adab

Adab Seorang Da’i

Memilih hidup menjadi seorang da’i adalah sebuah kemuliaan. Baik buruknya umat ini, berkaitan erat bagaimana dakwah yang dilakukan oleh para da’i. Karena itu, membekali diri sebelum terjun ke dunia dakwah bagi setiap orang yang memilih profesi ini (da’i), adalah sebuah kewajiban. Bagaimana mungkin seorang yang tak berilmu akan membagikan ilmunya kepada orang lain yang juga tak berilmu? Bagaimana mungkin seseorang yang tak berlilin akan menerangi orang lain? Begitulah da’i.

Sebelum ia terjun ke rimba kehidupan bermasyarakat, sejatinya dia membekali dirinya dengan berbagai bekal. Selanjutnya, bekal yang sudah dimiliki seorang da’i belum bisa dibilang cukup bila ia masih belum pula memahami Adab-adab Seorang Menjadi seorang Da’i. Berikut ini setidaknya beberapa adab yang perlu diketahui oleh seorang da’i agar dakwahnya berhasail. Adab-adab itu antara lain sebagai berikut.

Pertama : Ikhlas di dalam dakwah

Ikhlas adalah sebuah keharusan dalam menjalankan dakwah ke jalan Allah Azza wa Jalla. Ikhlas merupakan adab yang paling agung dan merupakan esensi dakwah serta merupakan pondasi keberhasilan amal dakwah. Dakwah ke jalan Allah adalah ibadah untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (Qs. al-Bayyinah : 5)

Seorang da’i terlarang beramal atas dasar riya’ (pamer agar dilihat orang) dan sum’ah (pamer agar didengar orang). Jangan pula untuk mengambil dunia dan reruntuhan yang fana (tidak kekal) lagi akan lenyap. Hendaklah lisannya senantiasa mengucapkan :

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ

Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah.” (Qs. al-Furqon : 57)

Jangan mencari harta dalam dakwah, kedudukan dan jangan pula syuhroh (popularitas). Namun wajib baginya beramal hanya mengharapkan wajah Allah Ta’ala semata.

Kedua : Ilmu

Ilmu adalah hal penting dan utama yang wajib dicari oleh seorang da’i sebelum ia menyampaikan dakwahnya. Tentu saja yang dimaksud ilmu di sini utamnya adalah ilmu syariah, yang diwariskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Hendaklah ia berdakwah di atas bashiroh (keterangan yang jelas), karena Allah berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Qs. Yusuf : 108)

Allah sendiri telah menetapkan di dalam kitab-Nya yang mulia tentang pentingnya bagi para du’at untuk mempelajari ilmu syar’i, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya bila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Qs. at-Taubah: 122)

Ilmu syar’i itu wajib bagi setiap muslim, tapi kewajibannya lebih ditekankan dan diharuskan lagi bagi da’i, ikarena perkaranya tidak dikhususkan hanya melulu kepadanya, tapi juga kembali kepada selainnya. Oleh karena itu, seseorang harus berupaya memahami tingkatan yang memadai tentang hakikat Islam dan hukum-hukum syariat, sehingga manusia menjadi yakin dengan ilmunya dan menerima dakwahnya.

Ketiga : Mengamalkan Ilmu

Hal ini termasuk perkara yang penting di dalam kehidupan seorang da’i. Seorang da’i tanpa amal bagaikan seorang pemanah tanpa busur. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah mencela orang-orang yang berupaya melakukan perbaikan terhadap manusia tapi melupakan diri mereka sendiri,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Qs. al-Baqarah : 44)

Dan firman-Nya yang lain,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Qs. ash-Shaff: 2-3)

Bila seorang da’i adalah orang yang shalih (lurus) dan mustaqim (jujur) terhadap dirinya sendiri, maka manusia akan bersegera menerima ucapannya dan mendengar perkataannya, dan ia akan menjadi orang yang berpengaruh terhadap masyarakat.

Keempat : Mendahulukan yang prioritas

Sesuatu yang pertama kali diserukan oleh para rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam adalah dakwah kepada aqidah shahihah, karena aqidah shahihah merupakan pondasi. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (Qs. al-Anbiya’: 25)

Bila aqidah telah lurus, mereka menyeru kepada perkara-perkara agama lainnya, baik berupa perkara-perkara yang fardhu (wajib), nafilah (sunnah), adab dan selainnya. Untuk itu wajib bagi setiap da’i supaya mendahulukan yang prioritas di dalam dakwahnya, dan yang demikian ini merupakan sebab-sebab diperolehnya kesukesan di dalam dakwah.

Kelima : Sabar

Sabar merupakan penopang yang paling kuat bagi seorang da’i yang sukses. Seorang da’i itu membutuhkan kesabaran sebelum, ketika dan setelah berdakwah. Dengan inilah Allah memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, Ia berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya ulul azmi dari para rasul.”

Sabar di dalam dakwah kedudukannya bagaikan kepala terhadap jasad. Maka tidak ada dakwah bagi orang yang tidak memiliki kesabaran sebagaimana tidak ada jasad bagi orang yang tidak memiliki kepala.

Seorang da’i harus bisa bersabar atas dakwahnya dan terhadap apa yang ia dakwahkan, karena dakwah ke jalan Allah adalah jalan yang dipenuhi dengan kesukaran-kesukaran dan kesulitan-kesulitan. Seorang da’i, ia pasti akan menghadapi berbagai bentuk gangguan, hinaan dan cercaan, bila ia sabar terhadapnya, maka ia adalah seorang imam yang patut diteladani, Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (Qs. as-Sajdah : 24)

Telah ada pada kekasih kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam uswah hasanah (panutan yang baik) bagi diri kita, beliau telah melangsungkan dakwahnya selama 23 tahun, berdakwah menyeru kepada Allah siang dan malam, secara diam-diam maupun terang-terangan. Namun, tidak ada satupun yang dapat memalingkan beliau dari dakwahnya dan tidak ada pula yang dapat mengehentikan upaya beliau.

Beliau mendapatkan berbagai kesulitan dan gangguan dari kaumnya, sampai-sampai gigi serinya patah, pipinya terluka. Bahkan suatu hari sempat sebilah pedang telah dihunuskan pada dadanya. Namun ia tetap bersabar dengan kesabaran yang belum pernah dialami nabi sebelumnya. Ia senantiasa menyebarkan agama Allah dan menegakkan jihad terhadap musuh-musuh Allah.

Bersabar atas segala gangguan yang menimpa, sehingga Allah kokohkan kedudukannya di bumi dan Allah menangkan agamanya dari semua agama serta Allah menangkan umatnya dari seluruh ummat.

Keenam : Berakhlak yang baik

Di antara bentuk akhlak yang baik adalah penuh kasih sayang, lemahlembut, ramah, wajah yang berseri-seri, tawadhu’ (rendah hati) dan tutur katanya halus. Allah Azza wa Jalla telah menyanjung panutan para du’at Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh pada dirimu terdapat perangai yang agung.

Umat Islami ini memiliki teladan yang baik pada diri Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam. Betapa banyak orang yang masuk Islam disebabkan oleh kelemahlembutan, kemuliaan dan sifat pengasihnya, padahal dahulunya mereka adalah orang yang berada di atas kejahiliyahan, lalu menjadi sahabat mulia yang berperangai baik.

Siapa saja dari para du’at yang tidak berperangai dengan akhlak yang baik, maka ia akan menyebabkan manusia lari darinya dan dari dakwahnya. Karena tabiat manusia itu, mereka tidak mau menerima dari orang yang suka mencela dan menunjukkan pendiskreditan terhadap mereka, walaupun yang diucapkan orang itu adalah benar tanpa ada kebimbangan sedikitpun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali ’Imran : 159)

Ketujuh : Hikmah

Hendaklah dakwah ke jalan Allah itu dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik serta penuh kelemahlembutan ketika menerangkan kebenaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah ke jalan tuhanmu dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik.” (Qs. an-Nahl : 125)

Bila dakwah ke jalan Allah dilakukan dengan sikap kasar dan kejam, maka akan lebih banyak mudharatnya daripada memberikan manfaat.

Kedelapan : Penuh Perhatian

Wajib bagi seorang da’i memiliki pengetahuan terhadap realita di negeri yang ia berdakwah di dalamnya dan mengetahui kondisi manusia yang ia dakwahi. Karena itu ia harus mengerti setiap permasalahan-permasalahan yang terjadi dan problematika-problematika yang tersebar di masyarakat, sehingga ia menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang mantap dan ia bisa memilih cara dakwah yang tepat bagi orang yang didakwahinya dan mengetahui tema-tema pembahasan yang penting bagi mereka.

Kesembilan : Tenang (tidak terburu-buru) dan tatsabbut (verifikasi)

Termasuk ciri utama yang membedakan seorang da’i yang berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla adalah, bersikap ta`anni (tenang/tidak terburu-buru) dan tatsabbut (verifikasi/cek dan ricek) terhadap segala perkara yang terjadi dan semua berita yang ada. Maka janganlah dia bersikap tergesa-gesa sehingga menghukumi manusia dengan apa yang tidak ada pada mereka, yang dapat menyebabkan dia menyesal dan bersedih hati diakibatkan sikap ketergesa-gesaannya. Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. al-Hujuraat: 6)

Kesepuluh : Tidak Berputus Asa

Sebagian du’at, bila orang yang didakwahi tidak menerima dakwah mereka, hal ini menyebabkannya menjadi putus asa dan putus harapan sehingga ia meninggalkan dakwah. Padahal merupakan kewajiban bagi seorang da’i untuk mengetahui bahwa kewajiban atasnya hanyalah menegakkan hujjah dan melepaskan tanggungan (kepada Allah), seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan berkenaan dengan suatu kaum yang mengingkari perbuatan ashabus sabt (yaitu Bani Israil) yang buruk, Allah berfirman tentang mereka yang menyatakan,

لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

”Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras? mereka menjawab: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Qs al-A’raaf : 164)

أسأل الله العلي القدير أن يوفقنا لما فيه رضاه، وأن يهدينا صراطه المستقيم، وأن يجعلنا من العاملين بشرعه، الداعين إلى دينه على بصيرة، إنه سميع مجيب

Semoga Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Berkuasa senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita terhadap segala hal yang diridhai-Nya dan menunjuki kita kepada jalan-Nya yang lurus serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan syariat-Nya dan orang-orang yang berdakwah menyeru kepada agama-Nya di atas bashiroh, wallahua’lam.[]

(Sumber: Buku Bekal Bagi Para Dai Di Jalan Dakwah, karya Faqihuz Zaman al-Imam al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rh.)

 

 

 

Ini Adab Islam dalam Bermedia Sosial

Seperti dikutip dari situs mui.or.id, berikut adalah sebuah bahasan tentang bagaimana bermedia sosial menurut ajaran Islam. perkembangan zaman modern membuat kehidupan manusia dari berbagai aspek berubah. Salah satu perubahan itu terdapat pada aspek muamalah.

Adapun muamalah yang dimaksud dalam konteks ini bukan kegiatan transaksi jual beli, melainkan lebih kepada proses interaksi sosial baik individu maupun kelompok yang terkait dengan hubungan antarmanusia meliputi kegiatan pembuatan (produksi), penyebaran (distribusi), akses (konsumsi) suatu informasi yang dilakukan melalui platform media sosial.

Kemunculan media sosial sebagai salah satu tanda kemajuan teknologi, turut memberi sumbangsih adanya perubahan terkait cara kita bermuamalah di kehidupan sehari-hari.

Secara konvensional, dahulu manusia biasa melakukan interaksi sosial melalui tatap muka. Namun kebiasaan ini perlahan berubah dengan kehadiran teknologi di hidup manusia. Sekarang melalui gawai, kita sudah bisa melakukan berbagai macam jenis interaksi sosial termasuk bermuamalah didalamnya.

Menyikapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait pedoman bermuamalah di media sosial berdasarkan tuntunan agama, agar dalam bermuamalah melalui media sosial dapat berjalan dengan kondusif dan terhindar dari hal-hal yang menjurus pada perbuatan negatif.

Berikut ini hukum dan pedoman kegiatan bermuamalah di media sosial yang baik, merujuk pada Fatwa MUI No 24 Tahun 2017:

Pertama, bermuamalah dilandasi dengan iman dan taqwa pada Allah SWT.

Dalam bermuamalah dengan sesama, baik dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap Muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu‟asyarah bil ma‟ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma‟ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu an al-munkar)

Kedua, memperhatikan adab saat bermuamalah

Setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan etika atau adab saat bermuamalah, baik pada sesama umat muslim maupun yang bukan Muslim.

Konsep bermuamalah yang baik adalah senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran serta kemaksiatan. Selain itu, muamalah juga dapat dijadikan ajang untuk mempererat persaudaraan (ukhuwwah),baik persaudaraan keislaman (ukhuwwah Islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah), maupun persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah).

Ketiga, dilarang menghasut dan memfitnah di media sosial

Setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk melakukan ghibah, fitnah, berprasangka buruk, namimah (adu domba), penyebaran permusuhan, melakukan bullying, ujaran kebencian, dan ajakan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antargolongan. Persoalan-persoalan ini secara tegas dibahas dan dilarang berdasarkan dalil berikut,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat, Mahapenyayang. (QS Al Hujurat: 12)

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, yang suka mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. (QS Al Qalam 10 – 11)

عَنْ حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ (رواه البخاري و مسلم )

“Tidak akan masuk surga, ahli namimah (adu domba).” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Keempat, tidak melanggar ketentuan agama dan hukum undang-undang yang berlaku

Bermuamalah melalui media sosial harus dilakukan tanpa melanggar ketentuan agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain menjaga dari sisi agama, hendaknya juga kita perhatikan hukum bermuamalah melalui media sosial yang diatur negara.

Dalam hukum negara, hal ini diatur dalam UU No. 19 Tahun 2016 sebagai perubahan atas UU N0. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), ada lima pasal yang mengatur etika bermedia sosial, mulai dari pasal 27-30. Undang-undang ini mengatur tentang konten yang tidak selayaknya diunggah, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, termasuk juga mencuri data tanpa izin.

Kelima, verifikasi kebenaran informasi/konten yang diterima

Setiap orang yang memperoleh konten/informasi melalui media sosial (baik yang positif maupun negatif) tidak boleh langsung menyebarkannya sebelum diverifikasi dan dilakukan proses tabayun serta dipastikan kemanfaatannya.

Upaya melakukan tabayun juga lebih baik dilakukan secara tertutup kepada pihak yang terkait, tidak dilakukan secara terbuka di ranah publik (seperti melalui group media sosial), yang bisa menyebabkan konten/informasi yang belum jelas kebenarannya tersebut semakin beredar luas ke publik. Dalil anjuran tabayun adalah sebagai berikut,

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ جَآءَكُمۡ فَاسِقٌ ۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوۡۤا اَنۡ تُصِيۡبُوۡا قَوۡمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصۡبِحُوۡا عَلٰى مَا فَعَلۡتُمۡ نٰدِمِيۡنَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al Hujurat: 6)

Keenam, perhatikan isi konten/informasi sebelum disebarkan ke khalayak luas

Pembuatan konten/informasi yang akan disampaikan ke ranah publik harus berdampak baik bagi penerima dalam mewujudkan kemaslahatan serta menghindarkan diri dari kemafsadatan.

Kontennya tidak menyebabkan dorongan untuk berbuat hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti pornografi, visualisasi kekerasan yang terlarang, umpatan, dan provokasi. Jangan tergesa-gesa menyampaikan informasi yang belum teruji validitasnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ ” (أخرجه البيهقي

Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ketenangan itu datang dari Allah SWT dan ketergesaan itu dari setan.” (HR Al Baihaki)

Ketujuh, penyebaran konten/informasi dilakukan apabila sudah teruji kebenarannya

Konten/informasi yang akan disebarkan kepada khalayak umum harus memenuhi kriteria baik dari sisi isi, sumber, waktu dan tempat, latar belakang serta konteks informasi disampaikan.

Selain itu, perlu diperhatikan juga informasi tersebut cocok dan layak diketahui oleh masyarakat dari seluruh lapisan sesuai dengan keragaman orang/khalayak yang akan menjadi target sebaran informasi.

Tidak disarankan untuk menyebarkan informasi, apabila informasi tersebut tidak cocok atau sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu.
Demikian garis besarnya, poin-poin yang harus diperhatikan ketika bermuamalah melalui media sosial berdasarkan tuntunan fatwa MUI yang didasari dengan dalil yang syar’i.[]

 

Di Antara Adab Da’i

Seorang da’i, sebelum ia terjun ke rimba kehidupan bermasyarakat, sejatinya dia membekali dirinya dengan berbagai bekal. Selanjutnya, bekal yang sudah dimiliki seorang da’i belum bisa dibilang cukup bila ia masih belum pula memahami adab-adab menjadi seorang da’i. Berikut ini setidaknya beberapa adab yang perlu diketahui oleh seorang da’i agar dakwahnya berhasail. Adab-adab itu antara lain sebagai berikut.

Pertama. Ikhlas di dalam dakwah. Ikhlas adalah sebuah keharusan dalam menjalankan dakwah. Ikhlas merupakan adab yang paling agung dan merupakan esensi dakwah serta merupakan pondasi keberhasilan amal dakwah dan syarat diterimanya suatu ibadah,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (Qs. al-Bayyinah : 5)

Kedua. Ilmu. Ilmu adalah hal penting dan utama yang wajib dicari oleh seorang da’i sebelum ia menyampaikan dakwahnya. Tentu saja yang dimaksud ilmu di sini utamnya adalah ilmu syariah, yang diwariskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Hendaklah ia berdakwah di atas bashiroh (keterangan yang jelas), karena Allah berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: Inilah jalan (agama)ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Qs. Yusuf : 108).

Ilmu syar’i itu wajib bagi setiap muslim, tapi kewajibannya lebih ditekankan dan diharuskan lagi bagi da’i, karena perkaranya tidak dikhususkan hanya melulu kepadanya, tapi juga kembali kepada selainnya.

Ketiga. Mengamalkan Ilmu. Hal ini termasuk perkara yang penting di dalam kehidupan seorang da’i. Seorang da’i tanpa amal bagaikan seorang pemanah tanpa busur. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah mencela orang-orang yang berupaya melakukan perbaikan terhadap manusia tapi melupakan diri mereka sendiri,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Qs. al-Baqarah : 44)

Keempat. Mendahulukan yang prioritas. Sesuatu yang pertama kali diserukan oleh para rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam adalah dakwah kepada aqidah shahihah, karena aqidah shahihah merupakan pondasi. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (Qs. al-Anbiya’: 25)

Kelima. Sabar. Sabar merupakan penopang yang paling kuat bagi seorang da’i yang sukses. Seorang da’i itu membutuhkan kesabaran sebelum, ketika dan setelah berdakwah. Dengan inilah Allah memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, Ia berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya ulul azmi dari para rasul.”

Sabar di dalam dakwah kedudukannya bagaikan kepala terhadap jasad. Maka tidak ada dakwah bagi orang yang tidak memiliki kesabaran sebagaimana tidak ada jasad bagi orang yang tidak memiliki kepala.

Seorang da’i harus bisa bersabar atas dakwahnya dan terhadap apa yang ia dakwahkan, karena dakwah ke jalan Allah adalah jalan yang dipenuhi dengan kesukaran-kesukaran dan kesulitan-kesulitan. Seorang da’i, ia pasti akan menghadapi berbagai bentuk gangguan, hinaan dan cercaan, bila ia sabar terhadapnya, maka ia adalah seorang imam yang patut diteladani, Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (Qs. as-Sajdah : 24).

Keenam. Berakhlak yang baik. Di antara bentuk akhlak yang baik adalah penuh kasih sayang, lemahlembut, ramah, wajah yang berseri-seri, tawadhu’ (rendah hati) dan tutur katanya halus. Allah Azza wa Jalla telah menyanjung panutan para du’at Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh pada dirimu terdapat perangai yang agung.

Umat Islami ini memiliki teladan yang baik pada diri Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam. Betapa banyak orang yang masuk Islam disebabkan oleh kelemahlembutan, kemuliaan dan sifat pengasihnya, padahal dahulunya mereka adalah orang yang berada di atas kejahiliyahan, lalu menjadi sahabat mulia yang berperangai baik.

Ketujuh. Hikmah. Hendaklah dakwah ke jalan Allah itu dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik serta penuh kelemahlembutan ketika menerangkan kebenaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah ke jalan tuhanmu dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik.” (Qs. an-Nahl : 125)

Bila dakwah ke jalan Allah dilakukan dengan sikap kasar dan kejam, maka akan lebih banyak mudharatnya daripada memberikan manfaat.

Kedelapan. Penuh perhatian. Wajib bagi seorang da’i memiliki pengetahuan terhadap realita di negeri yang ia berdakwah di dalamnya dan mengetahui kondisi manusia yang ia dakwahi. Karena itu ia harus mengerti setiap permasalahan-permasalahan yang terjadi dan problematika-problematika yang tersebar di masyarakat, sehingga ia menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang mantap dan ia bisa memilih cara dakwah yang tepat bagi orang yang didakwahinya dan mengetahui tema-tema pembahasan yang penting bagi mereka.

Kesembilan. Tenang (tidak terburu-buru) dan tatsabbut (verifikasi). Termasuk ciri utama yang membedakan seorang da’i yang berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla adalah, bersikap ta`anni (tenang/tidak terburu-buru) dan tatsabbut (verifikasi/cek dan ricek) terhadap segala perkara yang terjadi dan semua berita yang ada. Maka janganlah dia bersikap tergesa-gesa sehingga menghukumi manusia dengan apa yang tidak ada pada mereka, yang dapat menyebabkan dia menyesal dan bersedih hati diakibatkan sikap ketergesa-gesaannya. Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. al-Hujuraat: 6)

Kesepuluh. Tidak berputus asa. Sebagian du’at, bila orang yang didakwahi tidak menerima dakwah mereka, hal ini menyebabkannya menjadi putus asa dan putus harapan sehingga ia meninggalkan dakwah. Padahal merupakan kewajiban bagi seorang da’i untuk mengetahui bahwa kewajiban atasnya hanyalah menegakkan hujjah dan melepaskan tanggungan (kepada Allah), seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan berkenaan dengan suatu kaum yang mengingkari perbuatan ashabus sabt (yaitu Bani Israil) yang buruk, Allah berfirman tentang mereka yang menyatakan,

لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

”Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras? mereka menjawab: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (Qs al-A’raaf : 164).

Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada setiap da’i, wallahua’lam.[]

(Sumber: Buku Bekal Bagi Para Dai Di Jalan Dakwah, karya Faqihuz Zaman al-Imam al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rh.)