yerussalem

‘Israel’ Khawatir Situasi Memanas Pascaoperasi “Komando Al-Quds”

GAZA MEDIA, AL QUDS –  Sejumlah sumber keamanan Israel menyatakan, Senin (22/11) akan ketakutan mereka bahwa operasi Yerusalem akan menyebabkan ledakan situasi dan memicu Intifada baru di seluruh Palestina.

Ketakutan Israel ini mirip dengan operasi syahid Muhannad al-Halabi pada 2015, yang memicu Intifada baru.

Mereka menyebutkan, pemicu ledakan situasi di Tepi Barat dan Al-Quds akan meletus dengan ‘hasutan keras dari Hammas’.

Kekhawatiran mereka saat ini berpusat pada orang lain yang mencoba meniru proses tersebut, yang mungkin menarik bagi banyak orang Palestina

Sementara itu, analis urusan Palestina di surat kabar Yedioth Ahronoth Israel, Elior Levy, menggambarkan apa yang terjadi sebagai “perangkap yang dibuat oleh Hammas, karena berusaha untuk menyalakan intifada baru”, menunjukkan sejauh mana kegembiraan yang diungkapkan gerakan itu setelah operasi gerilya berlangsung.

Levy berbicara tentang upaya otoritas baru-baru ini untuk memadamkan kegelisahan “Hammas” di Tepi Barat, “dengan memerangi semua manifestasi perayaan yang dilakukan oleh aktivis gerakan tersebut setelah pembebasan rekan-rekan mereka dari penjara Israel dan kampanye yang mereka coba luncurkan di kamp Jenin beberapa hari yang lalu.” []

Pria Paruh Baya Tembak Mati Serdadu ‘Israel’ di Yerussalem

GAZA MEDIA, YERUSSALEM – Pada Minggu (21/11) pagi, Magon David Adom mengumumkan bahwa seorang pria paruh baya di Palestina tewas dan 4 tentara Israel terluka, salah satunya dalam kondisi kritis, selama operasi penembakan di Kota Tua Yerusalem yang terjajah.

Sementara itu, radio tentara “Israel” melaporkan seorang Palestina telah melakukan serangan penembakan terhadap sekelompok anggota “Penjaga Perbatasan” di Gerbang al-Silsilah Masjid Al-Aqsa, yang mengakibatkan salah satu dari mereka terluka parah, karena ditembak di kepala.

Dia mengatakan bahwa upaya medis sedang dilakukan untuk menolong tentara Israel, sementara yang lain menderita luka sedang hingga luka serius. Pihak Israel mengatakan, “pelaku penyerangan itu ditembak mati, dan dia terluka parah.

Penjajah juga menutup Masjid Al-Aqsa dan mengirim pasukan tambahan ke Masjid Al-Aqsa, dengan misi pencarian tersangka lain.

Sementara itu, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengucapkan selamat atas operasi berkomando di Yerusalem yang terjajah.

Dalam sebuah pernyataan pers, salinan yang diterima oleh Gaza Media, Hazem Qassem mengatakan Kota suci ini akan terus berjuang sampai mengusir penjajah aneh dan tidak akan menyerah pada realitas keji penjajahan. []

‘Israel’ Tolak Pembukaan Kembali Konsulat AS di Yerussalem

GAZA MEDIA, YERUSALEM — Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan Sabtu (6/11) malam bahwa tidak ada ruang di Yerusalem untuk misi Amerika lainnya.

“Tidak ada ruang untuk konsulat Amerika lainnya di Yerusalem. Yerusalem adalah ibu kota satu negara dan itu adalah negara Israel,” tandasnya.

Pemerintahan Trump menutup konsulat AS di Yerusalem, sebuah kantor yang selama bertahun-tahun berfungsi sebagai kedutaan de facto untuk Palestina. Menteri Luar Negeri Antony Blinken telah berjanji untuk membukanya kembali, sebuah langkah yang menurut Israel akan menantang kedaulatannya atas kota itu. Pembukaan kembali misi diplomatik itu diharapkan dapat membantu memperbaiki hubungan AS dengan Palestina yang terputus di bawah Trump.

Dilansir VOA  Indonesia, dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan pihaknya memandang pembukaan kembali konsulat itu sebagai bagian dari komitmen komunitas internasional untuk mengakhiri pendudukan Israel selama puluhan tahun atas wilayah yang oleh Palestina dicita-citakan sebagai negara masa depan mereka.

Kementerian Luar Negeri Palestina menyatakan, “Yerusalem Timur adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki dan merupakan ibu kota negara Palestina. Israel, sebagai kekuatan pendudukan, tidak berhak memveto keputusan pemerintah AS.”

Dalam konferensi pers, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengulangi posisi Israel di Yerusalem. Dia menyarankan agar konsulat Amerika itu dibuka di pusat administrasi Palestina di Ramallah, Tepi Barat.

Menlu Israel, Yair Lapid mengatakan, “Mengenai konsulat Amerika, seperti yang kami berdua katakan, ini bukan masalah politik dan stabilitas politik, ini adalah penolakan berprinsip dari Negara Israel terhadap pembukaan konsulat di Yerusalem. Sudah ada kedutaan Amerika (di Yerusalem), dan jika mereka ingin membukanya di Ramallah, kami tidak punya masalah dengan itu.”

Warga Palestina menolak gagasan itu karena hal itu akan mengacaukan klaim mereka atas Yerusalem. []