kabar palestina

Warga Palestina tewas dalam penembakan di Yerusalem

GAZA MEDIA, YERUSALEM – Pasukan Israel telah membunuh seorang pria Palestina setelah dia melakukan serangan penembakan dan penusukan yang menewaskan seorang warga Israel dan melukai tiga orang lainnya, termasuk dua petugas polisi. Abu Shkheidem , Pria Palestina itu dilaporkan menggunakan senapan mesin ringan dan pisau untuk melakukan serangan.

Insiden itu dimulai pada pukul 9 pagi waktu setempat (07:00 GMT) pada hari Minggu pagi di Kota Tua, di Bab al-Silsila (Gerbang Rantai) ke kompleks Masjid Al-Aqsa, di Yerusalem Timur yang diduduki. Warga Palestina itu diidentifikasi sebagai Fadi Mahmoud Abu Shkheidem, 42 tahun, warga kamp pengungsi Shuafat Yerusalem.

Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Abu Shkheidem secara politik berafiliasi dengan gerakan bersenjata yang berbasis di Gaza yang mengatur Jalur Gaza yang diduduki.

Pria Israel, berusia 30-an, menderita cedera kepala dan meninggal karena luka-lukanya setelah dipindahkan ke rumah sakit, media Israel melaporkan. Seorang warga Israel lainnya, seorang berusia 46 tahun, berada dalam kondisi stabil, menurut sebuah pernyataan oleh Hadassah Medical Center. dikutip dari Al Jazeera

Dua petugas polisi, berusia 30 dan 31 tahun, juga terluka ringan.

Pasukan Israel mulai menyerbu kamp pengungsi Shuafat, yang ditutup di semua sisi oleh tembok pemisah Israel, sekitar pukul 12:30 (10:30 GMT), dan menyerbu rumahnya. Mereka menyebabkan kehancuran yang meluas di rumah itu dan menangkap beberapa anggota keluarga Abu Shkheidem, termasuk putrinya.

Pasukan khusus terlihat menggunakan gas air mata dalam konfrontasi dengan pemuda di sekitar rumah, dan secara paksa mencegah individu, termasuk jurnalis, dari pembuatan film.

Pasukan Israel memulai penarikan mereka dari kamp pengungsi Shuafat dua jam kemudian.Bertentangan dengan hukum internasional, Israel menduduki dan mencaplok bagian timur Yerusalem dan menerapkan hukum domestik ke dalamnya setelah perang 1967.

Sebagian besar masyarakat internasional menganggap Yerusalem Timur sebagai wilayah pendudukan dan tidak mengakui klaim kedaulatan Israel atau pemukiman ilegal di sana.Menurut media lokal, Abu Shkheidem bekerja sebagai guru di sekolah menengah umum putra al-Rashidiya, yang tertua dan satu-satunya yang melayani Muslim Quarter di Kota Tua, dekat Bab az-Zahra (Gerbang Herodes). Perkembangan hari Minggu di Yerusalem Timur yang diduduki terjadi setelah pembunuhan seorang anak laki-laki Palestina berusia 16 tahun, Omar Abu Asab, oleh seorang Israel bersenjata, setelah ia diduga menikam dua petugas polisi perbatasan paramiliter Israel di Kota Tua. []

Ridwan Kamil Perlihatkan Progres Pembanguan Masjid Syeikh Azlin di Gaza Palestina

GAZA MEDIA, JAWA BARAT – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendapat kehormatan untuk mendesai masjid Syeikh Azlin di Gaza Palestina. Desain Masjid Syeikh Azlin di Gaza yang dirancang Ridwan Kamil ini memiliki bentuk yang unik dan meyerupai bentuk dari PS5.

Pada hari ini Jumat, 16 November 2021 Ridwan Kamil perlihatka progress pembangunan Masjid Syeikh Azlin yang ternyata sudah mencapai 50 persen atau setengah jadi.

Masjid Syeikh Azlin di Gaza Palestina sumbangan para dermawan Indonesia sudah progres 50%,” tulis Ridwan Kamil di instagramnya @ridwankamil hari ini. Dia menerangkan, masjid yang sedang dibangun ini sejatinya adalah masjid sekolah tahfidz yang hancur karena perang.

“Masjid sekolah tahfidz yang dulu hancur lebur oleh peperangan ini, masih kekurangan dana membangun, semoga di jumat berkah ini ada sebagian dari kita yang berbaik hati mengulurkan rezekinya,” katanya,

Di akhir keterangannya itu, Ridwan Kamil mengajak masyarakat untuk selalu bersyukur karena bisa beribadah di masjid dengan tenang dan sudah banyak sekali masjid yang berdiri.

“Beruntunglah kita di Indonesia yang rumah ibadah, khususnya masjid banyak sekali berdiri dimana-mana,” lanjutnya.

“Semoga Jumat ini Allah lipatgandakan nikmat dan rahmatnya kepada kita semua. Aamiin,” pungkasnya.[]

Abbas Bertekad Akhiri Perselisihan Antar Faksi dan Menyatukan Tanah Palestina

GAZA MEDIA, KAIRO – Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas bertekad untuk menyatukan tanah Palestina dan mengakhiri perselisihan antar-faksi. Selama ini, faksi-faksi Palestina yang berada di Jalur Gaza dan Tepi Barat masih belum mencapai rekonsiliasi nasional.

“Kami bertekad untuk menyatukan tanah dan rakyat kami dan mengakhiri perselisihan. Dengan pemikiran ini kami terus mendukung dialog antara Fatah, Hamas dan faksi Palestina lainnya demi rekonsiliasi,” tegas Abbas, seperti dikutip dari kantor berita TASS, Senin (22/11/2021).

Untuk mencapai tujuan itu, Abbas mengaku membutuhkan dukungan dari negara-negara sahabat. “Kami ingin menekankan peran luar biasa Mesir dalam menggurusi hal ini (membantu dialog),” lanjut Abbas.

Abbas juga mengapresiasi upaya Rusia untuk mengatur putaran pembicaraan bagi faksi-faksi Palestina dan keinginannya untuk meningkatkan peran Organisasi Pembebasan Palestina.

“Kami menghargai upaya Rusia untuk mengatur putaran pembicaraan bagi faksi-faksi Palestina dan keinginannya untuk meningkatkan peran Organisasi Pembebasan Palestina,” kata Abbas.

Dia menekankan bahwa faksi-faksi terkait mengupayakan pembentukan pemerintah persatuan nasional, dengan semua pihak yang mengikuti hukum internasional.

Tentang pemilihan presiden dan pemilihan badan legislatif Palestina, Abbas mengatakan bahwa pihak berwenang menyerukan untuk menahan mereka, tetapi Israel mencegah organisasi mereka di Yerusalem.

“Ini memaksa kami untuk menunda prosesnya sampai kami memiliki kesempatan untuk menyelenggarakan pemilu seperti yang kami lakukan pada tahun-tahun sebelumnya, sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani,” jelasnya. []

Pasukan Israel Serang Kediaman Gubernur Palestina, Keluarga Dilukai Rumah Dibom

GAZA MEDIA, YERUSALEM – Presiden Mahmoud Abbas mengutuk serangan brutal oleh pasukan Isrsel terhadap gubernur Palestina, Adnan Ghaith beserta keluarganya di Yerusalem pada Senin (22/11/2021) waktu setempat.

Pasukan Israel melemparkan bom suara ke dalam rumah dan menyerang Adnan Ghaith serta melukai beberapa anggota keluarga. Selain menghancurkan isi rumah, pasukan Israel juga menahan tiga kerabat Adnan Ghaith.

Melalui sambungan telepon, Presiden Abbas berbicara dengan Adnan Ghaith , yang juga adalah anggota Dewan Revolusi Fatah. Ia berharap Adnan Ghaith lekas pulih.

Presiden Abbas mengapresiasi peran Ghaith dalam melayani rakyat Palestina di Yerusalem. Dia memuji ketabahan penduduk Muslim dan Kristen di kota Yerusalem dalam menghadapi tindakan otoritas pendudukan Israel.

Ghaith mengatakan serangan terencana terhadap rumah dan keluarganya menunjukkan situasi warga Palestina di Yerusalem yang mengalami kekerasan fisik dari pasukan Israel setiap hari.

Selain itu, warga Palestina di Yerusalem mengalami aksi tidak manusiawi lainnya dari Israel seperti pemindahan paksa, penghancuran rumah, pengenaan pajak, maupun pembatasan aktivitas ekonomi. (Sumber: Antara) []

Israel Tangkap Puluhan Anggota Hamas di Tepi Barat

GAZA MEDIA, TEPI BARAT – Badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet mengatakan bahwa pihaknya telah menangkap puluhan anggota Hamas di Tepi Barat, yang sedang mempersiapkan serangan anti-Israel.
Seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (23/11/2021), pengumuman itu disampaikan pada Senin (22/11) waktu setempat, sehari setelah seorang anggota Hamas melakukan serangan penembakan di Kota Tua, Yerusalem yang menewaskan seorang warga Israel dan melukai tiga orang lainnya. Penyerang ditembak mati dalam insiden itu.

Menurut Shin Bet, kepemimpinan Hamas di luar negeri yang dipimpin oleh Saleh Arouri, berada di balik aktivitas terbaru yang terungkap itu. “Bertujuan melakukan serangan di Tepi Barat dan Yerusalem, serta serangan bom di Israel,” kata Shin Bet.

Dalam beberapa pekan terakhir, Shin Bet, pasukan tentara dan polisi “menangkap lebih dari 50 anggota Hamas di Tepi Barat yang terlibat dalam pembentukan jaringan teror”, kata badan itu dalam sebuah pernyataan.

Disebutkan bahwa uang, senjata, senjata api dan bahan pembuat bom juga disita dalam penangkapan itu.

Gerakan Islam Palestina, Hamas, yang dianggap oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat sebagai kelompok teror, mengambil alih Jalur Gaza pada 2007 dan telah memerintah sejak itu, sementara Israel memberlakukan blokade di wilayah tersebut.

Sejak itu, Hamas dan Israel telah berperang empat kali, pada 2008, 2012, 2014, dan tahun ini.
Gerakan Islam Palestina, Hamas, yang dianggap oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat sebagai kelompok teror, mengambil alih Jalur Gaza pada 2007 dan telah memerintah sejak itu, sementara Israel memberlakukan blokade di wilayah tersebut.

Seorang pejabat senior Shin Bet mengatakan bahwa Hamas sedang merencanakan “serangkaian serangan besar”.

“Tujuan dari aktivitas teror yang intensif dari operasi Hamas di luar negeri dan di Gaza, melalui operasi di Yudea dan Samaria, adalah untuk merusak stabilitas di daerah itu,” kata pejabat itu, menggunakan nama-nama alkitabiah untuk Tepi Barat. []

Zionis Israel Menyalahgunakan Lebih dari 28.000 Lahan Pertanian Milik Warga Palestina

GAZA MEDIA, TEPI BARAT – Kamis (18/11) Kabar terbaru tentang kondisi saudara-saudara kita di Palestina datang dari B’Tselem (Kelompok hak asasi manusia Israel), bahwa Zionis telah menggunakan kekerasan untuk mengusir warga Palestina dari tanahnya sendiri.

Cara tak manusiawi itu digunakan untuk menyalahgunakan lebih dari 28.000 lahan pertanian dan padang rumput Tepi Barat yang telah susah payah digarap oleh warga Palestina selama bertahun-tahun lamanya.

Sebuah organisasi hak asasi manusia Israel, B’Tselem, Minggu (14/11/2021), melaporkan bahwa negara tersebut menggunakan kekerasan pemukim Yahudi sebagai “alat tidak resmi utama” untuk mengusir warga Palestina dari tanah pertanian dan padang rumput mereka di Tepi Barat.

B’Tselem merincikan bahwa pemukim Yahudi telah menyita hampir 30 kilometer persegi  lahan pertanian dan padang rumput di Tepi Barat selama lima tahun terakhir.

Seorang pengembala Palestina, Jum’ah Rabi’i (48 tahun), dari desa At-Tawani, mengatakan kepada B’Tselem bahwa serangan para pemukim telah membuatnya tidak bisa bertani. Padahal bertani adalah satu-satunya mata pencariannya untuk menghidupi keluarga.

Tindakan kekerasan warga Yahudi Israel terhadap warga Palestina dalam beberapa bulan terakhir juga dilaporkan semakin meningkat.

“Ketika kekerasan terjadi dengan izin dan bantuan dari, dan di bawah naungan, otoritas Israel, itu dapat dianggap sebagai kejahatan negara.” Lapor B’Tselem

Menurut laporan lembaga HAM itu, terdapat 451 serangan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang telah didokumentasikan sejak awal tahun lalu, dan 170 di antaranya, pasukan Israel tidak melakukan intervensi untuk melindungi warga Palestina.

Akibatnya, menurut B’Tselem, lima warga Palestina tewas dan 22 ditangkap.

Juru bicara B’Tselem, Dror Sdot, mengatakan bahwa kami tidak menyampaikan hal ini kepada pasukan keamanan Israel (IDF). Karena kami menyadari  bahwa IDF tidak akan melakukan apa-apa atas laporan ini.”

Sampai saat ini IDF belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Pada hari Jumat (12/11/2021), sekelompok pemukim dari pemukiman Yitzhar di Tepi Barat utara menyerang warga Palestina yang sedang memetik buah zaitun ditemani oleh para aktivis Israel. [TNO]

Hamas Kembali Mengeluarkan Pernyataan Perlawanan Terhadap Israel

GAZA MEDIA, GAZA –  Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan untuk menandai ulang tahun kesembilan serangan Israel 2012 di Gaza, Hamas menyerukan kepada semua rakyat Palestina dan faksi-faksi perlawanan di seluruh wilayah Palestina untuk memperluas skala perlawanan.

“Semua upaya Israel untuk mengakhiri perlawanan Palestina melalui blokade Gaza dan menyerang penduduknya telah gagal,” sebut pernyataan Hamas, Senin (15/11/2021).

Sebelumnya, Presiden Palestina, Mahmoud Abbas meminta masyarakat internasional untuk mengubah cara menangani pendudukan Israel. Menurutnya, pemerintah harus beralih dari hanya mengutuk dan mencela pelanggaran Israel terhadap rakyat dan tanah Palestina, menjadi mengambil langkah-langkah nyata.

Hamas juga meminta negara-negara Arab dan Muslim untuk beralih dari mendukung Palestina, menjadi terlibat dalam perlawanan. Sebab, musuh Zionis tidak hanya menjadi ancaman bagi Palestina, tetapi juga bagi seluruh wilayah. [NA]

Pemuda Palestina Tewas Saat Bentrok Dengan Pasukan ‘Israel’

GAZA MEDIA, RAMALLAH – Ronen Bar melakukan pertemuan dengan Abbas tak lama setelah dirinya ditunjuk untuk memimpin Shin Bet. Dia menggantikan Nadav Argaman yang telah mengisi posisi tersebut selama lima setengah tahun.

Sebelum Abbas, Ron telah bertemu pejabat tinggi keamanan Yordania dan Mesir. Dia pun sempat melakukan pertemuan dengan kepala intelijen Mesir Abbas Kamel. Pada Selasa, seorang pemuda Palestina tewas saat terlibat bentrokan dengan pasukan Israel di sebuah jalan menuju kota utara Tubas. Dia ditembak di bagian dada.

Tentara Israel belum merilis keterangan perihal kejadian tersebut.  Bentrokan antara warga Palestina dan pasukan keamanan Israel rutin terjadi di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Hal itu selalu menyebabkan korban luka, bahkan tewas, pada warga Palestina.

Pertemuan Ron dengan Abbas terjadi di tengah kekhawatiran Israel terkait potensi runtuhnya perekonomian di Tepi Barat. Hal itu dinilai dapat menimbulkan konsekuensi keamanan serius bagi Israel.

Awal pekan ini, Israel meminta pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menekan negara-negara Arab serta Eropa untuk meningkatkan bantuan keuangan kepada Otoritas Palestina. []

Bentrokan Antara Tentara Israel dan Warga Palestina

GAZA MEDIA, PALESTINA – Rabu (17/11) Bentrokan antara tentara Israel dengan warga Palestina ,bentrokan bermula ketika tentara Israel menyerbu desa Palestina di Tubas sebelum fajar. Serbuan ini dibalas dengan lemparan batu oleh warga, demikian dilaporkan Reuters. Pasukan Israel menembak mati seorang warga Palestina dalam sebuah bentrokan di tanah pendudukan Tepi Barat, Selasa, 16 November 2021.

Militer Israel mengatakan pasukannya membalas tembakan setelah ditembak dan bahan peledak dilemparkan ke arah mereka dari mobil.

Kekerasan di Tepi Barat telah membara sejak pembicaraan damai Israel-Palestina yang disponsori AS gagal pada tahun 2014. Tepi Barat adalah bagian dari wilayah Negara Palestina, di barat sungai Yordan. Tepi Barat dan Jalur Gaza merupakan wilayah Palestina yang dideklarasikan pada 1988.

Jihad Islam mengatakan seorang pria berusia 26 tahun telah “syahid”. Namun korban bukan termasuk anggota kelompok militan Palestina itu. Kementerian Kesehatan Palestina mengkonfirmasi kematian tersebut. [TNO]

Aktivis Hak-hak Palestina Menentang Peretasan dan Ancaman Spyware Israel

GAZA MEDIA, RAMALLAH – Senin (15/11) masyarakat sipil Palestina dan aktivis politik bertekad untuk melanjutkan pekerjaan mereka meskipun organisasi mereka dikriminalisasi oleh Israel dan peretasan telepon mereka dengan spyware Pegasus yang dikembangkan oleh perusahaan Israel NSO Group.

Pada 19 Oktober, Israel menunjuk enam organisasi sipil dan hak asasi manusia Palestina yang terkenal secara internasional sebagai “kelompok teror” di bawah Undang-Undang Anti-Terorisme domestiknya, mengklaim bahwa mereka memiliki hubungan dengan kelompok Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) sayap kiri.

Sayap bersenjata PFLP aktif selama Intifada Kedua dan melakukan serangan terhadap sasaran Israel.

Kelompok-kelompok hak asasi menyangkal adanya hubungan dengan PFLP dan Israel telah gagal untuk secara terbuka merilis bukti apa pun untuk mendukung klaimnya.

Penunjukan “teror” diikuti oleh perintah militer di Tepi Barat yang diduduki yang melabeli organisasi itu sebagai “melanggar hukum” di bawah peraturan Darurat Pertahanan era Inggris.

Hammouri, warga Palestina-Prancis dari Yerusalem, adalah satu dari enam aktivis Palestina yang ponsel mereka diretas oleh spyware Pegasus. Dia juga menghadapi deportasi setelah Kementerian Dalam Negeri Israel mengumumkan pencabutan izin tinggalnya di Yerusalem dengan alasan “pelanggaran kesetiaan kepada Negara Israel”.

Takut ditangkap dan dideportasi, dia terpaksa pindah ke Ramallah. Selain Addameer, lima organisasi masyarakat sipil dan hak asasi manusia lainnya termasuk kelompok hak Al-Haq; Komite Persatuan Perempuan Palestina (UPWC); Komite Persatuan Kerja Pertanian (UAWC); Pusat Penelitian dan Pengembangan Bisan; dan cabang Palestina dari organisasi Internasional Pertahanan untuk Anak-Anak yang berbasis di Jenewa.

Beberapa kelompok melakukan berbagai pekerjaan hak asasi manusia yang kritis termasuk mendokumentasikan pelanggaran hak Israel, memberikan bantuan hukum kepada tahanan, melakukan advokasi lokal dan internasional, dan bekerja dengan Pengadilan Kriminal Internasional dan PBB. []