Media, Den Haag – Jaksa penuntut Mahkamah Pidana Internasional (ICC), Karim Khan, mengatakan bahwa ia “sangat prihatin” dengan laporan-laporan mengenai pengeboman dan kemungkinan masuknya pasukan Israel ke Rafah di Gaza, dan mengatakan bahwa pihaknya mungkin akan terdorong untuk mengambil tindakan terhadap Israel.

“Semua perang memiliki aturan dan hukum yang berlaku untuk konflik bersenjata tidak dapat ditafsirkan sedemikian rupa sehingga membuatnya hampa atau tidak memiliki makna. Ini adalah pesan saya yang konsisten, termasuk dari Ramallah tahun lalu,” tulisnya.

“Sejak saat itu, saya tidak melihat adanya perubahan yang nyata dalam perilaku Israel. Seperti yang telah saya tekankan berulang kali, mereka yang tidak mematuhi hukum tidak boleh mengeluh di kemudian hari ketika Kantor saya mengambil tindakan sesuai dengan mandatnya.”

Khan memposting pernyataan tersebut di platform media sosial X pada hari Senin, dan menambahkan bahwa kantornya sedang melakukan investigasi yang sedang berlangsung dan aktif “terhadap situasi di Negara Palestina”.

Agnes Callamard, sekretaris jenderal Amnesty International, juga menggunakan media sosial X untuk mengatakan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi warga Palestina untuk pergi setelah serangan udara di Rafah.

“Serangan Israel akan memiliki konsekuensi yang menghancurkan. Pembunuhan massal, pemindahan paksa, lebih banyak lagi kejahatan perang. Pembantaian ini harus dihentikan,” kata Callamard.

Khan telah menjadi pengkritik vokal serangan militer Israel di Gaza sejak perang di Gaza dimulai pada 7 Oktober setelah serangan yang dipimpin Hamas ke Israel selatan. Pada akhir Oktober, Israel mengatakan tidak akan mengizinkan Khan memasuki negara itu, menurut laporan media Israel.

(Selasa, 13 Februari 2024)
(08.24)
_____

📷: REUTERS
Source: MEE
Writer/Translator: @kuntariaii

Jaksa ICC mengancam Israel dengan kemungkinan tindakan atas aktivitas militer di Rafah Read More »