hisham abu hawash

Syahidnya Abu Hawash Picu Ketegangan Warga Palestina

GAZAMEDIA, PALESTINA – Terkait aksi mogok makan yang dilakukan oleh salah seorang warga Palestina bernama Hisham Abu Hawash di dalam sel penjara Israel mendapat reksi keras warga Palestina. Bahkan, disinyalir aksi tersebut dapat menyulut emosi dan kemarahan warga Palestina yang tak terima atas perlakukan Israel terhadap Abu Hawash.

Sebuah sumber di perlawanan Palestina mengkonfirmasi kepada kantor berita GAZAMEDIA, dipastikan bahwa ketegangan akan meningkat jika Hisham Abu Hawash syahid di dalam penjara Israel akibat aksi mogok makan yang tak kunjung diadili.

Sumber tersebut mengungkapkan pertemuan yang diadakan oleh para pemimpin Hamas dan Jihad Islam, di hadapan para pemimpin militer, untuk menindaklanjuti posisi perlawanan Palestina terhadap situasi Abu Hawash dan bagaimana menanggapi kejahatan Israel.

Sementara itu, sumber lokal mengatakan, Orang-orang kota Dura telah mengumumkan pemogokan massal yang dimulai pada hari Rabu untuk mendukung solidaritas bersama tahanan Abu Hawash.

Di  Nablus, masjid-masjid di kota Beita menyerukan peringatan untuk menghadapi zionis Israel dan mendukung tawanan yang menyerang penjajah.

Hisham Abu Hawash menghadapi bahaya kematian karena melanjutkan mogok makan selama 140 hari berturut-turut untuk menolak penahanan administratifnya. []

Kesehatan Hisham Abu Hawash Kian Memburuk Pasca 138 Hari Jalani Aksi Mogok Makan

GAZA MEDIA, AL-QUDS – Asosiasi Urusan Tahanan Palestina menjelaskan kondisi tahanan Hisham Abu Hawash yang kian memburut atas aksi mogok makan selama 138 hari yang dilakukannya. Kini beratnya hanya 40 kilogram, dan menderita atrofi otot, masalah penglihatan serta gangguan pendengaran yang serius.

Pernyataan pers yang diterima oleh Gaza Media Agency, tahanan Abu Hawash menderita kondisi kesehatan yang sangat parah, ditambah pihak penjajah masih berlakukan hukuman keras dengan tidak membebaskan maupun memberi hak keadilan asasi kemanusiaan untuknya, Sabtu (1/1/22).

Sementara itu, perwakilan Asosiasi Tahanan menegaskan bahwa Abu Hawash seakan menjalani proses pembunuhan yang lambat, membawanya ke tahap kesehatan yang kian memburuk dan sulit diobati kemudian hari. Dengan kesengajaan pihak pengadilan penjajah di bawah kendali intelijen “Israel” memberikan keputusan tidak jelas dan tumpul sebelah terhadap mayoritas tahanan yang menjalani hukuman administratif.

Pihak Asosiasi minta semua lembaga HAM internasional ikut membantu keselamatan hidup Abu Hawash, dan melawan rencan keji penjajah yang terus melabrak pelanggaran dan lancarkan aksi kejahatannya.

Pada gilirannya, faksi Pejuang Palestina menegaskan bahwa “kematian lambat yang dijalani Hisyam Abu Hawash dapat memicu perang.”

Mengingatkan penjajah bahwa pejuang akan bertindak tegas, mengerahkan kekuatan penuh jika tawanan Abu Hawash menjadi syahid.

Patut dicatat bahwa Abu Hawash ditahan sejak 27 Oktober 2020 lalu dengan tiga perintah penahanan administratif terhadapnya. 1 dari 3 dikeluarkan setelah hari ke-70 pemogokannya saat ini. Sebelumnya, Abu Hawash pernah menjalani 8 tahun masa tahanan di penjara penjajah. Ia telah menikah dan mempunyai lima orang anak.[]