sheikh jarrah

Hore…Pengadilan Israel Bekukan Pengusiran Warga Palestina di Sheikh Jarrah

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Pengadilan Israel membekukan rencana penggusuran sebuah rumah milik keluarga Palestina di distrik Sheikh Jarrah di Yerusalem timur. Pembekuan ini diputuskan oleh pengadilan setempat sambil menunggu hasil banding dari makamah tingkat tinggi, Selasa (22/2) kemarin.

Keluarga Salem telah diperintahkan untuk menyerahkan properti itu kepada pemukim Yahudi yang telah mengklaim kepemilikan petak tanah tersebut. Sheikh Jarrah telah menjadi simbol perlawanan Palestina terhadap kontrol Israel atas Yerusalem, dan pengusiran segera keluarga Salem membuat mereka menjadi pemantik ketegangan yang berkembang di sana.

Pertempuran hak atas tanah antara pemukim Yahudi dan Palestina di lingkungan itu telah memicu bentrokan dan sebagian memicu perang 11 hari pada bulan Mei antara Israel dan kelompok bersenjata di Jalur Gaza. Keluarga Palestina menerima perintah pengusiran mereka pada bulan November, dengan tenggat waktu untuk mengosongkan pada 1 Maret.

Seorang pengacara untuk keluarga tersebut, Medhat Diba, mengatakan pengadilan Yerusalem Magistrate setuju untuk menangguhkan penggusuran sampai memutuskan banding yang diluncurkan oleh warga Palestina itu.  Pengadilan juga merilis keputusan yang mengkonfirmasi pembekuan.

“keputusan itu adalah langkah positif karena kami berada di ambang kehilangan rumah kami,” kata Khalil Salem, seorang anggota keluarga, kepada AFP seperti dilansir dari France24, Rabu (23/20.

Awal bulan ini bentrokan pecah ketika anggota parlemen sayap kanan Israel Itamar Ben Gvir membuka “kantor” tenda di dekat rumah keluarga itu setelah dugaan pembakaran rumah pemukim Palestina di dekatnya. PBB mengatakan personelnya mengunjungi keluarga Salem pada 18 Februari.

Israel mencaplok Yerusalem timur, yang diklaim Palestina sebagai Ibu Kota masa depan mereka, setelah Perang Enam Hari 1967 dalam sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional. Kelompok pemukim Yahudi telah memenangkan kemenangan hukum mengklaim kepemilikan berbagai petak tanah di mana warga Palestina tinggal, menggunakan hukum Israel yang memungkinkan orang Yahudi untuk merebut kembali tanah yang hilang selama konflik yang bertepatan dengan penciptaan Israel pada tahun 1948.

Tetapi tidak ada hukum reklamasi tanah yang setara bagi warga Palestina yang kehilangan rumah di Yerusalem barat. Tujuh keluarga Palestina di Sheikh Jarrah telah menantang rencana penggusuran mereka di Mahkamah Agung Israel, dengan keputusan yang sangat dinanti-nantikan.

Lebih dari 200.000 pemukim sekarang tinggal di Yerusalem timur, bersama sekitar 300.000 warga Palestina. Permukiman Yahudi di kota itu dianggap ilegal menurut hukum internasional. []

Lagi, Israel Hancurkan Rumah Warga Palestina di Sheikh Jarrah

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Konflik perebutan lahan di distrik Sheikh Jarrah, Al-Quds antara warga sah pemilik lahan yakni warga  Palestina dengan pihak otoritas Israel belum juga berakhir. Pada hari Rabu (19/1) pagi waktu setempat buldoser milik Israel kembali menghancurkan rumah milik  keluarga Palestina.

Informasi yang dilaporkan jurnalis GAZAMEDIA, pemilik rumah yang berada di lingkungan Sheikh Jarrah, Al-Quds diketahui bernama Mahmoud Salhia, beberapa hari setelah keluarga tersebut menghalang upaya pembongkaran dan pemindahan secara paksa oleh pihak otoritas Israel.

Selain melakukan pembongkaran rumah dan pengusiran secara paksa, pasukan penjajah juga menangkap dan melakukan tindakan anarkis ke sejumlah pemuda yang mencegah buldoser milik penjajah tuk hancurkan rumah keluarga mereka.

Sementara itu, otoritas penjajah berlakukan akses penutupan total di sektor jalanan Sheikh Jarrah dan mencegah para aktivis solidaritas Palestina untuk meliput dan mengabarkan kondisi yang tengah terjadi di kawasan tersebut.

Sebagai catatatn, sejak awal tahun 2021, pihak Israel berusaha mencuri tanah dan menghancurkan sejumlah rumah warga Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah dengan dalih tidak memiliki izin tempat tinggal. Perampasan tanah ini bagian dari missi zionis untuk melebarkan wilayahnya di kawasan kota tua Al-Quds. []

Diancam Digusur Israel, Warga Palestina: Kami akan Partahankan Tanah Kami

GAZAMEDIA, AL-QUDS –  Konflik Israel dan warga Palestina di distrik pemukiman Sheikh Jarrah, Al-Quds, Palestina belum juga redah. Pihak otoritas Israel kembali berulah dengan melayangkan surat perintah penggusuran paksa dan mengosongkan salah satu rumah milik  warga Palestina.

Informasi yang dihimpun GAZAMEDIA, Rabu (22/12). Mahmoud Salhia salah seorang warga Palestina mengaku  telah menerima surat perintah pengosongan dari pihak otoritas Isarel. Langka itu merupakan upaya Israel untuk merebut sebidang tanah milik keluarga Palestina.

“Surat ini merupakan kedua kalinya dalam empat bulan, dari otoritas Israel mereka ingin menyita tanah kami dengan dalih untuk kepentingan umum yaitu mendirikan sekolah di sana,” kata Salhia.

Pihak Israel, mengultimatum dirinya  hingga 25 Januari untuk melaksanakan keputusan tersebut, jika tidak maka rumahnya akan digusur secara paksa.

“Ayah kami membeli sebidang tanah enam dunum pada tahun 1967.  Dua tahun lalu satu keputusan dikeluarkan Israel untuk merebut tanah itu. Kedua rumah ini dihuni dua keluarga yang terdiri dari 12 anggota, termasuk sembilan orang anak. Kami datang ke sini setelah kami diusir oleh Israel pada 1948 dari kota Ein Karem,” kenang Salhia.

Salhia menunjukkan bahwa kota itu menawarinya perpanjangan selama delapan bulan untuk meyakinkan dia agar menandatangani kertas yang menurutnya dia justru akan menjadi penyewa rumah. Dia menolak menandatangani kertas itu. Dia mencatat bahwa pertempuran untuk mempertahankan rumahnya telah menghabiskan denda sekitar 600.000 shekel (USD190.000), biaya pengajuan kasus dan penunjukan pengacara.

“Saya terlantar sekali dan tidak akan mengungsi lagi, dan saya tidak akan menandatangani surat apapun yang diajukan oleh pendudukan. Saya tidak akan meninggalkan rumah saya, tempat saya tinggal sejak 1988,” tegas dia.

Lebih dari 500 warga Palestina yang tinggal di 28 rumah di lingkungan itu menghadapi ancaman pengusiran paksa di tangan asosiasi pemukiman yang didukung pemerintah Israel dan sistem peradilannya, yang baru-baru ini mengeluarkan keputusan menggusur tujuh keluarga. []

Penjajah Israel dan Pendatang Yahudi Serang Warga Sheikh Jarrah

GAZA MEDIA, AL-QUDS – Sejumlah warga al-Quds terluka setelah pasukan pendudukan Israel dan para pemukim pendatang Yahudi menyerang warga di kampung Sheikh Jarrah selama berlangsung pawai provokatif yang dilakukan oleh para pemukim pendatang Yahudi di kampung Palestina tersebut pada Rabu (8/12/2021) malam.

Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan bahwa pihaknya mencatat ada 4 orang luka akibat terkena tembak gas merica yang ditembakkan oleh pasukan pendudukan Israel terhadap warga yang bereaksi terhadap serangan para pemukim pendatang Yahudi ke dalam rumah warga.

Serangan-serangan dari pasukan pendudukan Israel ini bertepatan dengan kedatangan para pemukim Yahudi yang menyerang pemilik rumah yang terancam penggusuran di kampung tersebut. Mereka meneriakkan slogan-slogan rasis terhadap warga Palestina dan Arab, serta mengibarkan bendera entitas pendudukan Israel.

Pasukan pendudukan Israel memberikan perlindungan keamanan bagi para pemukim pendatang Yahudi selama mereka menyerbu kampung tersebut, dengan menutup pintu masuk menggunakan penghalang besi untuk mencegah masuknya para aktivis solidaritas yang lebih ke kampung Sheikh Jarrah.

Para saksi mata menyatakan bahwa para pemukim pendatang Yahudi sengaja memprovokasi warga yang tinggal di tower al-Sumoud di kampung yang sama.

Seorang warga dari kampung Sheikh Jarrah, Saleh Diab, mengatakan bahwa pasukan pendudukan Israel memeriksa identitas orang-orang di dalam tenda solidaritas di dalam kampung, yang datang sebelumnya ke sana untuk membela warga kampung yang terancam pengusiran. Pasukan pendudukan Israel mengusir mereka yang bukan penduduk kampung tersebut.

Puluhan warga merespon seruan untuk berkumpul di kampung Sheikh Jarrah, untuk menghadang para pemukim pendatang Yahudi dan tidak membiarkan penduduk kampung Sheikh Jarrah sendirian menghadapi serangan mereka.

Sebanyak 500 warga al-Quds yang tinggal di 28 rumah di kampung Sheikh Jarrah terancam diusir dari rumah mereka, setelah organisasi permukiman Yahudi bersekongkong dengan pengadilan pendudukan Israel, dengan mengeluarkan keputusan terhadap tujuh keluarga kampung Sheikh Jarrah untuk diusir. Padahal kenyataannya, warga kampung tersebut adalah pemilik sebenarnya dan sah atas tanah tersebut.

Apapun yang Terjadi, Kami akan Tetap Di Sini…!

Jika rumah kami hilang, itu berarti Sheikh Jarrah hilang, itu berarti semua Yerusalem hilang.

Aku berharap kami tetap bisa tinggal di rumah ini

Pohon zaitun ini lebih tua dari pada penjajahan Israel

Dan kami akan menetap seperti pohon zaitun ini, disini!

 

Kami harus korbankan hidup kami semua di rumah ini, insya Allah

Kami akan berikan semua hidup kami di sini.

Allah adalah penolong kami dan kami tidak pernah takut

Jika Allah menghendaki, mereka akan menepati janji kami

 

Kami menyayangi rumah kakek kami di Sheikh Jarrah

Dan mereka akan tetap tinggal di situ.

Ah, kami telah menerima pemberitahuan dari pengadilan

bahwa Nahalat Shimon memenuhi gugatan terhadap kami,

Wilayah yang mirip dengan salah satu lingkungan Sheikh Jarrah,

Kami adalah penghuni blok 28

Tentu saja, penduduk blok ini memiliki perjanjian dengan pemerintah Yordania.

Dan persetujuan UNRWA

 

Hari ini kami memiliki sesi pertama

Disebut siding di pengadilan

Pengadilan mendengarkan kami

dan mendengarkan pemukim Israel yang menuduh kami bahwa kami tinggal di sini dengan paksa

Tentu saja, ini adalah tuduhan palsu. Pengacara meyakinkan mereka

bahwa kami di sini tidak terpaksa, seperti yang mereka klaim,

kami di sini dalam perjanjian internasional

perjanjian dengan UNRWA dan dengan pemerintah Yordania.

Kami mendengar hakim dan mendengarkan pihak lain, dan keputusan akan diungkapkan

 

Hakim memberi waktu 60 hari untuk masing–masing partai

Untuk memberikan bukti apapun yang kita miliki

rumah ini adalah tempat semua masa kecil kami

dan semua kenangan kami, bersama saudari kami

dan aku berharap suatu hari nanti

Kami tetap tinggal di rumah ini, dan tidak perlu meninggalkannya

karena itu, pengadilan penjajah Israel dan Asosiasi Nahalat Shimon

yang mengajukan kasus terhadap orang-orang Sheikh Jarrah

untuk mengevakuasi mereka dari rumah mereka tanpa bukti

 

Atau surat untuk membuktikan kepemilikan mereka atas rumah-rumah ini,

dan seperti apa yang terjadi hari ini di pengadilan,

mereka tidak pernah memiliki bukti kepemilikan rumah ini

Tapi itu adalah kebijakan penggusuran.

 

Aku harap kam bukan korban evakuasi ini.

Aku tahu bahwa semua orang Palestina hidup dengan perpindahan dan penderitaan

Tidak ada yang tersisa dari Yerusalem.

Jika rumah kami dan rumah-rumah Syekh Jarrah dan Silwan hilang, maka tidak ada yang tersisa di Yerusalem bagi kami.

Tidak akan ada tempat bagi kami sebagai orang Palestina atau sebagai tempat suci di Yerusalem.

Atau dalam Sheikh Jarrah

 

Aku suka rumah kakek-nenekku, aku sangat mencintai mereka

Dan aku ingin selalu datang ke sini, dan aku tidak ingin ada yang menempati rumah ini,

Aku tidak ingin ada yang mencurinya

Kehidupan ini adalah milik kami

Ini bukan lelucon, rumah ini adalah salah satu dari 56 bangunan di blok ini.

Tiba–tiba, setelah 70 tahun, mereka datang, dan menyuruhmu keluar dari rumah ini

Rumah ini tidak pernah berkonflik, dan tidak pernah ada yang datang dan mengklaim kepemilikannya.

 

Jika seseorang memelihara anak kucing selama beberapa tahun, akan menjadi sulit bagi mereka untuk berpisah darinya.

Lalu apa pendapat Anda tentang rumah kami, masa depan kami, hidup kami ketika mereka menyuruh kami pergi?

Tentu saja, itu adalah hal yang mengerikan untuk dialami

karena kami tidak percaya penjajah dan kami tidak mempercayai hukum Israel

 

Itu sebabnya kami selalu merasa tidak aman dan tidak percaya di rumah kami sendiri.

Kami selalu mencari pertolongan dari Allah yang pertama kali menciptakan dunia

Dan yang pasti kami memiliki hak untuk tinggal di sini

 

Kami akan selalu tetap teguh, dan kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk diri kami sendiri.

Untuk tinggal di sini, entah itu dengan serangan elektronik atau protes

Turun ke jalan, dan apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah ini.[]