Muhammad Saw

Al-Qur`an Obat Hati Sakit

Dalam menjalani kehidupan ini, tak jarang hati menjadi tersakiti. Sebabnya, bisa saja karena faktor eksternal juga internal. Yang jadi masalah, jika rasa sakit hati itu sampai membawa siempunya tidak ingin melakukan amal ibadah lainnya. Semua rasanya hampa. Hidupnya seolah sudah finish. Seperti sudah tak ada cahaya harapan diseberang sana.

Berikut ini adalah tips bagaimana Islam mengajarkan agar umatnya tetap memiliki hati yang sehat dan bahagia sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit hati. Yuk disimak.

Untuk menjaga hati kita agar tetap sehat, dan terhindar dari beragam penyakit syubhat dan syahwat, maka lakukanlah terapi Al-Qur`an dengan cara sebagai berikut.

Pertama, membaca Al-Qur’an. Sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita wajib membaca Al-Qur’an setiap waktu. Bagaimana mungkin kita bisa memahami ayat-ayat Allah jika kita tidak membacanya?

Banyak keutamaan dari membaca dan memahami Al-Qur’an. Syekhul Islam Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam kitabnya, Riyaadhus-Shaalihiin, membuat bab khusus tentang Keutamaan Membaca Al-Qur’an, di antaranya.

1). Al-Qur’an akan menjadi syafaat atau penolong di hari kiamat untuk para pembacanya. Dari Abu Amamah ra, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim);

2). orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan sebaik-baik manusia. Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi);

3). Untuk orang-orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka kelak ia akan bersama para malaikat-Nya. Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim);

4). Untuk mereka yang belum lancar dalam membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an, tidak boleh bersedih, sebab Allah tetap berikan dua pahala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim);

5). Al-Qur’an dapat meningkatkan derajat kita di mata Allah. Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT. akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang lain.” (HR. Muslim);

Kedua, menghafalkannya. Akal merupakan anugerah yang sangat agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak diragukan lagi, bahwa hal paling mulia yang terekam dalam memori manusia adalah Al-Qur`an. Semakin banyak muatan Ayat-ayat Al-Qur`an dalam memori seseorang, menjadikan hamba tersebut semakin mulia di sisi-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala pun telah menjadikan Al-Qur`an mudah untuk difahami dan dihafal oleh manusia, dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

 “Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur`an untuk peringatan, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Sungguh beruntung seorang muslim yang menyibukkan dirinya dengan menghafal Al-Qur`an, baik di Pesantren Tahfizh Al-Qur`an, Madrasah Diniyah, Sekolah, maupun beragam lembaga lainnya. Manakala kita tidak bisa menjadi bagian dari mereka, maka marilah kita menjadi pribadi yang mendukung kegiatan mereka dengan segala potensi yang kita miliki, baik dengan harta, pikiran, tenaga ataupun potensi lainnya, sehingga kita bisa berperan serta dalam menghidupkan dan membumikan Al-Qur`an, akhirnya kita menjadi insan yang beruntung dunia dan akhirat.

Ketiga, mempelajari dan mentadabburinya. Selain menghafalkan, kita juga diwajibkan untuk mempelajari, merenungi, dan mentadabburi makna dan kandungan Al-Qur`an. Berupa kandungan akidah, hukum-hukum, maupun kisah-kisah di dalamnya, agar hati menjadi tunduk, lembut, bersih nan jernih dengan kejernihan Al-Qur`an. Maka, tidaklah mengherankan jika muslim terbaik adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur`an, selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَه

“Manusia terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur`an.” (HR. Bukhari no. 5027, dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu).

Keempat, mengamalkannya. Setelah mempelajari Al-Qur`an, kewajiban berikutnya adalah mengamalkan kandungannya dalam kehidupan kita, baik berupa akidah ataupun hukum-hukumnya. Kita terapkan Al-Qur`an dalam kehidupan kita sehari-hari, di rumah, di masjid, di tempat kerja, dan di mana pun kita berada, sehingga Al-Qur`an menjadi pedoman dan tuntunan hidup kita dalam beribadah, berakhlak, dan bermuamalah dengan sesama manusia.

Sungguh, akhlak manusia terbaik sepanjang sejarah, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah Al-Qur`an, tatkala ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak beliau, maka ia menjawab:

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

 “Sungguh, akhlak Nabi Allah a adalah Al-Qur`an.” (HR. Muslim no. 746).

Kelima, mengajarkannya. Setelah mengamalkan Al-Qur`an, kewajiban berikutnya adalah mengajarkannya kepada orang lain, agar muslim yang lain bisa mendapatkan kebaikan dan keberkahan Al-Qur`an. Selain menjadi muslim yang terbaik, orang yang mengajarkan Al-Qur`an akan mendapatkan pahala orang yang diajarinya, tanpa mengurangi pahala orang yang diajari sedikit pun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi petunjuk kepada hidayah (kebenaran), maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang diajarinya, tanpa mengurangi pahala orang yang diajari sedikit pun…” (HR. Muslim 2674 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Sungguh bahagia manakala seorang hamba menghiasi hidupnya dengan mengajarkan Al-Qur`an dan segala disiplin ilmu agama yang berkaitan dengannya, seperti Tajwid, Tafsir, Fikih, Hadits, dan lain sebagainya. Jika kita tidak bisa terjun langsung sebagai pribadi yang mengajarkan Al-Qur`an dengan beragam ilmu pendukungnya di pesantren atau semisalnya, maka mari kita menjadi penyokong dakwah Islam dalam penyebaran ilmu Al-Qur`an, dengan harta, pikiran, energi, tenaga, dan segala hal yang kita miliki, agar kita pun bisa meraih pahala yang melimpah seperti mereka.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kaum muslimin termasuk para hamba yang senantiasa membaca, menghafal, mempelajari, mengamalkan dan mengajarkan Al-Qur`an, serta menjadi penyokong dakwah Islam dalam menyebarkan Al-Qur`an dan beragam ilmu pendukungnya, wallahua’lam.[]

 

 

Al-Qur`an Obat Hati Sakit Read More »

Mencegah Sifat Buruk, Ini Penjelasannya

GAZA MEDIA – Ulama bernama lengkap Abu Yahya Malik bin Dinar al-Mashri tersebut sangat piawai dalam ilmu agama. Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa Malik bin Dinar pernah berkata,

احبس ثلاثا بثلاث حتى تكون من المؤمنين : الكبر بالتواضع، والحرص بالقناعة، والحسد بالنصيحة

Artinya: “Cegahlah tiga perkara (yang jelek) dengan tiga perkara (yang baik), sehingga engkau benar-benar termasuk orang yang beriman, yaitu cegahlah sifat takabur dengan tawadhu’, cegahlah sifat rakus dengan qana’ah, cegahlah sifat hasud.”

Ihram.co.id menulis, Syekh Nawawi al-Batani menuturkan, Takabur adalah menganggap diri sendiri lebih mulia atau lebih baik dibandingkan orang lain. Sedangkan Tawadhu artinya rendah hati.

Menurut Syekh Nawawi, kata Kibr berarti kesombongan yang berkaitan dengan posisi atau derajat. Sementra, Ujub berkaitan dengan fadhilah (keutamaan). Orang Kibr akan mengagungkan dirinya sebagainya orang yang terpelajar, sedangkan orang Ujub akan menyombongkan dirinya dengan keutamaannya sebagai orang yang beradab.

Kemudian, Syekh Nawawi menjelaskan tentang kata Hirsh. Menurut dia, Hirsh (rakus) berati bersungguh-sungguh dan terlalu bersemangat pada apa yang dia cari, sedangkan qanaah adalah rela dengan ketetapan ketetapan (rezeki) dari Allah.

Sifat buruk yang ketiga, yaitu Hasud adalah berkeinginan akan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain dan berharap agar nikmat itu pindah kepada dirinya. Sifat ini juga juga harus dicegah umat Islam.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak dapat berkumpul dalam rongga seorang hamba antar iman dan dengki”. Menurut Syekh Nawawi, yang dimaksud dengan iman dalam hadits ini adalah iman kepada takdir.

Sedangkan Mu’awiyah Ra berkata, “Semua orang aku mampu memuaskannya, tetapi orang yang dengki kepada keberhasilanku, tidak pernah merasa puas sebelum kesuksesanku lenyap dariku.” []

Mencegah Sifat Buruk, Ini Penjelasannya Read More »