Gempuran di Gaza kembali menunjukkan babak baru dalam dinamika perang yang belum berkesudahan. Insiden di Kampung Zaitun, Gaza timur, pada Jumat malam, menggambarkan betapa rapuhnya kesiapan tempur pasukan Israel di lapangan.
Menurut analis militer sekaligus perwira menengah purnawirawan, Kolonel Nidal Abu Zaid, serangan beruntun yang dilancarkan pejuang Palestina pada malam hari merupakan bukti nyata tingginya kemampuan operasi mereka.
“Keberhasilan ini memperlihatkan tingkat profesionalisme perlawanan, sekaligus menyingkap menurunnya kesiapan dan kapasitas tempur pasukan Israel,” ujarnya.
Media Israel mengakui, pasukan mereka terjebak dalam sebuah penyergapan terencana di kawasan Zaitun.
Satu serdadu dilaporkan tewas, sembilan lainnya terluka. Lebih jauh, muncul kekhawatiran empat tentara lain kemungkinan jatuh ke tangan pejuang Hamas.
Tentara Israel pun melakukan pencarian besar-besaran sepanjang malam, sambil menyebut kejadian itu sebagai “peristiwa keamanan serius” yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Abu Zaid menilai, insiden di Zaitun menyingkap kelemahan struktural militer Israel.
“Mereka menghadapi erosi dalam peralatan, struktur organisasi, dan sumber daya manusia. Bahkan hubungan antara elite politik dan militer tampak renggang,” katanya.
Ia juga menyoroti penggunaan tembakan masif oleh Israel, yang menurutnya lebih bertujuan membebaskan pasukan sendiri dari kepungan ketimbang menguasai wilayah.
“Taktik itu menunjukkan bahwa perlawanan berhasil menawan setidaknya seorang tentara,” tambahnya.
Indikasi lain, Israel dilaporkan sempat mengaktifkan Protokol Hannibal, prosedur militer yang ditujukan untuk mencegah prajurit jatuh hidup-hidup ke tangan lawan, meski berisiko membahayakan mereka sendiri.
Apa yang terjadi di Zaitun, menurut Abu Zaid, adalah terjemahan nyata dari ancaman Abu Ubaida, juru bicara Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas.
Dalam pesannya melalui Telegram beberapa jam sebelumnya, Abu Ubaida menegaskan bahwa para pejuang sedang berada dalam siaga penuh dan siap memberikan “pelajaran keras” kepada pasukan pendudukan.
Ia bahkan menyatakan, setiap tawanan yang gugur akibat serangan Israel akan diumumkan dengan nama, foto, dan bukti kematiannya.
Dengan demikian, penawanan tentara Israel tidak lagi sekadar ancaman retorik, melainkan telah menjadi strategi kunci Hamas untuk mengubah keseimbangan operasi di lapangan.
Di sisi lain, Abu Zaid menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah menjual ilusi, baik kepada publik domestik maupun pemerintahan Amerika Serikat (AS).
Pernyataan Netanyahu tentang dimulainya tahap pertama operasi “Kereta Gideon 2” dinilainya tak lebih dari propaganda politik yang jauh dari kenyataan di lapangan.