Freedom for Palestina

4 Tahun Dipenjara Israel, Firas Al-Zubaidi Aktivis Palestina Hirup Udara Bebas

GAZAMEDIA, NABLUS – Firas Kamel Zubeidi (37) salah seorang aktivis berkebangsaan Palestina akhirnya menghirup udara bebas setelah menjalani masa tahanan selama 4 tahun di dalam kamp penjara Israel. Selasa (1/3) kemarin.

Informasi yang dihimpun GAZAMEDIA, Firas merupakan warga Kota Nablus, Tepi Barat, Palestina. Ia di jatuhi hukuman penjara selama 4 tahun lamanya tanpa kesalahan yang jelas. Pihak Israel menangkap Zubeidi dengan tuduhan sebagai tokoh pergergerakan Hamas perwakilan di kawasan Tepi Barat.

Sementara itu,  dari sumber Asosiasi Tawanan Nasional Palestina pasukan penjajah telah menangkap Zubeidi pada Mei 2018 silam setelah mengepung rumahnya di Nablus dan membawanya ke penyelidikan di Petah Tikva Center, yang berlangsung selama satu setengah bulan.

Dua bulan lalu, intelijen penjajah klaim menemukan “Tokoh Pergerakan Hamas” di Tepi Barat, yang terdiri dari 20 lebih aktivis yang berencana lakukan operasi gerilya ke 48 wilayah pemukiman ilegal “Yahudi” yang tersebar di Tepi Barat.

Selain itu, pihak Israel juga mengeklaim kelompok tersebut akan melakukan agenda pengkaderan terhadap sejumlah aktivis dalam  memproduksi bahan peledak.

Media tahanan Israel melaporkan bahwa Pengadilan Militer Salem telah menunda persidangan Zubeidi puluhan kali sebelum menjatuhkan hukuman terhadapnya. Setelah dua setengah tahun penangkapannya dia dijatuhi hukuman 4 tahun penjara ditambah denda sebesar 10.000 shekel.

Zubeidi menghabiskan seluruh hukumannya didalam penjara, kini aktivis tersebut telah kembali ketengah-tengah keluarga tercintanya. [ML/OGY/CKY]

Hore…Pengadilan Israel Bekukan Pengusiran Warga Palestina di Sheikh Jarrah

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Pengadilan Israel membekukan rencana penggusuran sebuah rumah milik keluarga Palestina di distrik Sheikh Jarrah di Yerusalem timur. Pembekuan ini diputuskan oleh pengadilan setempat sambil menunggu hasil banding dari makamah tingkat tinggi, Selasa (22/2) kemarin.

Keluarga Salem telah diperintahkan untuk menyerahkan properti itu kepada pemukim Yahudi yang telah mengklaim kepemilikan petak tanah tersebut. Sheikh Jarrah telah menjadi simbol perlawanan Palestina terhadap kontrol Israel atas Yerusalem, dan pengusiran segera keluarga Salem membuat mereka menjadi pemantik ketegangan yang berkembang di sana.

Pertempuran hak atas tanah antara pemukim Yahudi dan Palestina di lingkungan itu telah memicu bentrokan dan sebagian memicu perang 11 hari pada bulan Mei antara Israel dan kelompok bersenjata di Jalur Gaza. Keluarga Palestina menerima perintah pengusiran mereka pada bulan November, dengan tenggat waktu untuk mengosongkan pada 1 Maret.

Seorang pengacara untuk keluarga tersebut, Medhat Diba, mengatakan pengadilan Yerusalem Magistrate setuju untuk menangguhkan penggusuran sampai memutuskan banding yang diluncurkan oleh warga Palestina itu.  Pengadilan juga merilis keputusan yang mengkonfirmasi pembekuan.

“keputusan itu adalah langkah positif karena kami berada di ambang kehilangan rumah kami,” kata Khalil Salem, seorang anggota keluarga, kepada AFP seperti dilansir dari France24, Rabu (23/20.

Awal bulan ini bentrokan pecah ketika anggota parlemen sayap kanan Israel Itamar Ben Gvir membuka “kantor” tenda di dekat rumah keluarga itu setelah dugaan pembakaran rumah pemukim Palestina di dekatnya. PBB mengatakan personelnya mengunjungi keluarga Salem pada 18 Februari.

Israel mencaplok Yerusalem timur, yang diklaim Palestina sebagai Ibu Kota masa depan mereka, setelah Perang Enam Hari 1967 dalam sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional. Kelompok pemukim Yahudi telah memenangkan kemenangan hukum mengklaim kepemilikan berbagai petak tanah di mana warga Palestina tinggal, menggunakan hukum Israel yang memungkinkan orang Yahudi untuk merebut kembali tanah yang hilang selama konflik yang bertepatan dengan penciptaan Israel pada tahun 1948.

Tetapi tidak ada hukum reklamasi tanah yang setara bagi warga Palestina yang kehilangan rumah di Yerusalem barat. Tujuh keluarga Palestina di Sheikh Jarrah telah menantang rencana penggusuran mereka di Mahkamah Agung Israel, dengan keputusan yang sangat dinanti-nantikan.

Lebih dari 200.000 pemukim sekarang tinggal di Yerusalem timur, bersama sekitar 300.000 warga Palestina. Permukiman Yahudi di kota itu dianggap ilegal menurut hukum internasional. []

Desember Menjadi Bulan Terpenting bagi Perjuangan Rakyat Palestina

GAZAMEDIA, PALESTINA – Memasuki bulan Desember di Palestina, serangkaian peristiwa dan tragedi terjadi di bumi para nabi, yang didokumentasikan oleh memori Palestina dalam catatan yang penuh dengan pendokumentasian hak-hak orang Palestina dari pelanggaran dan kejahatan Israel, termasuk yang berpihak pada agenda politik dengan mengorbankan hak-hak rakyat Palestina.

Pada bulan ini juga operasi syahid merupakan salah satu bentuk perlawanan yang paling penting, dan membentuk tahap yang lebih matang dalam sejarah perjuangan Palestina, dan menyebabkan puluhan kematian dan luka-luka Israel.

Operasi-operasi ini telah menjadi senjata paling menonjol dalam menghadapi mesin militer Israel yang berbahaya, dan kejahatan terus menerus dari pendudukan terhadap rakyat Palestina.

Bulan ini mendokumentasikan banyak peristiwa yang tidak akan terhapus dari ingatan Palestina
Itu didokumentasikan pada tahun 1987, ditandai dengan pemberontakan populer “intifada batu” di mana anak-anak yang belum menyelesaikan sepuluh tahun berpartisipasi di dalamnya, di bawah kepemimpinan pemuda Palestina yang menggunakan batu sebagai senjata dan menjadikan kematian sebagai ikon kehidupan. []