mosad

Kepolisian Gaza Tangkap Dalang Pembunuhan Insinyur Palestina

GAZAMEDIA, GAZA – Kementrian dalam negeri Palestina di Jalur Gaza, mengumumkan keberhasilannya menangkap salah satu dalang pembunuhan insinyur Al Qassam, Fadi Al Batsy yang dibunuh saat dirinya berada di Malaysia tahun 2018 silam.

Juru bicara kementrian dalam negeri Palestina, Iyad Al Bazm dalam press rilisnya, Ahad (9/1)  mengatakan setelah melalui proses investigasi pihak kemanan selama 3 tahun terakhir, akhirnya mereka berhasil mendapatkan pengakuan salah satu dalang pembunuhan yang mengaku bekerja sama dengan lembaga intelejen Israel bernama Mosad dalam melakukan aksi pembunuhan.

Menurut keterangan tersebut, Fadi dibunuh oleh badan intelejen Israel Mosad, pada bulan April tahun 2018 silam ketika dirinya sedang berjalan menuju shalat Subuh berjama’ah ke salah satu masjid di Kuala lumpur, ibu kota Malaysia,  dengan cara ditembak oleh pengendara sepeda motor.

Fadi Al Batsy adalah seorang insinyur Palestina kelahiran tahun 1983 di kota Jabalia, Jalur Gaza utara, yang menyelesaikan s1, s2 dan s3 nya di bidang elektro di Universitas Islam Gaza (UIG).

Fadi memiliki hak paten di bidang elektro, untuk meningkatkan efisiensi jaringan tenaga listrik. Ia juga menemukan perangkat peningkatan transmisi tenaga listrik dan merupakan salah satu penggagas pertama dalam mendirikan Asosiasi Internasional Insinyur Palestina di Malaysia. []

Agen Mossad Temui Jenderal Sudan

GAZA MEDIA, TEL AVIV – Delegasi Israel dilaporkan telah mengunjungi Sudan dalam beberapa hari terakhir dan bertemu dengan para pemimpin militer yang terlibat dalam kudeta baru-baru ini. Kunjungan tersebut juga untuk mendapatkan kesan yang lebih baik tentang situasi yang bergejolak di Sudan dan berdampak pada upaya penyelesaian kesepakatan untuk menormalkan hubungan diplomatik.

Media Israel, Times of Israel, yang mengutip laman Walla, menyebut bahwa di antara delegasi Israel itu kemungkinan juga termasuk perwakilan dari agen mata-mata Mossad. Agen ini disebut telah bertemu dengan Abdel Rahim Hamdan Dagalo, seorang jenderal terkemuka di Pasukan Dukungan Cepat, pasukan paramiliter Sudan yang mengambil bagian dalam kudeta yang dilakukan bulan lalu.

Dagalo memang sudah menjadi bagian dari delegasi militer Sudan yang mengunjungi Israel beberapa pekan sebelumnya. Dagalo saat itu bertemu dengan anggota Dewan Keamanan Nasional dan pejabat lain di Kantor Perdana Menteri Israel.

Seorang pejabat Israel mengatakan, ketika pihaknya membahas situasi politik di Sudan dan stabilitas pemerintah sipil selama kunjungan Israel, Sudan tidak memberikan indikasi bahwa mereka akan melakukan kudeta dan menggulingkan pemerintah yang dipimpin sipil nanti.

Saat sebagian besar dunia Barat telah mengutuk kudeta di Sudan, Israel tetap diam. Para pemimpin militer Sudan telah mencatat tanggapan di Yerusalem dan percaya itu merupakan persetujuan atas tindakan mereka. Militer di Sudan memainkan peran lebih aktif dalam memajukan normalisasi dengan Israel di tahun lalu.

Sebelumnya militer Sudan menahan Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan pejabat tinggi lainnya, membubarkan pemerintah, mengumumkan keadaan darurat nasional. Militer melancarkan tindakan keras mematikan terhadap pengunjuk rasa damai.

Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, yang menjadi pemimpin de facto Sudan sejak penggulingan presiden Omar al-Bashir tahun 2019, memimpin kudeta tersebut dengan mengatakan apa yang dilakukannya itu untuk memperbaiki arah transisi pasca-Bashir. Burhan telah menjadi pemain yang lebih menonjol yang memimpin upaya normalisasi di Israel.

Aktivis pro-demokrasi telah ditangkap sejak kudeta militer. Pejabat AS memperkirakan bahwa 20 hingga 30 pengunjuk rasa telah dibunuh oleh militer. Seorang pejabat senior AS menuturkan, sekarang ini bukan waktu yang tepat bagi Washington untuk bergerak maju dengan upaya menekan Sudan agar menyelesaikan kesepakatan normalisasi dengan Israel.

Sebelumnya, Presiden AS terdahulu Donald Trump telah setuju untuk mendukung Sudan, termasuk dengan menghapus negara itu dari daftar negara sponsor terorisme. Kebijakan itu diambil setelah Sudan setuju menormalkan hubungan dengan Israel di bawah tekanan AS.

“(Kesepakatan Abraham) baik untuk keseluruhan, baik untuk Sudan, baik untuk kawasan. Tetapi saya hanya tidak melihat kami mendukung pemerintah militer dalam masalah ini sekarang, mengingat fakta bahwa kami tidak melihat Sudan stabil selama ada dominasi militer,” kata pejabat AS itu menambahkan. []