amalan

Ini Amalan yang Mendatangkan Rezeki

Hal-hal terbesar menurut Al Quran dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang menjadi penyebab seseorang memperoleh rezeki, kebaikan, dan keberkahan. Oleh karena itu, khotib mengajak para jamaah untuk merenungi ayat-ayat Alquran dan hadits-hadit Nabi yang akan kami sampaikan.

Pertama: Iman kepada Allah, amal shaleh, dan takwa kepada Allah Jalla wa ‘Ala adalah sebab terbesar yang bisa mendatangkan rezeki. Inilah asas, inti kebaikan, dan keberkahannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. Al-Hajj: 50).

Dia juga berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Kedua: Tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Dalam hadits dari Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad).

Ketiga: Sabar adalah kunci yang membuka kesulitan dan pintu kemudahan. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Keempat: Doa adalah kunci segala kebaikan di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang Allah berikan taufik untuk berdoa, maka tidak yang menghalangi doanya terkabul. Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menolak doa seorang hamba dan Dia tidak akan membuat kecewa seoarang mukmin. Di antara lafdz doa yang diajarkan Alquran adalah:

وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama.” (QS. Al-Maidah: 114).

Siapa yang mendapatkan kesulitan dan terlilit hutang, maka hendaknya ia memperbanyak doa kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Imam at-Tirmidzi dan selainnya meriwayatkan dari Ali radhiallahu ‘anhu.

عَنْ عَلِىٍّ رضى الله عنه أَنَّ مُكَاتَبًا جَاءَهُ فَقَالَ إِنِّى قَدْ عَجَزْتُ عَنْ كِتَابَتِى فَأَعِنِّى. قَالَ أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلِ صِيرٍ دَيْنًا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْكَ قَالَ « قُلِ اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ ».

“Ali radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seorang budak yang ingin memerdekakan dirinya pernah mendatanginya dan berkata, “Sesungguhnya aku tidak sanggup untuk melunasi diriku, maka tolonglah aku.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Maukah kamu aku ajarkah beberapa doa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajariku. Jikalau kamu mempunyai hutang seperti gunung Shir, niscaya Allah akan melunaskan hutangmu, katakan-lah:

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Wahai Allah, cukupkanlah aku dengan harta yang halal darimu dan berilah kekayaan kepadaku dengan kemurahaan-Mu, yang aku tidak berharap dari selain-Mu.” (HR. Trimidzi).

Dalam hal ini, harus terdapat niat yang benar. Saat seseorang berhutang kepada yang lainnya, maka wajib disertai niat bersungguh-sungguh akan mengembalikan uang tersebut. Dengan niat yang benar seperti ini, maka Allah akan anugerahkan kepadanya rezeki dan pertolongan.

Dalam Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Siapa yang mengambil harta manusia, dan ia ngin melunasinya niscaya Allah akan melunasinya. Dan barangsiapa yang mengambilnya (dengan niat) ingin menghilangkannya niscaya Allah akan menghancurkannya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ كَانَتْ لَهُ نِيَّةٌ فِى أَدَاءِ دَيْنِهِ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنٌ

“Tidaklah seorang hamba mempunyai niat melunasi hutangnya, melainkan ia memiliki pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla.”

Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i dari Maimunah radhiallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَحَدٍ يدانُ دَيْنًا فَعَلِمَ اللَّهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قَضَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا

“Tidaklah ada orang yang berhutang, dan Allah mengetahui bahwa ia berniat melunasi hutangnya, melainkan Allah akan melunasinya di dunia.”

Kelima: Bersyukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita termasuk sebab bertambahnya rezeki, melanggengkan kenikmatan yang sudah ada, dan mendatangkan kenikmatan yang belum diraih. Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Ala,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Keenam: Memperbanyak taubat dan istighfar. Taubat kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun akan mendatangkan rezeki dan berbagai kebaikan serta keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu.” (QS. Hud: 3).

Firman-Nya juga,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارً

“Maka aku katakan kepada mereka: ´Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

Ketujuh: Menjaga silaturahim. Silaturahmi atau silaturahim juga termasuk di antara sebab diluaskannya rezeki seseorang. Dalam Shahihain, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim.”

Kedelapan: Berinfak, sedekah, dan mendermakan harta di jalan Allah. Yang kedelapan adalah hendaknya seseorang mendermakan hartanya di jalan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Tidaklah berkurang harta karena disedekahkan.”

Kesembilan: Berikutnya adalah haji dan umrah akan mendatangkan rezeki. Haji dan umrah dapat menghilangkan kefakiran. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan selainnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagai-mana pembakaran menghilangkan karat pada besi…”

Kesepuluh: Menikah dan mempunyai anak. Menikah dan mempunyai anak dapat menambah dan mendatangkan rezeki. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.” (QS. An-Nur: 32).

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al-Isra: 31).

Demikian beberapa sebab datangnya rezeki yang bersumber dari Allah dan  Rasul-Nya. Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk mengamalkannya, wallahua’lam.[]

Tiga Amalan Penghapus Kesalahan dan Mengangkat Derajat

Bagi seorang muslim, menjadi mulia adalah sebuah kemuliaan. Berbagai cara yang telah dicontohkan oleh Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasalam dan para sahabat untuk menjadi mulia pun akan diikuti. Masalahnya, tidak setiap muslim tahu bagaimana jalan menuju kemuliaan tersebut.

Berikut ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menceritakan amalan apa saja yang bisa mengangkat derajat seorang muslim menjadi mulia.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ألَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللّٰهُ بِهِ الخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللّٰهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إِلَى المَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بَعْدَ الصَّلاةِ فَذلِكُمُ الرِّبَاطُ. (رواه مسلم)

Artinya, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu katanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sukakah engkau semua saya tunjukkan pada sesuatu amalan yang dengannya Allah akan menghapuskan segala macam kesalahan serta mengangkat pula dengannya tadi sampai beberapa darajat?” Para sahabat menjawab, “Baik, ya Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yaitu menyempurnakan wudhu’ sekalipun menghadapi kesukaran-kesukaran banyaknya, melangkahkan kaki untuk pergi ke masjid serta menantikan shalat setelah selesai shalat yang satunya. Yang sedemikian itulah yang dinamakan ribat (perjuangan).” (HR. Muslim).

Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas adalah motivasi bagi setiap muslim untuk meraih kemuliaan dan terangkatnya derajat hidup. Ada beberapa penjelasan yang bisa dipetik sebagai pelajaran dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas, sebagai berikut.

Pertama, menyempurnakan wudhu’ sekalipun menghadapi kesukaran. Misalnya di saat udaranya dingin sekali biasanya orang akan merasa berat sekali untuk berwudhu’, sehingga airnya pun menjadi sangat dingin rasanya. Nah, ketika seorang bisa mengalahkan rasa dinginnya udara pagi untuk segera melakukan wudhu’ maka insya Allah akan dihapuskan tiga kesalahan darinya dan akan diangkat derajatnya.

Bisa jadi tiga kesalahannya yang akan dihapus oleh Allah itu adalah kesalahan yang dia sendiri tidak menyadari pernah melakukannya. Dan bukan hanya sampai disitu, Allah Ta’ala juga akan mengangkat derajatnya hingga beberapa derajat. Betapa mulianya menjadi orang beriman yang imannya benar dan tak tercampuri kesyirikan.

Kedua, dalam hadits di atas dijelaskan bahwa senantiasa berthaharah yakni tetap suci dari hadats besar dan kecil, juga shalat dan segala sesuatu yang dilakukan ditujukan untuk niat beribadah dan berbakti kepada Allah, adalah sama pahalanya dengan berjihad fi-sabilillah.

Ribat atau berjaga-jaga dalam shalat adalah sebuah keutamaan. Artinya, orang yang menegakkan shalat itu mampu menjaga agar shalatnya membuahkan hasil bukan sebaliknya, shalat jalan maksiat pun jalan. Bahkan orang yang bisa menjaga shalat yang satu ke shalatnya yang lain, dihukumi sebagai orang yang sudah melakukan jihad fi-sabilillah. Disinilah betapa shalat itu adalah hal utama dalam hidup seorang muslim.

Ketiga, disebut ribat tiga perkara itu karena musuh yang utama bagi manusia adalah hawa nafsunya. Adapun tiga perkara tersebut adalah sebagai berikut. 1). Menyempurnakan wudhu’ sekalipun menghadapi kesukaran-kesukaran banyaknya. 2). Melangkahkan kaki untuk pergi ke masjid, dan 3). Menantikan shalat setelah selesai shalat yang satunya.

4). Tiga amalan itu (yang disebut dalam hadits) untuk membendung jalan-jalan syetan dan hawa nafsu. Karena jihadun nafs merupakan jihad yang paling besar. 5). Maka siapa bisa melestarikan tiga perkara di atas, akan dihapus kesalahan dan diangkat derajatnya. Semoga kita diberikan hidayah dan kemampuan untuk mengamalkannya.

Tema hadits yang berkaitan dengan ayat Al-Qur’an

Pertama, bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan;

وَجَاهِدُوا فِي اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۞

“Dan berjihadlah pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Qs. Al-Hajj/22: 78).

Kedua, yaitu takut akan hari ia dihadapkan kepada Allah SWT dan takut akan keputusan Allah terhadap dirinya di hari itu, lalu ia menahan hawa nafsunya dan tidak memperturutkannya serta menundukkannya untuk taat kepada Tuhannya, surga tempatnya;

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۞ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ۞

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An-Nazi’at/79: 41).

Semoga kaum muslimin senantiasa dikaruniai ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh, karena hanya Allah-lah yang memberi taufiq dan hidayah, wallahua’lam.[]