Artikel

Pemimpin Visioner

Memimpin tidak semudah membalikan telapak tangan, apalagi yang dipimpin adalah sebuah negara yang berjumlah penduduk banyak, beragam budaya dan bahasa, beragam karekter, wilayah yang sangat luas baik darat maupun laut hampir sama luasnya dengan Eropa.

Menjadi pemimpin di Indonesia hal yang sangat prioritas adalah mampu mempersatukan setiap elemen bangsa dalam satu visi dan misi. Kemampuan pemimpin untuk mempersatukan bangsa tidaklah mudah. Track rekord untuk menjadi pemimpin pasti menjadi perhatian dari obyek yang akan dipersatukan yaitu setiap elemen bangsa.

Pemimpin harus mampu mengambil hati rakyat sehingga rakyat mencintainya tanpa diiming-imingi materi. Rakyat mencintai pemimpinnya karena kerja keras pemimpin dalam memperhatikan setiap kebutuhan rakyatnya dan rakyat merasa aman karena kepemimpinannya. Pemimpin mampu memecahkan berbagai macam persoalan yang berkembang di masyarakat dan mampu menangani perubahan cepat akibat globalisasi yang berpengaruh besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemimpin harus mempunyai kemauan kuat untuk memajukan negara yang dituangkan dalam program-program negara yang visioner. Program-program visioner hanya akan menjadi angan-angan bila tidak ada dukungan dari rakyat.

Bila seorang pemimpin bukan seorang yang visioner, maka ia hanya akan terjebak kepada interpretasi dari fenomena seperti yang sering terjadi saat ini, dimana dengan kekuasaan yang dimilikinya dia bisa menjerat seseorang. Ketika kekuasaan menjadi yang utama dan agung bagi seorang pemimpin, maka kredibelitas mulai mengalami erosi.

Birahi kekuasaan ini telah menjerat banyak pemimpin kedalam kekuasaan otoriter, rezim diktator, kekuasaan tiranik dan pemerintah fasis dan dalam bentuknya yang paling sederhana kita namakan premanisme. Mudah sekali menemukan kisah-kisah tentang para pemimpin dengan unlimited power. “Mereka memimpin untuk berkuasa dan berkuasa untuk menjadi pemimpin” artinya mereka tidak mau lengser.

Menurut gardner, ada tiga narasi penting yang menekan urgensi visi kepemimpinan, yakni “menciptakan pandangan hidup masyarakat, mengangkat orang keluar dari kepicikan dan mengejar tujuan….”. Pemaparan ini mengantarkan kita pada intisari kepemimpinan yang unggul, yakni kredibilitas dan visi.

Kredibilitas bersentuhan dengan integritas, autensitas atau nurani pemimpin, sedangkan visi adalah “mata” jati diri seorang pemimpin. Pemimpin yang kredibel tanpa visi adalah bagai katak di bawah tempurung, tidak pernah bisa melihat cakrawala yang membentang dan menembus batas-batas kekinian. Mata nuraninya mungkin jernih, tetapi tidak bisa melihat dunia luas, dunia yang akan datang.

Pemimpin yang visioner tetapi tidak kredibel adalah seperti badut di atas pangung sirkus. Opini-opininya hanya bisa menembus angkasa, membentang jauh melampaui zamannya, namun nuraninya yang keruh selalu mengekang langkah kakinya. Jangan memburu bayangan, sehinga lepas apa yang sebenarnya hendak ditangkap. Pemimpin yang kredibel tanpa visi hanyalah bayangan kosong, dan pemimpin visioner yang tidak kredibel hanya memberikan bayangan kosong.

Dari berbagai referensi yang ada maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal yang harus dilakukan seorang pemimpin agar tidak mengalami myopia kepemimpinan. Pertama, seorang pemimpin harus benar-benar menyadari bahwa perannya adalah memimpin manusia dan bukan berkuasa atas manusia.

Kedua, seorang pemimpin harus belajar bersikap kritis, belajar menilai secara lebih terbuka terhadap opsi-opsi, belajar melakukan komparasi terhadap perubahan-perubahan kepemimpinannya, dan berusaha untuk tidak terjebak ke dalam satu penilaian tunggal.

Ketiga, pemimpin harus bisa menyikapi perubahan dan tantangan secara arif dan dewasa. Adakalanya wait and see, terkadang harus bersikap konservasif, tetapi bias juga agresif dan provokatif, selama didukung oleh fakta yang sahih dan opini yang teruji.

Hal-hal yang perlu diperhatikan jika ingin menjadi seorang pemimpin kredibel dan visioner yaitu, maka ada hal yang harus disiapkan antara lain; jadilah pemimpin pembelajar, jadilah pemimpin visioner

Berupayalah menjadi seorang pemimpin yang membangun kredibilitas melalui integritas, otoritas dan kapasitas. Membangun integritas berarti memperkuat moratlias dan karakter seorang pemimpin. Otokritas, berbasis pada legitimasi formal dan wewenang resmi jabatan. Membangun otoritas berarti memperkuat aspek legal-yuridis. Kapabilitas, berbasis pada kompetensi teknis dan keahlian prefesional. Membangun kompetensi berati memperkuat keahlian teknis professional.

Jadilah seorang pemimpin yang baik harus banyak meluangkan waktu untuk berfikir dan belajar untuk memperluasr wawasan, menepatkan jarak pandang dan memperkuat daya lihatnya, sehingga ia mampu mengantisipasi peluang dan bahaya yang dibawa oleh perubahan yang datang tiada putus-putusnya.

Apa itu visioner

Seperti apa pemimpin visioner itu? Bung Hatta dalam majalah Daulat Rakyat, 10 September 1933, mengambarkan syarat seorang pemimpin visinoner ini dalam satu kalimat yang lugas: iman yang teguh, watak yang kukuh dan urat saraf yang kuat.

Sementara Rhenald Kasali, pakar manajemen Universitas Indonesia, menganalogikan pemimpin visioner seperti mata. Ia bukan sekadar mata yang bergerak secara acak, melainkan harus menjadi mata yang jeli melihat sesuatu yang belum terlihat atau bahkan sama sekali tidak terlihat rakyatnya. Bukan itu saja, ia pun sanggup menyakinkan dan mengajak rakyatnya untuk memperjuangkan pandangan masa depannya itu.

Untuk menjadi pemimpin bermata jeli (visionary leader), seorang pemimpin harus berkarakter, punya kredibilitas, menjadi inspirasi keteladanan dan mampu menumbuhkan harapan. Jika dielaborasi, maka pemimpin visioner itu mempunyai ciri antara lain; pertama, berkarakter.

Pemimpin berkarakter sudah tentu bukan sosok karbitan atau yang hanya mengandalkan pengalaman jabatan, jam terbang politik, dan deretan panjang aktivitas kemasyarakatan, tanpa catatan prestasi yang jelas dalam semua kiprahnya itu. Pemimpin berkarakter adalah pemimpin yang mampu membuat skenario masa depan bagi rakyat dan memperjuangkan skenario itu dengan melakukan perubahan mendasar dalam pemerintahan dan masyarakatnya dengan bertopang pada nilai-nilai masyarakatnya sendiri.

Kedua, kredibilitas. Ini menyangkut komitmen, integritas, kejujuran, konsistensi dan keberanian seorang pemimpin untuk bertanggung jawab atas pilihannya. Bukan jenis pemimpin dengan mental “tempe”, selalu ragu-ragu dan serba lambat mengambil keputusan diantara sekian banyak pilihan yang memang mustahil sempurna.

Pemimpin yang kredibilitasnya mumpuni, sejak semula berkuasa siap mempertanggungjawabkan kegagalan tanpa mencari kambing belang. Ia lebih suka mencari apa yang keliru untuk diperbaiki ketimbang mencari siapa yang patut disalahkan. Kredibilitas juga mengandung pengertian adanya ketenangan batin seorang pemimpin untuk memberikan reaksi yang tepat terutama dalam kedaaan kritis. Selain tentu, saja kredibilitas juga menyangkut aspek kecakapan dan ketrampilan tehnis memimpin.

Ketiga, inspirasi keteladanan. Bisa jadi ini aspek kepemimpinan yang terpenting dan sekaligus teramat sulit untuk kita temukan kini. Banyak pemimpin di negeri ini yang gagal menjadi sumber inspirasi keteladanan. Mereka tidak sanggup berdiri di barisan terdepan dalam memberi teladan dari dirinya dan lingkungan kekuasaannya yang terdekatnya.

Pemimpin yang inspiratif, semestinya sanggup secara otentik menunjukkan ketulusan satunya ucapan dengan tindakan, satunya seruan dengan pelaksanaan, satunya tekad dengan perbuatan. Orang Jepang menyebut sikap otentik ini dengan istliah makoto, artinya sungguh-sunggguh, tanpa kepura-puraan. Nurcholis Madjid menyebut pemimpin seperti ini sebagai lambang harapan bersama, sumber kesadaran arah (sense of direction) dan sumber kesadaran tujuan (sense of purpose).

Keempat, menumbuhkan harapan. Kita tahu tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintah kini begitu rendah. Pemerintah seperti bebek lumpuh yang kehilangan daya. Alih-alih mampu menggugah dan menggerakkan rakyatnya, bahkan niat baik pemerintah pun acapkali disalahpahami oleh rakyatnya sendiri. Pemimpin yang memberi harapan adalah pemimpin yang mampu menjadikan harapan rakyatnya sebagai roh kepemimpinannya. Tidak sebaliknya, secara egois menjadikan harapannya seolah-olah sebagai harapan rakyatnya.

Dalam Islam ada adagium yang menyangkut soal ini: “Kebijakan dan tindakan seorang pemimpin atas rakyat yang dipimpin, haruslah terkait langsung dengan kesejahteraan mereka (Tasharruf al-imam ala ar-ra’iyyah manutun bi al-maslahah). Jelas sudah, dalam Islam seorang pemimpin yang melalaikan kewajibannya mensejahterakan rakyatnya teramat dicela, sebab ia gagal menumbuhkan harapan bagi rakyatnya.

10 Nasihat Ibrahim bin Adham

Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat ia pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai Guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak dikabulkan?”

Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata, “Saudara sekalian. Ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah.

Pertama, kalian mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak-hak-Nya. Inilah yang seringkali terjadi, tanpa sadar kita selalu mengeluh dan memohon kepada Allah atas segala beban hidup dan ujian yang dirasakan. Kita juga sering berdoa kepada Allah agar apa yang menjadi impian kita segera terwujud. Tapi? Sadarkah kita mengapa doa-doa kita belum dikabulkan? Bagaimana dengan doa-doa saya dan Anda saudaraku?

Bisa jadi, apa yang dikatakan Ibrahim bin Adham terjadi dan dialami kaum Muslimin hari ini.  Lihatlah disekitar kita, bisa jadi banyak orang mengaku beragama Islam, tapi dalam kenyataan sehari-hari seberapa banyak yang menunaikan hak-hak Allah Ta’ala tersebut? Satu dari sekian banyak hak-hak Allah yang harus ditunaikan seorang hamba adalah ibadah wajib seperti shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, zakat dan lain sebagainya.

Kedua, kalian membaca Al-Quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya. Tak heran hari ini orang berlomba-lomba untuk menghafal Al-Quran, dan ini adalah fenomena yang luar biasa. Tapi yang perlu diperhatikan adalah, jangan sampai banyak membaca Al-Quran tapi tidak mau mengamalkannya. Atau, jika mau mengamalkannya tapi hanya yang sesuai dengan seleranya saja. Sementara jika kandungan Al-Quran itu tidak sesuai dengan hatinya atau perintah yang memberatkannya, maka ia meninggalkannya.

Inlah hal kedua yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim agar bisa menempatkan seseorang sesuai bidangnya. Tujuannya, agar kesejahteraan dan kebahagiaan bisa dirasakan oleh setiap orang.

Ketiga, kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, tapi dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya. Betapa banyak  hari ini orang yang mengakui bahwa iblis adalah musuhya. Tapi ucapan lisan tidaklah sejiwa dengan hati dan pengamalannya. Hari ini, mungkin tidak pernah ada orang yang mau disebut sebagai iblis. Tapi kenyataannya,  betapa banyak orang yang prilakunya seperti iblis; mencuri, korupsi, memperkosa, minum-minuman keras dan sederet prilaku bejat lainnya. Jadi, banyak manusia yang membenci iblis, tapi sayang ia tidak menyadari akhlaknya justeru lebih sadis dari iblis.

Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya. Itulah manusia, bangga mengaku umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi seringkali dengan sadar atau tanpa sadar meninggalkan ajaran dan sunnah-sunnah Nabinya. Lihatlah hari ini disekitar kita, ketika ada sekelompok orang yang berusaha menghidupkan sunnah, maka tak sedikit orang menghujatnya.

Sebaliknya, orang-orang yang hidup jauh dari pengamalan sunnah Nabinya, justeru dielu-elukan, disanjung bahkan diikuti setiap perintahnya. Jika sudah begitu, bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa seorang hamba yang jauh dari sunnah Nabi-Nya.  

Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surga. Dengan kata lain, semua umat Islam masuk surga, kecuali yang enggan. Seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga.”  (HR. Bukhari)

Keenam, kalian takut dimasukkan ke dalam neraka, tapi kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka. Ada  orang yang sepertinya mengamalkan amalan surga, tapi sebenarnya dia telah mengamalkan amalan ahli neraka. Sebaliknya, ada orang yang terlihat seolah mengamalkan amalan neraka, tapi hakikatnya dia telah melakukan amalan menuju surga.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “…Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, tapi tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya. Salah satu ciri orang yang cerdas adalah senantiasa banyak mengingat kematian, sehingga ia sibuk mempersiapkan bekal diri sebaik dan sebanyak mungkin untuk menuju kehidupan yang hakiki. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya, red).” (HR. At-Tirmidzi, dan dinyatakan shohih oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Irwa’ul Gholiil no.682. Sedangkan di dalam Silsilatu Al-Ahaadiits Ash-Shohihah no.1384 beliau menilai hadits ini derajatnya hasan dengan semua jalan periwayatannya).

Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri.  Inilah watak asli kebanyakan manusia, mereka lebih suka mencari dan mengumbar aib orang lain daripada sibuk mengurusi aib dan dosa dirinya sendiri. Ia bisa melihat dan lebih jeli memandang kesalahan orang lain, tapi sulit sekali memandang kesalahan pada dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda, ”

Kesembilan, setiap hari kalian memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmat-Nya. Selalu mau menang sendiri dan tidak pernah mau mensyukuri nikmat Allah adalah bagian dari sifat dan watak dasar manusia. Jika bukan karena rahmat dan cinta Allah kepadanya, niscaya rasa syukur itu akan tipis sekali dimiliki manusia. Orang beriman adalah orang yang meyakini dengan sebenarnya bahwa rahasia untuk menjemput rezeki dari Allah adalah mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan.

Tentang rasa syukur itu, Allah Ta’ala sudah memaklumkan dalam firman-Nya yang artinya, “…Siapa yang bersyukur atas nikmat-Ku, maka pasti akan Aku tambah baginya. Dan siapa yang mengingkari nikmat-Ku, maka azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7)

Itulah janji Allah kepada setiap hamba-Nya.

Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.” Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis. Dalam kesempatan lain Ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seseorang bertanya kepadanya.

Ibrahim menjawab, “Saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat Allah mengadili semua makhluk di Padang Mahsyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup di dunia.”

Semoga setiap kita bisa memetik hikmah dari nasihat Ibrahim bin Adham di atas. Wallahua’lam.[BA]

Golongan yang Tidak Masuk Surga

Ibnu Abas ra. berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.”

Selanjutnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Nasi Shallallahu Alaihi Wa sallam menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”

Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” “Orang yang suka mengadu domba,” kata Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam.

Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Germo.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam menjawab, “Penabuh gendang besar.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Nabi Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Penabuh gendang kecil.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah al-’utul itu?”

Shallallahu Alaihi Wa sallam  menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Nabi menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”

Lalu, Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam, “Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan engkau tentang ayat ini: yauma yunfakhu fiishshuuri fata’tuuna afwaajaa, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok?” (Qs. An-Naba’: 18).

“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar,” jawab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam. Kedua mata beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Beliau melanjutkan sabdanya.

“Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amaliyahnya di dunia). Di antara mereka ada yang berwujud kera; ada yang berwujud babi; ada yang berjalan berjungkir-balik dengan muka terseret-seret; ada yang buta kedua matanya, ada yang tuli, bisu, lagi tidak tahu apa-apa; ada yang memamah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jama’ah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya; ada yang tangan dan kakinya dalam keadaan terpotong; ada yang disalib di atas batangan besi panas; ada yang aroma tubuhnya lebih busuk daripada bangkai; dan ada yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih.”

“Mereka yang berwajah kera adalah orang-orang yang ketika di dunia suka mengadu domba di antara manusia. Yang berwujud babi adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti cukai dan uang suap.”

“Yang berjalan jungkir-balik adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan riba. Yang buta adalah orang-orang yang ketika di dunia suka berbuat zhalim dalam memutuskan hukum. Yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang ketika di dunia suka ujub (menyombongkan diri) dengan amalnya.”

“Yang memamah lidahnya adalah ulama dan pemberi fatwa yang ucapannya bertolak-belakang dengan amal perbuatannya. Yang terpotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang ketika di dunia suka menyakiti tetangganya.”

“Yang disalib di batangan besi panas adalah orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan batil dan palsu. Yang tubuhnya berbau busuk melebihi bangkai adalah orang yang suka bersenang-senang de-ngan menuruti semua syahwat dan kemauan me-reka tanpa mau menunaikan hak Allah yang ada pada harta mereka.”

“Adapun orang yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih adalah orang yang suka takabur dan membanggakan diri.” (HR. Qurthubi).

Saudaraku, adakah kita di antara 10 daftar yang dipaparkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam  di atas? Bertobatlah, agar kita selamat dan terhindar dari salah satu gologan di atas. Semoga kita tidak termasuk di antara sepuluh golongan yang tidak masuk surga tersebut, amiin.[BA]

 

Niaga yang Gak Akan Merugi (Tadabbur Qs. Fathir: 29)

Seorang muslim tentu saja memiliki konsep hidup jauh berbeda dengan orang di luar Islam. Ada konsep perdangan yang sangat menarik dalam Islam yang ditawarkan Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi serta apa yang ada di antara keduanya kepada manusia. Sebuah perdagangan yang tidak akan pernah merugi jika seorang muslim bisa menerima kontrak perdagan itu dengan benar (ilmu).

Allah Ta’ala telah menjabarkan dalam firman-Nya di suat Fathir ayat 29,

إِنَّ لَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَ بَ  للَّهِ وَأَقَامُوا   لصَّلَو ةَ وَأَنفَقُوا  مِمَّا رَزَقْنَ هُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَ رَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Qs. Fathir: 29).

Kata “tijârah” menurut al-Raghib al-Asfahani, berarti mempergunakan modal yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Ibarat tijârah, se-mua (amalan) itu adalah modal yang dikeluarkan. Sedangkan keuntungan yang didapat adalah pahala, surga, dan ridha-Nya.

Dibandingkan dengan amal yang dikerjakan, tentulah keuntungan itu sangat besar. Apa yang melebihi surga dan ridha-Nya? Perniagaan itu pun disebut sebagai “tijaratan lan tabur” perniagaan yang tidak akan merugikan dan tidak akan musnah.

Sebagaimana dijelaskan al-Jazairi, kata, “Lan tabur” bermakna “Lan tahlik (tidak akan lenyap/rusak). Yaitu semua modal manusia yang berupa iman dan amal shalih tidak akan lenyap dan sia-sia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, liyuwaffiyahum ujurahum (agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka).

Keadaan ini memberikan penegasan bahwa harapan mereka (orang beriman) tidak hampa. Mereka pasti akan mendapatkan apa yang diharapkan itu. Hal itu karena telah menjadi ketetapan dan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa semua perbuatan manusia akan mendapatkan balasan dari-Nya. Sebagaimana balasan siksa neraka atas perbuatan munkar dan maksiat, perbuatan ma’ruf dan taat pun akan digan-jar dengan pahala.

Ayat di atas juga menjadi rahasia mengapa para salafus shalih selalu bahagia dalam menjalani kehidupan sementara ini.

Dalam ayat di atas, ada tiga amal dahsyat yang bisa menjadi perantara seorang muslim untuk selalu beruntung dalam perniagaannya.

Pertama, orang yang selalu membaca kitab Allah (al Qur’an). Menurut Ibnu Katsir, ayat ini termasuk ayatul qurro, artinya ayatnya para pecinta al Qur’an. Tentu saja cinta kepada al Qur’an itu bukan hanya dibaca, tapi juga dipelajari (tadabburi), dikaji, dan di amalkan serta diajarkan kepada manusia.

Pertama, selalu membaca al Qur’an. Sangat banyak keutamaan orang yang senantiasa membaca al Qur’an seperti disebutkan dalam beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam antara lain sebagai berikut.

Pertama, Orang yang lancar membaca al Qur’an akan bersama para malaikat. “Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah meriwayatkan bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang yang lancar membaca al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim).

Tidak ada suatu ibadah apapun yang tidak mendatangkan kebaikan untuk pelakunya. Allah sudah berjanji bahwa setiap kebaikan sebesar biji zarah, akan dibalas. Begitu pun dengan kejahatan sebesar biji zarah akan dibalas juga. Membaca Al Qur’an adalah salah satu bentuk ibadah umat Islam kepada manusia.

Kedua, Setiap huruf al Qur’an bernilai satu kebaikan. Seperti yang diriwayatkan Abdullah Ibnu Mas‘ud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (al Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).

Begitu istimewanya hadits di atas, setiap huruf yang ada di dalam Al Qur’an yang dibaca oleh seseorang, dia sudah pasti akan mendapatkan satu kebaikan. Masih banyak keutamaan lain bagi siapa saja yang membaca al Qur’an.

Kedua, mendirikan shalat. Ada beberapa keutamaan oranag yang mengerjakan shalat. Pertama, shalat adalah sebaik-baik amalan setelah dua kalimat syahadat. Ada hadits muttafaqun ‘alaih sebagai berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ».

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Amalan apakah yang paling afdhol?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya.” Lalu aku bertanya lagi, “Lalu apa?”  “Berbakti pada orang tua”, jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.  “Lalu apa lagi,” aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah,” jawab beliau. (HR. Bukhari no. 7534 dan Muslim no. 85).

Kedua, shalat lima waktu mencuci dosa. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667).

Ketiga, shalat lima waktu menghapuskan dosa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233).

Keempat, shalat adalah cahaya di dunia dan akhirat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR. Ahmad 2: 169. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Masih banyak keutamaan sholat lima waktu lainnya.

Ketiga, infaq atau sedekah di jalan Allah. ”wa anfaqu mimma razaqnahum sirran wa alâniyatan (dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan). Maksudnya , menurut Thabari, mereka menunaikan zakat yang difardhukan. Selain itu, mereka juga mengeluarkan harta mereka untuk shadaqah tathawwu’.

Penyebutan kata sirran wa ‘alâniyatan menjelaskan cara menunaikannya. Bila ditunaikan secara sirran (rahasia), itu lebih baik. Namun jika ditunaikan secara ‘alânitan (terang-terangan), menurut dugaannya tercegah dari sikap riya’.

Bisa juga, yang dimaksud dengan sirran (rahasia) adalah shadaqah, sementara ‘alaniyatan (terang – terangan) adalah zakat. Sebab, menunaikan zakat secara terang- terangan sama halnya dengan mengumumkan kewa-jiban. Dan itu sesuatu yang mustahab/ disunahkan .

Ayat ini juga sejalan dengan Qs. al-Baqarah : 274, al-Ra’d: 22, dan Ibrahim : 31. Dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Huraih disebutkan bahwa salah satu dari tujuh kelompok yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah orang yang memberikan shadaqah dengan rahasia, hingga tangan kirinya tidak me-ngetahui apa yang dishadaqahkan oleh tangan kanannya.

Di antara keutamaan berinfaq di jalan Allah

Pertama, dari Abu Hurairah ra. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, ‘Wahai anak Adam!’ berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberik rizki) kepadamu.” (Shahih Muslim, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Hatstsu ‘alan Nafaqah wa Tabsyiril Munfiq bil Khalf, no. 36 (963).

Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah. Betapa mudah dan gampang jalan mendapatkan rizki. Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang Ditangan-Nya kepemilikan segala sesuatu memberikan infak (rizki) kepadanya.

Imam An-Nawawi berkata, “Firman Allah (dalam hadits Qudsi), ‘Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu’ adalah makna dari firman Allah dalam al Qur’an,

 وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rizki yang terbaik yang akan menggantinya.” (Qs. Saba/34 : 39).

Ayat ini mengandung anjuran untuk berinfak dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah Ta’ala.(Syarh an Nawawi 7/79).

Kedua, apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya).” (Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab Firman Allah Tentang Do’a : Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya’ no. 1442, 3/304). Masih banyak keutamaan infaq dan sedekah di jalan Allah, wallahua’lam.(BA)

 

 

Bahaya Pandangan Matrealistis

Pandangan materialistis saat ini, banyak menerpa kehidupan manusia. Bahkan sebagian kaum muslimin ada yang juga terpengaruh dengan kehidupan yang melalaikan ini. Yaitu mengedepankan cara pandang tentang kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia fana ini, sehingga aktifitas hidup yang dijalankan hanya berkisar pada masalah bagaimana bisa menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah dan gedung, memenuhi kepuasan hidup dan hal-hal lain yang bersifat duniawi, tanpa memikirkan akibat dan sikap yang seharusnya dilakukan. Seolah menganggap, bahwa kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta.

Alhasil, pandangan materialistis ini mengusik keharmonisan dan ketenangan rumah tangga seorang muslim. Melalaikan tujuan inti penciptaannya, penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya. Allah berfirman:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ مَآأُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآأُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Qs. Adz Dzariyat: 56-58).

ebagai efeknya, tak jarang wanita juga ikut bekerja membanting tulang, mengerahkan segala cara untuk mendapatkan harta yang banyak. Dalam benaknya, yang berkembang hanya bagaimana bisa menguasai dunia dengan harta berlimpah, seolah kebahagiaan dan ketenangan bergantung dengan harta; padahal Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Dzar. Apakah engkau menyangka karena banyak harta orang menjadi kaya?” Saya (Abu Dzar) menjawab, “Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, “Dan engkau menyangka, karena harta sedikit orang menjadi miskin?” Saya (Abu Dzar) berkata, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kekayaan adalah kecukupan dalam hati, dan kemiskinan adalah miskin hati. (HR. Hakim dan Ibnu Hibban).

Allah Ta’ala berfirman,

خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Qs. Al Hajj: 11).

Allah menciptakan dunia tidak untuk main-main atau sendau gurau, tetapi Allah menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung, sebagaimana firman Allah.

إِنَّا جَعَلْنَا مَاعَلَى اْلأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Qs. Al KahfI: 7).

Allah menciptakan dunia tidak lain ialah sebagai ladang kampung akhirat dan kampung untuk beramal. Sedangkan akhirat sebagai kampung menuai balasan. Siapa mengisi dunia dengan amal shalih, niscaya ia akan menuai keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya, barangsiapa yang menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.

Allah menjadikan berbagai kenikmatan dunia dan perhiasan lahiriah berupa harta, anak-anak, isteri, kedudukan, kekuasaan dan berbagai macam kenikmatan lainnya, yang seharusnya digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Dari Tsauban, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ

 “Hendaklah di antara kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir dan isteri yang shalihah yang membantu dalam urusan akhirat.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Pada kenyataannya, sebagian besar manusia memusatkan perhatiannya pada aspek lahiriah dan kenikmatan materi semata. Setiap hari disibukkan dengan bekerja untuk mendapatkan harta dan kenikmatan dunia, sehingga lupa menyiapkan bekal untuk amal kehidupan sesudah mati; bahkan ada yang mengingkari kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini. Allah SWT berfirman,

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَانَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

“Dan tentu mereka akan mengatakan (pula) “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.” (Qs. Al-An’am: 29).

Allah mengancam orang-orang yang memiliki pandangan kerdil terhadap dunia. Allah Ta’ala berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).

Dampak ancaman di atas berlaku bagi semua orang yang memiliki pandangan materialis, yaitu mereka yang beramal hanya sekedar mencari keuntungan dunia, misalnya: orang-orang munafik, orang-orang kafir, orang-orang yang menganut faham kapitalisme, komunisme dan sekulerisme. Allah akan menjadikan kehidupan ini terasa sempit bagi mereka. Nabi SAW bersabda:

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

 “Siapa yang menjadikan dunianya sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan membuat perkaranya berantakan, kemiskinan berada di depan kedua matanya dan dunia tidaklah datang, kecuali yang telah ditentukan baginya saja. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat (sebagai) niatnya, niscaya Allah akan memudahkan urusannya dan menjadikan rasa kecukupan tertanam dalam dalam hatinya dan dunia akan datang dengan sendirinya.” (HR. Ibnu Majah), wallahua’lam.(BA)

 

Ini Ciri Orang Kafir

Allah Ta’ala menciptakan manusia di muka bumi ini hanya terbaik dalam dua hal; muslim atau kafir. Dalam artikel singkat ini, akan dipaparkan beberapa sifat orang-orang kafir dengan tujuan agar seorang muslim tidak terjerumus dalam bujuk rayu musuh-musuh Allah tersebut.

Allah adalah Tuhan pencipta semua makhluk hidup termasuk di dalamnya adalah orang-orang kafir. Jika diterjemahkan secara bebas, maka yang dimaksud dengan orang kafir adalah suatu kaum yang mereka tidak menjadikan Allah sebagai Tuhannya, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Nabinya.

Allah pencipta segala yang ada di jagat raya ini, dan semua sudah lama tertulis dalam Lauhul mahfudz. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. At-Taghabun: 2).

Di dalam kitab-Nya, Allah Ta’ala sudah menjelaskan mana-mana saja jalan orang-orang yang rugi dan beruntung, orang yang bahagia dan sengsara. Allah Ta’ala juga di dalam banyak ayat-Nya mengingatkan manusia beriman agar jangan sampai mengikuti langkah orang-orang kafir.

Di antara beberapa sifat orang kafir yang harus diketahui oleh seorang muslim adalah sebagai berikut.

Pertama, selalu membuat makar. Inilah di antaranya sikap orang kafir yang pasti melekat dalam pikiran dan hatinya. Mereka selalu berusaha menipu, merusak, dan mencelakakan kaum muslimin. Kalaupun mereka tampil seperti orang-orang yang ramah dan amanah, terpuji juga berakhlak mulia, maka ketahuilah sesungguhnya itu adalah tipu muslihat belaka.

Tentang keburukan sifat itu, Allah Ta’ala sudah menjelaskan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang yang di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali Imran:118).

Kedua, munafik. Orang kafir sudah pasti munafik. Dengan sifat munafiknya itulah kaum beriman tak sedikit yang tertipu. Orang-orang kafir itu biasa membungkus kesesatan dengan petunjuk, kebenaran dengan keburukan. Sehingga kaum muslimin mudah sekali terjebak dengan tipu dayanya.

Tapi Allah, pasti akan membinasakan orang kafir, sebab Allah tidak akan pernah ridha melihat hamba-hamba-Nya ditipu dan disakiti oleh kaum kafir itu. Allah tidak akan pernah tinggal diam atas semua tampilan munafik kaum kafir itu. Karena itu, jangan sampai orang beriman menaati orang-orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ

“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.” (QS. Al-Ahzab: 1).

Ketiga, ilmu hanya sebatas dunia. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah mengatakan, “Seluruh amalan dan urusan orang kafir pasti ada cacatnya sehingga manfaatnya tidak pernah maksimal.” Orang-orang kafir sama sekali tidak tahu sedikitpun dengan ilmu akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7).

Sungguh, miris sekali nasib orang kafir. Boleh saja mereka terlihat berharta, berpangkat, dan berpengaruh. Tapi sejatinya mereka hidup dalam kebingungan dan kebimbangan tak terperikan. Tujuan utama hidupnya hanya untuk urusan perut, senda gurau dan apa pun usahanya mau halal, haram semuanya hantam saja.

Keempat, selalu menjadi penghalang perbuatan baik. Orang-orang kafir itu selalu menghalangi perbuatan baik, tidak bisa berterima kasih dan mengonsumsi makanan yang  haram. Allah berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. An-Nahl: 83).

Orang kafir  hidup hanya dalam fatamorganan dunia. Mereka tidak pernah bisa mengenal  bahwa dunia ini hanyalah tempat yang sementara. Selain itu, mereka menjadikan hawa nafsunya sebagai tuntunan. Sehingga seluruh anggota tubuhnya digunakan hanya untuk memuaskan nafsu belaka.

Kelima, jiwa orang kafir selalu menjerit pedih akibat dosa-dosanya. Orang kafir selalu berbuat dosa, karena ia jauh dari Allah Ta’ala. Dia tidak akan pernah bisa merasakan nikmat dan manisnya iman. Laknat dan murka Allah selalu menyertai orang kafir, dan mereka adalah makhluk Allah yang paling buruk.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6).

Keenam, kematian seorang kafir akan menimbulkan ketenangan dan ketentraman bagi penduduk dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ketika melihat rombongan membawa jenazah,

الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

“Hamba yang beriman akan istirahat dari keletihan dan derita dunia menuju rahmat Allah sementara hamba yang fajir (bergelimang maksiat, jika dia mati) maka manusia, negeri, pepohonan dan binatang melata akan terbebas dari keburukannya.” (HR. Bukhari).

Itulah di antara sebagian kecil ciri-ciri orang kafir. Semoga  kita selalu bisa menjaga diri dari jebakan orang-orang kafir dan bisa terhindar dari fitnah besar akhir zaman yang bisa jadi akan segera datang.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ, يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا, وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا, يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا قَلِيْل

“Bersegeralah melakukan amal shaleh sebelum datangnya fitnah seperti malam gelap gulita; pada pagi hari seseorang beriman dan sore harinya menjadi kafir, atau sore hari dia mu’min kemudian pada pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan sedikit dari dunia.” (HR. Ahmad).[BA]

Adakah yang Pantas Kita Sombongkan?

Sombong, bisa hinggap kepada siapa saja. Tak perduli orang awam, alim, dosen, doktor, professor, ustad, ulama atau pun kiai. Sombong atau yang sering kita kenal dengan istilah kibr, takabur dan istikbar, ketiganya hampir semakna, merupakan suatu kondisi dimana seseorang merasa lain dari yang lain (dengan keadaan tersebut) sebagai pengaruh i’jab (kebanggaan) terhadap diri sendiri, yaitu dengan adanya anggapan atau perasaan, bahwa dirinya lebih tinggi dan besar daripada selainnya.

Orang sombong, maka dia merasa segala bisa. Tak ada seorang pun yang mampu menyamainya. Ia akan kecewa, sakit hati dan marah jika ada orang lain yang melebihinya dalam segala bidang. Selain itu, orang sombong adalah orang yang terkumpul padanya segala macam sifat buruk. Karena itu, orang yang sombong di mata Allah Swt kelak akan ditempatkan di tempat “terbaik” yakni neraka !

Tidak akan berlaku sombong, kecuali orang yang merasa dirinya besar dan tinggi, dan ia tidak merasa tinggi atau besar, kecuali karena adanya keyakinan, bahwa dirinya memiliki keunggulan, kelebihan dan kesempurnaan yang dengannya ia menganggap berbeda dengan orang lain.

Ada beberapa sebab yang mendorong seseorang menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain, sehingga melahirkan kesombongan dalam jiwa, yaitu:

Pertama, sombong karena ilmu. Ada sebagian thalib ilmu atau orang yang diberi pengetahuan oleh Allah, malah justru menjadikan dirinya sombong. Ia merasa dirinya yang paling pandai (alim), menganggap rendah orang lain, menganggap bodoh mereka dan selalu ingin agar dirinya mendapatkan penghormatan, pelayanan dan fasilitas khusus dari mereka (umat). Dia memandang, bahwa dirinya lebih mulia, tinggi dan utama di sisi Allah daripada mereka.

Biasanya, ada dua faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sombong dengan ilmunya antara lain; pertama, ia mencurahkan perhatian terhadap apa yang ia anggap sebagai ilmu, padahal hakikatnya ia bukan ilmu. Ia tak lebih sebagai data atau informasi yang direkam dalam otak yang tidak memberikan buah dan hasil, karena ilmu yang sesungguhnya akan membuat seseorang semakin kenal siapa dirinya dan siapa Rabbnya.

Ilmu yang hakiki akan melahirkan sikap khosyah (takut kepada Allah) dan tawadhu’ (rendah hati), bukan sombong, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala,

 إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَائُوْا، إِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ .٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28).

KeduaAl-khoudl fil ilm yaitu belajar dengan tujuan agar dapat berbicara banyak, berdebat dan menjatuhkan orang dengan kepiawaian yang dimilikinya, sehingga orang menilainya sebagai orang alim yang tak terkalahkan karena ilmu yang dimilikinya. Orang semacam ini selayaknya lebih dulu memperbaiki hati dan jiwa, membersihkan dan menatanya, sehingga tujuan dalam mencari ilmu menjadi benar dan lurus.

Karena sekali lagi yang menjadi ciri khas dari sebuah ilmu adalah ia menjadikan pemiliknya bertambah takut kepada Allah dan tawadhu’ terhadap sesama manusia. Ibarat pohon tatkala banyak buahnya, maka ia semakin merunduk dan merendah, sehingga orang akan lebih mudah mendapatkan kebaikan dan manfaat darinya.

Orang, bila senang mengumbar omongan, berbantah-bantahan dan debat kusir, maka ilmunya justru akan melemparkannya kepada kedudukan yang rendah dan pengetahuan yang dimilikinya tidak akan membuahkan hasil yang baik, sehingga keberkahan ilmu tidak tampak sama sekali.

Kedua, sombong karena amal ibadah. Kesombongan ahli ibadah dari segi keduniaan adalah ia menghendaki, atau paling tidak membuat kesan, agar orang lain menganggapnya sebagai orang yang zuhud, wara’, taqwa dan paling mulia di hadapan manusia. Sedangkan dari segi agama adalah ia memandang, bahwa orang lain akan masuk neraka, sedang dia selamat darinya.

Sebagian ahli ibadah bila ada orang lain yang membuatnya jengkel atau merendahkannya, maka kadang dia mengeluarkan ucapan, “Allah tidak akan mengampunimu atau, “Kamu pasti masuk neraka” dan yang sejenisnya. Padahal ucapan sumpah serapah semacam itu sangat dimurkai Allah, bahkan bisa jadi malah justru dapat menjerumuskannya ke dalam neraka, nauzubillah min dzalik.

Ketiga, sombong karena keturunan (Nasab). Siapa yang mendapati kesombongan dalam hati karena nasabnya, maka hendaknya ia segera mengobati hatinya itu. Jika seseorang akan mencari nasabnya, maka perhatikan firman Allah ini, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. 32:7-8)

Inilah nasab manusia yang sebenarnya, kakeknya yang terjauh adalah tanah, dan nasabnya yang terdekat adalahnuthfah alias air mani. Jika demikian keadaannya, laku bagaimana mungkin manusia merasa sombong dan tinggi dengan  nasabnya? Bukankah nasabnya yang terjauh diciptakan dari tanah? Sementara nasabnya yang terdekat diciptakan dari air mani yang hina dina? Sungguh tak tahu diri bila masih ada orang yang sombong dengan keturunannya.

Keempat, sombong karena kecantikan/ketampanan. Ada juga orang yang sombong karena merasa cantik/tampan. Kesombongan seperti ini banyak terjadi di kalangan para wanita, yaitu dengan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, menggunjing dan membicarakan aib sesama. Seharusnya orang yang sombong dengan kecantikannya ini banyak melihat ke dalam hatinya. Untuk apa anggota tubuh yang indah, namun hati dan perangainya buruk, padahal tubuh secantik apa pun pasti akan binasa, hancur dan hilang tak berbekas.

Belum lagi kalau orang mau merenungi, selagi masih hidup, maka mungkin saja Allah berkehendak mengubah kecantikan atau ketampanannya, misalnya ia mengalami kecelakaan, sakit kulit, kebakaran dan lain sebagainya, yang bisa menjadikan rupa yang cantik menjadi buruk. Maka dengan kesadaran seperti ini, insya Allah rasa sombong yang ada dalam hati akan terkikis dan bahkan tercabut hingga ke akar-akarnya.

Kelima, sombong karena harta. Sebagaimana diketahui, orang yang sombong karena hartanya sebenarnya dia adalah orang yang bodoh, dungu dan tak berakal. Ia tak sadar setiap manusia yang terlahir ke dunia ini tak membawa benang sehelai pun. Lalu, karena kemahabesaran Allah semata dia diberi pakaian dan akal yang sehat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Orang yang sombong karena merasa banyak harta biasanya senang memandang rendah orang fakir dan sering membenci mereka. Ini disebabkan harta yang dimilikinya, perusahaan-perusahaan yang banyak, tanah dan bangunan, kendaraan mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Kesombongan karena harta termasuk kesombongan karena faktor luar, dalam arti bukan merupakan potensi pribadi orang yang bersangkutan. Berbeda dengan ilmu, amal, kecantikan atau nasab, sehingga bila harta itu hilang, maka ia akan menjadi hina sehina-hinanya.

Keenam, sombong karena kekuatan dan kegagahan. Orang yang mendapatkan karunia seperti ini hendaknya menyadari, bahwa kekuatan adalah milik Allah seluruhnya. Hendaknya selalu ingat, bahwa dengan sedikit sakit saja akan membuat badan tidak enak, istirahat tidak tenang. Kalau Allah menghendaki, seekor nyamuk pun dapat membuat seseorang sakit dan bahkan hingga menemui ajalnya.

Orang yang mau memikirkan ini semua, yaitu sakit dan kematian yang bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, maka sudah sepantasanya tidak angkuh dan takabur dengan kekuatan dan kesehatan badannya.

Ketujuh, sombong karena banyaknya keluarga, kerabat atau pengikut. Kesombongan jenis ini juga merupakan kesombongan yang disebabkan faktor luar, bukan karena kelebihan yang dimiliki oleh yang bersangkutan. Setiap orang yang sombong karena sesuatu yang bukan dari kelebihan dan keunggulan dirinya sendiri, maka dia adalah sebodoh-bodoh manusia. Bagaimana mungkin ia sombong dengan sesuatu yang bukan merupakan kelebihan dirinya?

Saudaraku, apa sebenarnya yang patut kita sombongkan? Bukankah kita tahu asal kejadian kta hanya dari setetes air mani yang keji? Bukankah kta tahu satu uban yang tumbuh di atas kepala kita, tak akan pernah mampu kita menahannya? Bukankah kita ini fakir? Sekali lagi, mari menjadi pribadi-pribadi yang penuh tawadhu (rendah hati). Jangan sombong sebab kita pasti akan menjumpai kematian. Tidak ada manusia sombong di muka bumi ini lalu dia akan hidup selamanya.(BA)

Jangan Saling Mencaci

Islam adalah agama mulia. Seluruh etika kehidupan diatur dalam Islam. Dalam Islam, tak ada seseorang pun yang dibolehkan mencaci muslim lainnya. Sebab mencaci muslim merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. Hal ini seperti dalam sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, “Mencaci orang Islam (Muslim) adalah perbuatan fasiq dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.” (HR. Bukhari, Muslim).

Dalam hadis lain Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslims lainnya, ia tidak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim).

Termasuk perbuatan mencaci muslim di antaranya adalah menyakiti, mencela, mengadu domba serta senang menyebarkan gosip yang tidak benar, mencemarkan nama baik sehingga bisa merusak keluhuran martabat saudaranya, dan membuka rahasia pribadi yang tidak patut diketahui orang lain.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki atau perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Qs. Al Ahzab: 58).

Orang yang suka mencaci seorang muslim, maka kelak semua amal yang telah dilakukannya menjadi sia-sia. Ini seperti dikatakan dalam sebuah hadis, “Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Wahai Rasulullah, jika ada seorang wanita yang melakukan shalat malam, siang harinya ia berpuasa, tetapi ia menya-kiti tetangganya dengan lisannya?”

Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Tiada kebaikan sedikitpun dalam amal perbuatannya, dan ia kelak akan masuk neraka.” (HR. Al Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad).

Termasuk perbuatan mencaci muslim adalah memanggil seseorang dengan kata-kata kafir, musyrik, munafik dan sebagainya. Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang memanggil seseorang dengan kata-kata kafir atau ia berkata, ‘Wahai musuh Allah, sedang orang yang dikatakan itu tidak begitu keadaannya, maka tiada lain tuduhan itu akan kembali kepada dirinya.” (HR. Bukhari).

Setiap Muslim adalah saudara, karena itu tak layak jika sesama muslim harus saling mencaci, mencela, menghina dan menuduh dengan tuduhan yang bukan-bukan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Qs. Al Hujurat: 10).

Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam menambahkan, “Setiap orang muslim terhadap muslim lainnya itu, haram darahnya, hartanya dan harga dirinya.” (HR. Muslim dan At Tirmidzi).

Jadi, tak ada gunanya kita saling mencaci antar sesama. Bukankah Allah Yang Maha Perkasa menjadikan kita (umat Islam) sebagai umattan wahidah, umat yang satu sama lain harus saling melindungi, bahu-membahu dan tolong-menolong. Ingat, mencaci seorang muslim, hakikatnya adalah mencaci Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nabi dan diri kita sendiri sebagai seorang muslim.

Saudaraku, agar caci-mencaci di antara sesama muslim tidak terjadi, maka ada beberapa hal yang mesti kita amalkan. Pertama, adalah memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar dia menghilangkan segala prasangka di hati kita terhadapat sesama Muslim lainnya. Kedua, jangan tinggalkan silaturrahim. Ketiga, salinglah berkirim kabar atau nasihat-menasihati walau hanya melalui sms. Keempat, jangan segan untuk membantu saudara kita. Jika kita membantu mereka (saudara kita) dengan uang, maka sesungguhnya uang kita adalah uang yang dikeluarkan untuk membantu saudara kita.

Bukankah kita Hizbullah? Bukankah kita Ahlul Haq? Karena itu, bertekad dan buktikanlah kalau kita ini adalah Hizbullah dan pengamal kebenaran. Jangan hanya sekedar pengakuan, sebab Allah Ta’ala akan mencatat kita sebagai orang munafik jika mengaku Hizbullah dan Ahlul Haq tapi prilaku kita masih seperti orang-orang jahiliyah. Sebagai Hizbullah yang juga mengikrarkan diri sebagai Ahlul Haq, maka seharusnya prilaku kita mencontoh prilaku Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya agar kita selamat dunia akhirat.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba yang bersahabat, saling mencintai karena Allah, membenci karena Allah, bahu membahu dalam meringankan beban saudara, tolong menolong dalam kebaikan demi menggapai ridho Allah penguasa alam semesta. Buang jauh-jauh rasa saling benci, saling caci, saling menebar aib dan prasangka, saling berwajah masam, saling iri dan dengki, saling dendam satu sama lain. Wallahua’lam.(BA)

Mereka yang Diperbudak Harta

Bagaimana mungkin orang bisa dikatakan menyembah harta? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ . (رواه الترمذي وأحمد وابن الحبان)

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Celakalah hamba (orang yang diperbudak) dinar, dirham, beludru dan kain bergambar. Jika dia diberi dia ridha, jika tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Tirmidzi, no. 2336; Ahmad 4/160; Ibnu Hibbân no. 3223)

Dalam hadits di atas, setidaknya bisa memberikan beberapa pelajaran berharga bagi kita, antara lain sebagai berikut.

Pertama, seharusnya seorang hamba tidak membiarkan dirinya diperbudak harta dalam kehidupannya. Tidak pula ia selalu berangan-angan bahkan bermimpi untuk mendapatkannya, mencintai dan membenci karenanya, membela dan memusuhi hanya demi harta. Karena hal itu hanya akan membawa kepada kehancurannya.

Tidak ada kehancuran yang buruk bagi seorang manusia kecuali ia hancur karena membawa nafsu serakah, menghalalkan segala cara untuk bisa mendapat dan mengumpulkan harta dunia. Memang dunia ini begitu menyilaukan. Namun, jika pandangan mata sudah terus melekat ke hati tentang harta dunia, maka sulit rasanya ia akan lepas dari harta dunia itu.

Kedua, harta itu adalah ujian, padahal manusia sangat menyukainya. Oleh karena itu, banyak orang yang gagal dalam menghadapi ujian besar ini. Sedikit sekali orang yang bisa bersyukur kepada Allah SWT. Atas limpahan nikmat-Nya yang tidak terhitung banyak dan nilainya.

Begitulah dunia, ia hanya tempat tinggal dan mati sementara sebelum sampai ke alam akhirat. Semua laku yang pernah terukir di lembaran sejarah dunia, kelak akan dimintai pertanggungjawaban sebagi bukti keadilan Sang Maha Pencipta, Allah Ta’ala.

Ketiga, banyak orang yang keliru. Di matanya, jika Allah memberikan harta yang banyak kepadanya, itu bertanda Allah mencintainya. Sebaliknya, jika Allah mengurangi rizkinya, itu pertanda Allah menghinakannya. Dua hal yang saling bertengan inilah yang sering jadi kekeliuran dalam memandang. Karena semua itu merupakan ujian dari Allah Azza wa Jalla.

Jadi, jangan menduga bentuk sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya itu selalu diukur dari melimpahnya harta dan banyaknya kekayaan yang dititipkan kepadanya.

Keempat, Allah memberikan harta kepada siapa yang disukai atau yang dibenci. Itulah bentuk keadilan Allah kepada setiap hamba-Nya. Tiada seorangpun yang bisa menghalangi rezeki orang lain, jika Allah menghendakinya. Begitu juga Allah Ta’ala bisa menarik lagi setiap rezeki yang sudah diberikan kepada hamba-Nya kapanpun Dia mau.

Kelima, setiap hamba harus menyadari bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah ujian. Karena itu akan terlihat nanti siapa hamba-Nya yang taat dan yang ingkar saat ujian itu datang menghampirinya.

Di mata Allah Ta’ala, kemuliaan dan kehinaan seseorang tidak bisa diukur dari banyak sedikitnya harta yang dimiliki seseorang. Hal itu seperti difirmankan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ۞ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَن ۞

“Adapun manusia, jika dia diuji oleh Rabbnya, dimuliakan dan diberi kesenangan, maka dia akan berkata, “Rabbku telah memuliakanku”. Sedangkan bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, “Rabbku telah menghinakanku.” (Qs. Al-Fajar: 15-16)

Jangan merasa bangga dengan banyaknya harta yang Allah titipkan. Namun juga jangan terlampau sedih karena sedikitnya harta yang Allah Ta’ala berikan. Hal itu seperti dalam firman Allah Ta’ala,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ ۞ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ ۞

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka ? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Qs. Al-Mukminun: 55-56)

Karena harta itu merupakan ujian, tak sedikit orang yang gagal ketika dia diuji dengan harta itu. Kegagalan manusia saat di uji Allah dengan harta sudah disampaikan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ … ۞

“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi.” (Qs. Asy-Syura: 27)

Begitulah harta yang akan Allah berikan kepada Bani Adam. Terkadang, dengan harta yang dititipkan Allah itu seorang insan menjadi lupa daratan, sehingga harta itu kelak di akhirat akan menjadi beban berat baginya. Di sisi lain, tak sedikit orang yang dititipi harta oleh Allah, tapi ia tetap sadar bahwa semua itu adalah milik Allah, sehingga ia bisa menggunakan harta itu sesuai aturan Allah dan Rasulnya, wallahua’lam.[BA]

Doa Minta Anak dan Harta

Saudaraku, pernahkah terbesit di hati kita untuk minta kaya sekaligus panjang umur? Saya rasa, kita semua pernah punya keinginan agar dijadikan Allah orang kaya sekaligus diberi umur panjang? Dan hal itu adalah lumrah adanya. Sebagai seorang hamba yang selalu merendah, merunduk dan berusaha menaati Allah dan Rasul-Nya, maka hal yang wajar jika kita pun berharap agar hidup ini menjadi lebih baik lagi dengan meminta harta dan panjang umur.

Tentu saja, doa yang dipanjatkan kepada Allah adalah doa-doa yang kita sendiri sadar jika doa itu terwujud, maka konsekuensi logisnya adalah semakin taatnya kita kepada Allah. Tapi sayang, tidak setiap kita komitmen saat doa-doa yang kita panjatkan itu diijabah-Nya. Kita tak jarang lupa bahwa doa-doa kita sudah terwujud. Tak jarang bahkan, kita merasa seolah apa yang diraih hari ini adalah semata hasil jerih payah sendiri. Terlalu angkuh.

Kembali tentang doa minta banyak harta dan panjang umur tadi. Sebenarnya, Islam agama yang lengkap. Bukan hanya doa minta banyak harta dan panjang umur saja yang ada, tapi juga doa meminta agar dibanyakkan anak-anak juga telah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii

Artinya, “Ya Allah, perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480).

Dahsyat sekali bukan? Inilah doa yang tidak semua orang mengetahuinya. Lengkap sekali kandungan doa di atas. Berikut uraian singkatnya.

Pertama, doa agar diberi harta yang banyak. Sekali lagi, siapa di antara kita yang tak memerlukan harta? Mustahil rasanya kita bisa hidup tanpa harta. Artinya, harta bagi seorang muslim sangat diperlukan untuk membiayai dakwah ini. Dakwah tanpa ada biaya, maka kelak dakwah itu akan runtuh di tengah jalan.

Kedua, perhatikanlah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan agar meminta anak yang banyak. Tentu saja, maknanya agar kelak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bisa berbangga dihadapan para Nabi yang lainnya. Selain itu, doa ini adalah tuntunan bagi siapa pun dari kaum muslimin yang hingga kini belum dikaruniai anak agar bisa berdoa dengan doa di atas.

Anak adalah cindera mata. Bahkan lebih dari itu, anak-anak adalah investasi yang akan menjadi tabungan jariyah bagi kedua orang tuanya jika mampu mendidik menjadi anak-anak yang sholeh sholehah.

Ketiga, minta agar diberikan umur yang panjang dalam ketaatan. Umur panjang tapi taat, adalah jauh lebih berharga daripada umur panjang tapi tidak taat. Tak sedikit orang tua yang sudah berumur panjang, hingga pengalaman duniawinya begitu luas, pergaulannya dengan semua kalangan, tapi sayang ia tidak pernah mengenal Allah. Ia lupa, bahwa sebenarnya perjalanan hidupnya akan segera berakhir. Tak heran, orang tua semacam ini seringkali disebut dalam pepatah, ‘tua tua keladi, makin tua makin jadi’. Usia sudah tidak lagi muda. Harum badan suadah berubah mendekati bau tanah, tapi masih pula tak mau mendatangi Allah.

Hidupnya memang berpendidikan dan punya pengalaman luas, tapi sayang tidak berkah. Yang terjadi malah menyusahkan orang lain dan selalu membuat Allah ‘geram’ melihat perilaku anehnya. Karena itu, berdoa agar diberi umur panjang dalam ketaatan adalah sunnah. Yang tidak boleh dan dilarang adalah jika berdoa, “Ya Allah, panjangkanlah umurku” (tanpa ada tambahan kata, “dalam ketaatan kepada-Mu”.

Keempat, minta agar diperindah amalnya. Amalan yang baik adalah investasi yang kelak akan dipetik di akhirat. Bukan hanya di akhirat. Di dunia pun setiap amalan yang baik akan segera mendapat ganjaran yang baik pula dari Allah Ta’ala. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal sholeh seorang hamba-Nya. Bahkan, Dia akan segera membalasnya di dunia ini sebelum kelak di balas pula dengan pahala terbaik di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS an-Nahl [16]: 97).

Karena itu, mintalah selalu kepada Allah dengan doa di atas agar selalu dituntun untuk melakukan amal-amal kebaikan dan diperindah amalnya.

Kelima, minta agar diampuni segala dosa. Bisa jadi, yang membuat pundak-pundak kita terasa berat adalah karena beratnya kita memikul dosa-dosa yang selama ini mungkin kita kurang atau bahkan tidak mau menyadarinya dengan segera bertaubat kepada Allah.

Manusia memang tempat salah dan dosa. Namun, bukan berarti manusia harus selalu berlumur dosa dan salah lalu tidak pernah mau memohon ampun kepada Allah agar semua dosanya dihapuskan. Dosa itu memang tidak terlihat layaknya kita melihat benda disekitar. Tapi dosa itu   pasti akan dirasakan dan selalu membuat si pelaku dosa itu gelisah sepanjang masa jika saja ia tidak segera bertaubat.

Tak ada yang membuat hati seorang muslim gundah kecuali jika ada kesalahan atau dosa yang sedang bersarang di hatinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda tentang arti dosa itu sendiri. dalam hadits an-Nawwâs bin Sam’ân, “Dosa adalah apa saja yang membuat bimbang (ragu) hatimu dan engkau tidak suka dilihat (diketahui) oleh manusia.”

Semoga Allah Ta’ala mengabulkan semua doa yang kita panjatkan selama itu yang terbaik menurut Allah untuk kehidupan di dunia dan akhirat, wallahua’lam.[BA]