spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Tuesday, March 24, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBerita100 ribu warga Israel pergi dalam dua tahun, termasuk profesional dan dokter

100 ribu warga Israel pergi dalam dua tahun, termasuk profesional dan dokter

Sebuah studi terbaru menemukan peningkatan signifikan dalam angka emigrasi dari Israel dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan tenaga profesional berkeahlian tinggi. Kelompok dokter disebut sebagai salah satu yang paling terdampak, sebagaimana dilaporkan harian Israel, Haaretz, pada Senin.

Studi yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv tersebut meneliti tren migrasi selama 15 tahun terakhir, dengan fokus pada perkembangan sejak 2023, termasuk dampak reformasi peradilan, gelombang protes publik, serta perang di Gaza.

Berdasarkan temuan penelitian, sekitar 950 dokter meninggalkan Israel sepanjang 2023 dan 2024, atau sekitar 510 orang jika memperhitungkan mereka yang kembali. Studi ini juga menunjukkan bahwa dua pertiga dokter yang pergi merupakan lulusan sekolah kedokteran di Israel, jumlah yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu penulis studi, Itai Ater, menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai hengkangnya sumber daya manusia berkualitas kini terbukti secara data. “Dalam studi ini kami ingin melihat apakah ada data yang mendukung kekhawatiran tersebut. Sayangnya, kami menemukan lonjakan besar, bahkan drastis, pada 2023 dan 2024,” ujarnya.

Penelitian ini juga menyoroti adanya peningkatan yang “signifikan dan mengkhawatirkan” dalam jumlah profesional berpenghasilan tinggi yang meninggalkan negara tersebut, termasuk dokter, lulusan doktoral (PhD), akademisi, insinyur, dan tenaga ahli lainnya.

Analisis dilakukan dengan menggunakan data dari Biro Statistik Pusat Israel, Dewan Pendidikan Tinggi, Kementerian Kesehatan, serta otoritas pajak, yang mencakup aspek migrasi, pendidikan, perizinan, dan pendapatan.

Secara keseluruhan, studi memperkirakan sekitar 100.000 warga Israel meninggalkan negara itu dalam kurun 2023–2024, atau sekitar 50.000 orang per tahun. Angka ini menunjukkan perubahan signifikan setelah sebelumnya tren migrasi relatif stabil.

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa banyak dokter yang pergi merupakan tenaga berpengalaman, berusia 40 tahun ke atas. “Ini adalah dokter yang sudah mapan, memiliki pengetahuan dan pengalaman,” kata Ater, seraya menambahkan bahwa kondisi ini berpotensi memberi dampak serius terhadap sistem layanan kesehatan.

Meski tren tersebut belum menimbulkan ancaman langsung terhadap perekonomian Israel, para peneliti mengingatkan bahwa jika terus berlanjut, dampaknya bisa menjadi serius. Mereka juga menyoroti bahwa guncangan tambahan—baik politik, ekonomi, maupun keamanan—dapat memicu lonjakan emigrasi yang lebih tajam dan berisiko besar bagi masa depan negara tersebut.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler