Sedikitnya 13 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, dalam serangan Israel di Kota Beit Jinn dan jalur menuju Mazraat Beit Jinn di wilayah pinggiran Damaskus, Jumat (dini hari).
Koresponden Anadolu, mengutip sumber-sumber lokal, melaporkan bahwa 13 korban jiwa termasuk dua perempuan dan dua anak.
Stasiun televisi pemerintah Suriah, Alikhbaria, menyebut pesawat nirawak Israel terus melintas di atas kawasan tersebut setelah serangan, terutama di sepanjang jalan yang menghubungkan kedua kota.
Banyak korban diyakini masih tertimbun reruntuhan. Warga dan relawan masih berupaya mengevakuasi mereka. Tim Pertahanan Sipil dan dua ambulans dari Dinas Kesehatan pinggiran Damaskus telah memasuki wilayah itu untuk mengevakuasi korban tewas dan merawat yang terluka, demikian laporan SANA.
Stasiun televisi itu juga menyebut puluhan keluarga mengungsi dari Beit Jinn menuju kawasan yang lebih aman.
Sebelumnya, stasiun tersebut melaporkan bahwa satu patroli Israel sempat memasuki kota dan terlibat bentrokan singkat dengan warga sebelum akhirnya mundur.
Militer Israel, dalam pernyataan terpisah, mengatakan enam tentaranya terluka dalam operasi tersebut, tiga di antaranya dalam kondisi kritis. Israel mengklaim telah menahan anggota “Jamaa Islamiya,” yang dituduh melakukan aktivitas di wilayah Beit Jinn dan “merencanakan serangan terhadap warga Israel.”
Namun, Jamaa Islamiya membantah keras tuduhan itu. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut menyatakan “terkejut” namanya dikaitkan dengan serangan di Beit Jinn dan menegaskan tidak memiliki aktivitas apa pun di luar Lebanon. Kelompok itu mengecam serangan terhadap Beit Jinn dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban.
Jamaa Islamiya juga menegaskan komitmennya pada kesepakatan gencatan senjata dengan Israel tanggal 27 November 2024 serta menegaskan bahwa semua kegiatannya berada dalam kerangka hukum Lebanon.
Militer Israel telah melakukan 48 serangan di Suriah selatan sepanjang November.
Data pemerintah Suriah mencatat lebih dari 1.000 serangan udara Israel dan lebih dari 400 serangan lintas batas ke provinsi selatan sejak Desember 2024.
Setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, Israel memperluas pendudukannya di Dataran Tinggi Golan dengan mengambil alih zona penyangga demiliterisasi—langkah yang melanggar Perjanjian Pemisahan 1974 antara Israel dan Suriah.


