muslim

Bangga! Pengungsi Muslimah Afghanistan Berhasil Menangkan Kursi Parlemen di Australia

GAZAMEDIA, CANBERRA – Pengungsi Muslim Afghanistan, Fatima Payman memenangkan kursi di Senat meawkili Partai Buruh Australia Barat, dan menjadikannya wanita Muslim berjilbab pertama di Parlemen Australia.

Payman adalah anggota parlemen wanita termuda ketiga dalam sejarah Australia (pada usia 27 tahun), mengungkapkan kebahagiaan dan kebanggaannya bahwa kursi keenamnya di Senat bertepatan dengan Hari Pengungsi Sedunia.

Payman berkata: “Dia prihatin dengan sterotip berjilbab di Parlemen dan masyarakat, dan melalui posisinya dia ingin membuktikan kepada khalayak bahwa dia orang Australia seperti mereka, menggunakan jilbab bagi wanita muslimah tidaklah menjadi penghalang dan sebab untuk disalahkan.”

“Ini bukan hanya memerangi Islamofobia di media, tetapi untuk menginspirasi gadis-gadis yang ingin mengenakan jilbab, saya ingin mereka melakukannya dengan bangga dan percaya diri, mereka berhak melakukannya,” ungkap Payman dilansir dari Al-Jazeera.

“Saya satu-satunya orang yang berjilbab di antara hampir 200 anggota parlemen lainnya, dan saya memiliki hak untuk menyuarakannya.” Pungkas Payman[ml/ofr]

FBI dan MA Amerika Tuduh 3 Warga Muslim Terlibat Insiden 9/11, Pembelaan Timbul dari Berbagai Pihak

GAZAMEDIA, WASHINGTON – Mahkamah Agung AS menetapkan dukungannya kepada FBI mencari tahu keberadaan 3 warga muslim yang dituduh memata-matai Amerika setelah serangan 11 September 2001. Jumat (5/3/2022).

Mahkamah Agung dengan suara bulat menyatakan, pemerintah AS memiliki hak mmengetahui rahasia warga negara ketika menolak memberikan informasi kepada pengadilan yang bertanggung jawab memeriksa pengaduan tiga warga muslim yang telah disebutkan.

Hasil putusan Jumat lalu membatalkan pengadilan banding AS pada 2019 dan mengembalikannya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pengadilan menyatakan, undang-undang federal yang mengatur praktik pengawasan pemerintah mewajibkan argumen rahasia negara untuk menjaga dan menjamin keamanan bagi pemerintah.

Di lain pihak, Organisasi nitlrlaba perjuangan konstitusional Amerika / American Civil Liberties Union (ACLU) memberikan payung hukum advokasi kepada warga sipil muslim yang dalam hal ini mewakili penggugat. Mengecam putusan Mahkamah Agung sebagai “tanda berbahaya dari kebebasan beragama (islamophobia),”  menambahkan, “Tetapi kami tidak menyerah memperjuangkan hak rakyat, bagaimanapun kami terus berjuang.”

Tiga Muslim yang tinggal di California mengkonfirmasi, pada tahun 2006 dan 2007 lalu,  FBI mengirim seorang informan di masjid mereka untuk mengumpulkan informasi tentang para para jamaah.

Mereka berkata, “Informan, yang menampilkan dirinya sebagai mualaf baru-baru ini, mengumpulkan nomor telepon dan alamat email, dan diam-diam merekam percakapan dengan beberapa pengunjung masjid.”

Pria itu mengajukan pertanyaan kepada jemaah tentang pemboman dan serangan, yang menimbulkan kekhawatiran mereka dan membuat mereka melaporkannya ke polisi, hanya untuk mengetahui bahwa dia bekerja untuk polisi federal.

Imam masjid dan dua jamaah menggugat FBI, menuduh pelanggaran kebebasan beragama dan diskriminasi.

Kementerian Kehakiman menjawab bahwa mereka meluncurkan program pemantauan untuk alasan obyektif dan bukan karena mereka Muslim.

Sementara, Kementerian Kemanan Amerika meminta rahasia negara untuk menunda alasan operasi mata-mata ini, dan meminta pengadilan membatalkan kasus tersebut. [ml/as/terj.ofr].

Sedorf, Mantan Bintang Sepak Bola Belanda Masuk Islam

GAZAMEDIA, – Pesepakbola ternama asal Belanda, Clarence Seedorf mengumumkan perihal dirinya yang memeluk agama Islam, Jumat (4/3/2022).

Mantan pemain klub catalan Itali, AC Milan itu mengungkapkan di akun Instagramnya, “Terima kasih kepada semua pihak yang telah mengucapkan selamat kepadanya, dan kebahagiaan luar biasa bagi saya bisa memeluk agama Islam”.

Dia berkata, “Saya terutama berterima kasih kepada Sophia, istri tercinta yang memperkenalkan saya pada Islam dan mengajari banyak hal.” Meski mualaf, Sedorf tetap menunjukkan bahwa dia tidak akan mengubah namanya.

Seedorf memulai karirnya di klub Belanda Ajax, kemudian berpindah ke beberapa klub antaranya di Spanyol Real Madrid, Sampdoria, kemudian Inter Milan dan AC Milan, serta Batavogo Brasil. [as/ofr]

Pengadilan Tnggi Prancis Larang Penggunaan Jilbab bagi Pengacara Wanita Muslim

GAZAMEDIA, PARIS – Pengadilan Tinggi Prancis mengumumkan penetapan larangan pengacara wanita muslim untuk menggunakan jilbab dan simbol agama lainnya di ruang sidang di Prancis Utara. Keputusan ini untuk pertaama kalinya diresmikan berlaku preseden untuk seluruh negara. Rabu (2/3/2022).

Keputusan pengadilan tinggi Prancis ini memicu perdebatan nasional tentang apa yang disebut nilai inti sekularisme dan identitas Partai Republik menjelang pemilihan presiden pada bulan April mendatang.

Pengadilan Kasasi mengatakan larangan itu hanyalah bentuk independensi pengacara dan di sisi lain menjamin hak netral yang tak berpihak ke kelompok atau etnis manapun.

Penolakan turut ditentang oleh Sarah Asmaita, seorang pengacara Prancis-Suriah berusia 30 tahun yang mengenakan jilbab, “Mengenai aturan yang ditetapkan Dewan Pengacara Lille atas pelarangan menggunakan simbol-simbol agama di ruang sidang adalah sikap diskriminatif dan rasisme akut” tegas Sarah. [ml/as/ofr].

Belgia Tunda Pengakuan Badan Otoritas Perwakilan Muslim di Negaranya

GAZAMEDIA, – Surat kabar Prancis, La Croix mengungkapkan pemerintah federal Belgia lakukan prosedur penarikan pengakuan badan perwakilan agama Islam di negara tersebut, yang dikenal sebagai Otoritas Eksekutif Muslim Belgia, dengan menghentikan subsidi keuangan serta menonaktifkan lembaga tersebut. Rabu (23/2).

 

Melalui surat kabar, Menteri Kehakiman Belgia, Vincent van Quekenborn mengatakan: “Kami mengikuti prosedur untuk menarik pengakuan otoritas eksekutif Muslim Belgia, yang berarti menghentikan hampir 600.000 euro subsidi dan membekukan perwakilan pembaga yang bersangkutan.”

 

“otoritas eksekutif Muslim Belgia tidak dapat lagi menjadi mitra dialog kami”, dengan dalih kegagalannya mewakili komunitas Muslim Belgia dan membenarkan keputusan ini, terutama karena tuduhan tidak transparan, dan campur tangan pihak asing dalam pemakmuran masjid”. Pungkas Menteri Federal menjelaskan. []

Di Antara Nasehat Kubur

Dalam kehidupan seorang Muslim, segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa menjadi pelajaran. Artinya selalu ada ibroh dibalik semua kejadian atau ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di muka bumi ini. Salah satu ciptaan Allah yang pasti akan menjadi tempat tinggal terakhir saat manusia menghadap-Nya (mati) adalah kuburan.

Bagi seorang Muslim yang kuat imannya, melihat kubur akan memberikan makna tesendiri, seolah-olah kubur berkata-kata kepadanya dan memberi nasihat. Paling tidak, ada tiga nasehat kubur yang mesti direnungi oleh setiap Muslim, antara lain sebagai berikut.

Pertama, kubur adalah tempat yang gelap gulita. Jika bisa bicara, ia akan berkata, “Aku adalah tempat yang paling gelap di antara yang gelap, maka terangilah aku dengan salat Tahajud. Mengapa harus menerangi kubur dengan salat tahajud? Di dalam kubur, tidak ada secercah cahaya dan sekilas sinarpun yang menyelusup masuk ke dalamnya. Tiada seorangpun yang dimasukkan kedalamnya melainkan ia akan merasakan dalam keadaan gelap tiada tara.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang perempuan hitam atau pemuda yang biasa menyapu masjid. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasa kehilangan akan dirinya, maka beliau bertanya tentangnya. Mereka berkata, “ia telah meninggal dunia”.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mengapakah kalian tidak memberitahuku.” Namun mereka seakan-akan memandang remeh akan persoalannya. Nabi bersabda, “Tunjukkan kuburnya kepadaku.” Lalu mereka menunjukkannya kepadanya kemudian beliaupun sholat (jenazah) di atas kuburnya. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi penghuninya dan Allah Ta’ala meneranginya untuk mereka dengan sholatku atas mereka.” [HR Muslim: 956, al-Bukhoriy: 458, 460, 1337, Abu Dawud: 3203 dan Ibnu Majah: 1527. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].

Kedua, kubur akan berkata, “Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlahaku dengan ber-silaturahim.” Di antara jenis azab kubur selanjutnya adalah dengan mendapatkan himpitan kubur yang akan mematahkan dan menghancurkan tulang belulang penghuninya. Bahkan hampir semua orang yang mati itu ketika dikuburkan di dalam kuburnya akan merasakan himpitan kubur lalu akan dilonggarkan darinya dari sebab keimanan dan amal shalihnya.

Dalam sebuah hadis, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

عن أبى أيوب أَنَّ صَبِيًّا دُفِنَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ اْلقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ

Dari Abu Ayyub radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang anak kecil dikuburkan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Seandainya ada seseorang terbebas dari himpitan kubur, niscaya anak ini terbebas.” [HR ath-Thabraniy di dalam al-Kabiir, Abu Ya’la dan adl-Dliya’. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].

Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Barro’ bin Azib radliyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bercerita,

 فَيَأْتِيْهِ مِنْ حَرِّهَا وَ سَمُوْمِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيْهِ أَضْلاَعُهُ

“Maka datanglah kepadanya sebahagian dari panas dan anginnya api neraka dan dipersempitlah kuburnya atasnya sehingga tulang belulangnya berselisih.” [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Tak seorang pun yang  bebas dari himpitan kubur, bahkan para sahabat sekalipun akan mengalami himpitan kubur. Dari Ibnu Umar radliyallahu anhumadari Rosulullah  Shallallahu alaihi wa sallambersabda, “(Orang) inilah (yaitu Sa’d bin Mu’adz radliyallahu anhu) yang arsy berguncang karenanya, pintu-pintu langit terbuka lantarannya dan tujuh puluh ribu malaikat menyaksikannya. Sungguh-sungguh ia telah dihimpit (oleh bumi) dengan sekali himpitan lalu ia dilonggarkan darinya.” [HR an-Nasa’iy: IV/ 100-101. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih].

Ketiga, kubur adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah ia dengan perbanyak baca Al-Quran.  Kubur adalah tempat yang paling sepi. Selain panas, sepi menjadi hal yang menakutkan bagi setiap orang. Bisa jadi, saat di dunia, ia ditemani oleh teman-teman, saudara, dan keluarganya, tapi ketika masuk ke dalam kubur, ia akan merasakan kesepian tak terkira, wallahua’lam.[]

Ini Alasan Mengapa Shalat Sangat Penting?

Dalam banyak penjelasan, shalat merupakan bentuk komunikasi efektif seorang hamba kepada Allah sebagai Rabbnya. Karena itu, shalat mempunyai kedudukan yang teramat penting dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan, jika seorang muslim menghadapi berbagai macam masalah dalam hidupnya, Allah Ta’ala memintanya untuk menegakkan shalat.

Shalat juga menjadi pertanda yang membedakan antara orang kafir dan orang beriman. Sebab orang yang mendirikan shalat, berarti dia meyakini satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah di jagat raya ini hanyalah Allah Ta’ala.  Tidak ada shalat, dan bukan shalat namanya jika ada penyembahan lain selain kepada Allah. Tak hanya itu, shalat pulalah yang menjadi penentu selamat tidaknya seorang hamba di akhirat kelak. Jika Shalatnya baik, maka bisa dipastikan semua amalnya akan baik. Namun sebaliknya jika shalatnya sudah buruk, maka semua amalnya pun menjadi buruk (tertolak).

Tulisan singkat ini, mencoba untuk mengetengahkan bahasan tentang pentingnya kedudukan shalat dalam Islam. Berikut kupasannya.

Pertama, shalat adalah tiang agama. Dalam Islam, shalat merupakan tiang agama seseorang. Jika orang tersebut mendirikan shalatnya, bisa dipastikan ia telah menegakkan tiang agama ini (Islam). Sebaliknya, jika shalat tidak dijalankan, sama artinya ia telah merobohkan tiang agamanya sendiri.

Dalam hadits Mu’adz disebutkan,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits inihasan). Tentu saja, jika tiang suatu bangunan roboh, akan roboh pula bangunan sekuat apapun ia dibangun.

Kedua, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Jika saja banyak orang tahu bahwa amalan pertama kali yang akan dihisab adalah shalatnya, maka sudah tentu banyak orang yang berlomba-lomba mengerjakan shalat. Namun, sebaliknya malah banyak orang yang meninggalkan shalat, sebab mengira shalat hanyalah amalan biasa dan sama dengan amalan lainnya, astaghfirullah.

Padahal sebenarnya, amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dari shalatnya. Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Bila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Bila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386).

Ketiga, perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat. Seperti kata Imam Al Ghazali, hal yang paling ringan di akhir zaman ini adalah meninggalkan shalat. Lihatlah fakta seharian dalam hidup kita, betapa masih banyak orang yang lebih memilih melanjutkan pekerjaannya, meski azan pertanda waktu shalat sudah tiba.

Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid).

Hadits ini jelas menyatakan bahwa ketika tali Islam yang pertama sudah putus dalam diri seseorang, yaitu ia tidak berhukum pada hukum Islam, ia masih bisa disebut Islam. Di sini Nabi tidak mengatakan bahwa ketika tali pertama putus, maka kafirlah ia. Bahkan masih ada tali-tali yang lain hingga yang terakhir adalah shalatnya.

Dalam riwayat lain, dari Zaid bin Tsabit, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ

Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.” (HR. Al Hakim At Tirmidzi dan disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 2: 353).

Keempat, shalat adalah akhir wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa di antara wasiat terakhir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak kalian.” (HR. Ahmad 6: 290. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).

Kelima, Allah memuji orang yang mengerjakan shalat. Jangankan dipuji oleh Allah, dipuji presiden saja membuat seseorang merasa bangga. Lalu bagaimana jika Allah, pencipta manusia dan alam semesta yang memujinya? Adakah pujian terbaik dan indah yang diterima manusia selain pujian dari Allah Ta’ala? Pujian itu hanya Allah berikan kepada hamba-Nya yang mengerjakan shalat, bukan kepada yang selainnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55)

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55).

Keenam, shalat adalah penghubung yang paling kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Taka da ikatan yang kuat bagi seorang hamba kepada Tuhannya selain dari shalat. Itulah mengapa shalat menjadi wasilah penting dalam menuntaskan semua masalah. Adakah hubungan yang lebih mulia selain hubungan yang dibangun seorang hamba kepada Rabbnya melalui shalat?

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat (yaitu surat Al-Fatihah, red.) untuk-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan untuk hamba-Ku sesuai dengan apa yang dia minta.”

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memujiku.”

 وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku menyanjungku.” (sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, red.)

وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Yang menguasai hari pembalasan”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.” Dan terkadang Allah berfirman, “Hamba-Ku memasrahkankan urusannya kepada-Ku.”

 فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan”; Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku. Dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.”

 فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Dan ketika hamba berkata (yang artinya), “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”; Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.” (HR. Muslim no. 395).

Sudah tentu masih sangat banyak kedudukan shalat dalam kehidupan seorang muslim. Di atas hanyalah beberapa saja yang bisa diangkat. Semoga Allah menanamkan keteguhan di hati kita untuk senantiasa menegakkan shalat lima waktu semata-mata hanya karena mengharap ridha Allah, wallahua’lam.[]

Masihkah Kita Berani Berdusta?

Tak sedikit orang yang terperosok dalam dosa hanya karena lidahnya yang latah. Padahal, seorang muslim yang beriman pada hari akhir salah satu cirinya adalah pandai menjaga lisan. Karena tak jarang dari lisan itu banyak kedustaan terucap. Sementara itu, dusta adalah salah satu bentuk dosa besar yang dianggap biasa oleh kebanyakan manusia.

Apakah kita tahu, bahwa sisapa saja yang bisa menjaga lidahnya dengan baik, artinya tidak berdusta dan sederet penyakit lisan lainnya, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjamin untuknya Surga di akhirat kelak.

Perhatikan sabda Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut ini,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhâri, no. 6474; Tirmidzi, no. 2408).

Untuk lebih menambah keyakinan kita akan janji Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di atas, maka Beliau juga menyampaikan bahwa menjaga lidah adalah kunci keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata, “Aku bertanya, wahai Rasûlullâh, apakah sebab keselamatan?” Beliau menjawab:  “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi, no.2406).

Sejatinya, bagi orang beriman dan berakal sehat, maka dua hadis di atas cukup menjadi cambuk dan pengingat agar senantiasa berhati-hati menjaga lisannya. Sebab, salah bicara maka semua akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah Ta’ala.

Bahaya Dusta

Dusta termasuk kedalam kelompok dosa besar, al-Imam adz-Dzahabi menyebutkan di dalam kitab beliau, al-Kabâir, dosa besar ke-30 adalah “Sering Berdusta”.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan dosa berdusta mengiringi dosa syirik  dan durhaka kepada orang tua. Ini menunjukkan bahwa berdusta termasuk dosa-dosa besar yang paling besar.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ z قَالَ قَالَ النَّبِيُّ n أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari bapaknya radhiyallahu anhu, dia berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Perhatikanlah (wahai para Sahabat), maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakannya tiga kali. Kemudian para Sahabat mengatakan, “Tentu wahai Rasulullah.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.”  Sebelumnya Nabi bersandar, lalu Bliau duduk dan bersabda, “Perhatikanlah! dan perkataan palsu (perkataan dusta).Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selalu mengulanginya sampai kami berkata, “Seandainya Beliau berhenti. (HR. Al-Bukhari, no. 2654, 5976, dan Muslim, no. 143/87).

Berikuti ini adalah beberapa bahaya bagi orang yang suka berdusta. Pertama, ia akan terhalang dari hidayah. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Qs. Al-Mukmin/Ghafir/40: 28).

Nauzubillah, siapakah orang yang tersesat di muka bumi ini selain orang yang tidak bisa mendapatkan hidayah Allah? Tentu saja sebagai orang yang beriman, kita harus selalu mewaspadai atas tipu daya lidah kita yang seringkali latah berbuat dusta hanya untuk membuat orang lain senang.

Kedua, ia akan celaka. Allah Ta’ala berfirman,

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ ﴿١٠﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai. (Qs. Adz-Dzariyat/51: 10-11).

Tak ada kefakiran (kemiskinan) di dunia ini dalam hidup seseorang kecuali orang yang miskin dalam kebodohan dan lalai. Orang yang berdusta sejatinya adalah orang-orang yang tenggelam dalam kebodohan dan kelalaian panjang. Maka, beristighfarlah wahai diri.

Dalam sebuah hadis, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan keutamaan jujur dan bahaya dusta,

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullah, dia berkata, Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kalian wajib jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Jika seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim, no. 105/2607).

Ketiga, dusta adalah sifat munafik. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Tanda orang munafik ada tiga: Jika dia bercerita, dia berdusta; jika dia berjanji, dia menyelisihi; dan jika dia diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Al-Bukhâri, no. 33, 2682, 2749, 6095; Muslim, no. 107/59, 108/59).

Keempat, diancam di akhirat. Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengisahkan kepada para Sahabat tentang mimpi yang dialaminya, dan mimpi Nabi adalah benar adanya (hak). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam didatangi oleh dua orang laki-laki yang membawanya melihat berbagai siksaan yang dialami orang-orang yang berbuat dosa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ ” قَالَ: ” فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ

Kedua laki-laki itu berkata, “Ayo berangkat, ayo berangkat!” Kemudian kami berangkat, lalu kami mendatangi seorang laki-laki yang berbaring terlentang. Dan ada laki-laki lain yang sedang berdiri di dekatnya membawa gancu besi. Lalu laki-laki itu mendatangi satu sisi wajahnya lalu merobek ujung mulutnya sampai ke tengkuknya, dan merobek hidungnya sampai ke tengkuknya, dan merobek matanya sampai ke tengkuknya.”  

Kemudian dua orang laki-laki itu menjelaskan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang orang yang mendapatkan siksaan di atas tadi,

وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ، يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ، فَيَكْذِبُ الكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ

“Adapun laki-laki yang engkau datangi, ujung mulutnya disobek sampai ke tengkuknya, dan hidungnya dirobek sampai ke tengkuknya, dan matanya dirobek sampai ke tengkuknya, dia adalah orang yang keluar dari rumahnya, lalu dia berdusta dengan kedustaan yang mencapai segala penjuru.(HR. Bukhari, no. 7047).

Sekali lagi, bagi orang beriman yang mempunyai akal sehat, sejatinya nasihat-nasihat dari ayat dan hadis di atas bisa menjadi pengingat sekaligus motivasi agar benar-benar menjaga lisan untuk tidak berdusta. Dusta, adalah bagian dari dosa-dosa besar yang tidak semua orang mengetahuinya. Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga lisan kita dari berbuat dusta, wallahua’lam.[]

 

 

Bekal Muslim Menghadap Allah

Dalam hidup ini setiap manusia harus memiliki bekal. Bekal untuk kehidupan selanjutnya; akhirat. Tanpa bekal yang cukup, perjalanan menuju akhirat akan sangat melelahkan. Berikut ini adalah beberapa bekal seorang mukmin dalam menghadap Allah Ta’ala kelak. Antara lain sebagai berikut.

Pertama, bekal utama kita untuk menghadap Allah adalah takwa. Takwa adalah sebaik-baik bekal. Tak ada satupun bekal yang bisa mengalahkan bekal takwa. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan siapkanlah bekal karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Qs. al-Baqarah: 197). Takwa merupakan bekal yang sangat diperlukan manusia. Tanpa takwa, Allah tidak rela memberikan pertolongan kepada hamba-Nya.

Tanpa takwa, Allah tidak akan menerima amalan hamba-Nya. Takwa juga merupakan syarat keberhasilan usaha di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.

Kedua, bekal ilmu. Ilmu adalah cahaya kehidupan, cahaya agama. Orang yang menjalani kehidupan ini tanpa ilmu, sama seperti orang buta yang tak mengetahui kemana arah tujuannya melangkah. Ilmu sangat diperlukan bagi seorang muslim untuk meraih kebahagian dunia dan akhirat.

Hanya orang-orang yang berilmulah yang merasa takut kepada Allah Ta’ala. Ia takut jika sampai memaksiati-Nya. Ia takut jika sampai tidak menjalankan perintah-Nya. Ia takut  bila melanggar apa-apa yang dilarang-Nya. Begitulah orang-orang yang memiliki ilmu tentang syariat Islam ini.

Allah Ta’ala berfirman yang aratinya, “Sesungguhnya, yang takut kepada Allah dari para hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Qs. Fathir: 28). Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.

Kalau seseorang enggan belajar akan membuat kerusakan, tidak membuat perbaikan, tidak bermanfaat, tapi justru merugikan, tidak menang, tapi pasti kalah dan tersesat. Apalagi, orang yang rajin beramal sekalipun tanpa disertai ilmu, seperti orang berjalan bukan pada jalannya. Jangan sampai, amalan yang dilakukan berbuah sia-sia tanpa dasar ilmu.

Ketiga, bekal seorang muslim adalah tawakal. Tawakal adalah upaya maksimal seorang hamba dalam meraih sesuatu. Artinya, tawakal itu bukan diam. Tawakal itu usaha maksimal dengan mengerahkan segala kemampuan yang telah Allah ilhamkan. Lalu setelah ikhtiar maksimal itu, maka serahkan semuanya kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya dia akan mencukupinya.” (Qs. ath-Thalaq: 3).

Tawakal akan menanamkan kepada hati kesungguhan dalam menggantungkan diri kepada Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, segala sesuatunya Allah yang menentukan. Maka, biarkan Allah yang mencukupi kita selama hidup di dunia.

Keempat, bekal selanjutnya adalah syukur. Hidup akan indah, jika setiap muslim mampu menyukuri setiap pemberian Allah, tanpa terkecuali. Syukur adalah bukti iman seorang hamba. Syukur juga merupakan tanda terima kasih seorang hamba atas segala limpahan nikmat dari Allah Ta’ala.

Tentang rasa syukur ini, Allah tidak akan pernah menyiksa orang-orang yang banyak bersyukur kepada Allah. Allah berfirman yang artinya, “Mengapa Allah akan menyiksa kalian kalau kalian bersyukur dan beriman?” (Qs. an-Nisa: 147).

Bentuk rasa syukur itu meliputi syukur dengan lisan, hati, dan dengan tindakan kita. Ingat, sesungguhnya nikmat-nikmat itu akan lestari karena syukur dan akan hilang dengan kufur.

Kelima, bekal seorang muslim adalah sabar. Sabar dan syukur setali tiga uang. Sabar merupakan kunci untuk meraih surga dan ridha Allah Ta’ala. Hebatnya, Allah Ta’ala itu menyertai orang-orang yang bersabar. Seperti firman Allah Ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya, Allah itu menyertai orang-orang yang sabar.” (Qs. al-Baqarah: 153). Apa pun profesinya, manusia sangat memerlukan kesabaran. Seorang guru tentu memerlukan kesabaran dalam mengajar anak didiknya.

Begitu juga dengan profesi yang lain. Bahkan, orang yang tertimpa musibah juga harus senantiasa bersabar. Jadikanlah sabar sebagai penolong kita karena yakinlah Allah bersama dengan orang-orang yang sabar terhadap ujian hidup di dunia.

Keenam, bekal yang lain adalah zuhud (tidak mencintai dunia). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan janganlah mencintai apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu!” (HR. Ibnu Majah).

Ketujuh, bekal seorang muslim adalah itsarul akhirah (mengutamakan akhirat). Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “Barangsiapa menghendaki akhirat dan mengusahakan bekal untuknya sedangkan dia beriman maka mereka itulah yang dibalas usaha mereka.” (Qs. al-Isra’: 19).

Inilah bekal yang harus kita persiapkan sebelum nantinya Allah memanggil kita untuk menghadap-Nya. Yakinlah, inilah bekal yang menolong kita dalam memikul beban kewajiban syariat dalam kehidupan dunia ini.[]

 

Etika di Jalanan

DALAM  kehidupan seorang muslim, etika adalah hal utama yang mesti diperhatikan. Artikel singkat ini akan membahas tentang etika seorang muslim saat ia di jalanan. Apa saja etika yang harus dilakukan itu? Berikut uraiannya.

Pertama, berjalan dengan sikap wajar dan tawadhu, tidak berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Qs. Luqman: 18).

Dilarang seorang muslim berjalan sambil memalingkan wajahnya saat ada yang menegur. Ia memalingkan wajahnya bukan karena sebab lain, tapi karena rasa sombong di hatinya. Berjalanlah secara waja, dan tidak sombong.

Kedua, memelihara pandangan mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Allah SWT berfirman yang artinya, “Katakanlah kepada orang laki-laki beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya….” (Qs. An-Nur: 30-31).

Orang-orang shaleh terdahulu jika mereka berjalan, mereka terbiasa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang haram dilihat. Hati akan tumpul bila terlampau banyak melihat hal-hal yang haram dilihatnya. Oleh karena itu, muslim yang bijak, akan menjaga pandagannya saat berjalan.

Ketiga, tidak mengganggu, yaitu tidak membuang kotoran, sisa makanan di jalan-jalan manusia, dan tidak buang air besar atau kecil di situ atau di tempat yang dijadikan tempat mereka bernaung. Muslim yang baik adalah yang bisa membuat orang merasa terjaga dari gangguan tangan, lisan dan kakinya.

Keempat, menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yang karenanya seseorang bisa masuk surga. Dari Abu Hurairah ra diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika ada seseorang sedang berjalan di suatu jalan, ia menemukan dahan berduri di jalan tersebut, lalu orang itu menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosanya…” Di dalam suatu riwayat disebutkan, maka Allah memasukkannya ke surge. (Muttafaq’alaih).

Kelima, menjawab salam orang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal. Ini hukumnya wajib, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada lima perkara wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya- di antaranya: menjawab salam. (Muttafaq alaih).

Menjawab salam hari ini seperti sesuatu yang asing. Padahal menjawab salam adalah sunnah yang dengannya akan menumbuhkan rasa kasih sayang antara sesama muslim.

Keenam, beramar makruf dan nahi munkar. Ini juga wajib dilakukan oleh setiap muslim, masing-masing sesuai kemampuannya. Salah satu bagian etika dalam berjalan adalah beramar makruf nahi munkar. Bagaimana caranya, jika di jalan melihat ada perbuatan yang salah,  maka segeralah berhenti untuk meluruskannya.

Ketujuh, menunjukkan orang yang tersesat (salah jalan), memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan dan menegur orang yang berbuat keliru serta membela orang yang teraniaya.

Di dalam hadits disebutkan, “Setiap persendian manusia mempunyai kewajiban sedekah…dan disebutkan diantaranya: berbuat adil di antara manusia adalah sedekah, menolong dan membawanya di atas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah dan menunjukkan jalan adalah sedekah….” (Muttafaq alaih).

Kedelapan, perempuan hendaknya berjalan di pinggir jalan. Pada suatu ketika Nabi pernah melihat campur baurnya laki-laki dengan wanita di jalanan, maka ia bersabda kepada wanita, “Meminggirlah kalian, kalian tidak layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri pinggir jalan.” (HR. Abu Daud, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Ini adalah catatan penting bagi kaum hawa. Janganlah mereka sekali-kali berjalan di tengah-tengah sementara jalan-jalan dipinggir mereka kosongkan. Selain akan mengganggu pejalan yang lain, juga secara etika Islam maka jalannya wanita di tengah-tengah adalah sebuah keburukan yang juga dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesembilan, tidak ngebut bila mengendarai mobil khususnya di jalan-jalan yang ramai dengan pejalan kaki, melapangkan jalan untuk orang lain dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk lewat. Semua itu tergolong di dalam tolong-menolong di dalam kebajikan.

Demikian beberapa etika seorang muslim dalam melakukan perjalanan. Semoga bermanfaat, wallahua’lam.[]