Saturday, November 29, 2025
HomeBerita50 negara dan organisasi bergabung dalam “pusat koordinasi Gaza”

50 negara dan organisasi bergabung dalam “pusat koordinasi Gaza”

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan, Jumat (28/11), bahwa sebanyak 50 negara dan organisasi internasional kini tergabung dalam Pusat Koordinasi Sipil-Militer.

Perkumpulan itu dibentuk Washington di Israel selatan untuk memantau implementasi gencatan senjata di Gaza.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan di platform X, CENTCOM menyebut bahwa setelah satu bulan beroperasi penuh, pusat koordinasi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) itu terus berkembang.

Pusat koordinasi tersebut berkembang dengan bergabungnya perwakilan dari 50 negara mitra dan lembaga internasional.

Komandan CENTCOM menyebut langkah ini sebagai “kesempatan historis” untuk mewujudkan perdamaian berkelanjutan di Timur Tengah.

Ia menyampaikan apresiasi kepada para mitra internasional, seraya menegaskan bahwa keberhasilan rencana perdamaian membutuhkan kerja sama yang belum pernah terjadi sebelumnya.

CENTCOM menjelaskan bahwa pusat tersebut telah memfasilitasi pergerakan lebih dari 24.000 truk bermuatan bantuan kemanusiaan dan barang komersial menuju Gaza selama 5 pekan terakhir.

Namun klaim tersebut bertolak belakang dengan kondisi di lapangan dan data resmi Pemerintah Gaza, yang menegaskan bahwa kebijakan pembatasan dan “penggiringan menuju kelaparan” masih terus berlangsung.

Menurut laporan Kantor Media Pemerintah Gaza pada Senin lalu, Israel hanya mengizinkan masuk sekitar 200 truk bantuan per hari, jauh di bawah 600 truk yang disepakati sebelumnya.

Upaya berlanjut di tengah krisis

Dalam pernyataannya, CENTCOM menambahkan bahwa upaya terus dilakukan untuk memastikan tersampaikannya bantuan kemanusiaan.

Bantuan tersebut diperlukan dalam menghadapi bulan-bulan musim dingin, termasuk menghilangkan sisa-sisa amunisi yang belum meledak di sepanjang jalur logistik vital Gaza guna meningkatkan keselamatan publik.

Pusat ini juga diklaim telah membantu evakuasi lebih dari 1.500 warga Gaza yang memiliki kewarganegaraan ganda atau membutuhkan perawatan medis mendesak.

Didirikan pada 17 Oktober lalu—5 hari setelah para pemimpin dunia menyetujui rencana perdamaian yang dimediasi AS—pusat koordinasi tersebut mulai beroperasi penuh pada 24 Oktober setelah para staf internasional tiba di markasnya di Kota Kiryat Gat, Israel selatan.

Tahap pertama dari perjanjian gencatan senjata yang dipantau pusat ini mulai berlaku pada 10 Oktober lalu, mencakup penghentian perang, pertukaran tahanan, dan masuknya bantuan kemanusiaan secara langsung ke Gaza.

Adapun fase kedua dari rencana perdamaian yang digagas pemerintahan Trump mencakup penempatan pasukan internasional penjaga perdamaian di Gaza, penarikan tentara Israel, serta pelucutan senjata Hamas.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler