Sunday, November 30, 2025
HomeBerita“Bebaskan Marwan”, kampanye global untuk pembebasan Marwan Barghouti

“Bebaskan Marwan”, kampanye global untuk pembebasan Marwan Barghouti

Harian The Guardian melaporkan bahwa sebuah kampanye internasional mulai bergulir untuk menuntut pembebasan tokoh Palestina, Marwan Barghouti.

Sosok yang oleh banyak pihak dipandang sebagai harapan baru bagi kepemimpinan Palestina di masa depan.

Gerakan ini muncul di tengah negosiasi yang terus berlangsung terkait gencatan senjata sementara di Gaza.

Di panggung internasional, tekanan untuk membebaskan Barghouti semakin menguat.

Ia dianggap salah satu pemimpin paling berpengaruh dan populer dalam politik Palestina.

Selain itu, hal itu juga menjadi simbol harapan bagi banyak warga yang mendambakan pembaruan kepemimpinan dan pemulihan legitimasi politik di wilayah pendudukan.

Kampanye terbaru ini dipimpin keluarga Barghouti dengan dukungan sejumlah organisasi masyarakat sipil Inggris.

Tujuannya adalah menempatkan kembali kasus Barghouti di garis terdepan agenda politik dan diplomatik yang akan mencuat setelah fase gencatan senjata saat ini.

Gerakan tersebut mulai terlihat secara visual di ruang publik. Di sejumlah sudut kota London, mural dan poster bertuliskan “Free Marwan” atau “Bebaskan Marwan” mulai bermunculan.

Di Desa Kober, dekat Ramallah—kampung halaman Barghouti—sebuah karya seni besar dipasang sebagai bentuk dukungan.

Sejumlah tokoh politik dan budaya juga tengah menyiapkan surat pernyataan bersama untuk mendesak pembebasannya.

Serangkaian survei opini publik menunjukkan bahwa Barghouti secara konsisten menempati posisi tertinggi sebagai tokoh paling populer di Tepi Barat maupun Gaza.

Popularitas itu memperkuat keyakinan bahwa ia adalah calon yang paling berpeluang memimpin fase politik baru jika kelak dibebaskan.

Barghouti ditangkap lebih dari 20 tahun lalu, menjalani hukuman lima kali penjara seumur hidup ditambah 40 tahun.

The Guardian menyebut proses pengadilannya banyak cacat, sebuah penilaian yang juga pernah disampaikan oleh Uni Parlemen Internasional.

Israel berulang kali menolak memasukkan namanya dalam kesepakatan pertukaran tahanan terakhir.

Sebuah penolakan yang mencerminkan sensitivitas politik yang menyelimuti kasusnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Barghouti dikabarkan mengalami berbagai bentuk pelanggaran di penjara, termasuk pengurungan isolasi.

Empat serangan fisik sejak 2023, serta larangan kunjungan keluarga selama 3 tahun.

Pengacaranya hanya diizinkan menemuinya lima kali dalam dua tahun, sementara Komite Palang Merah Internasional tetap dilarang mengakses kondisinya.

Barghouti kerap dilihat sebagai pendukung utama solusi dua negara di tubuh Fatah.

Namun Israel—sebagaimana dikutip The Guardian—khawatir bahwa pembebasannya akan memberikan momentum politik besar bagi rakyat Palestina.

Ia dinilai mampu menyatukan faksi-faksi yang terpecah serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi politik Palestina yang merosot selama masa pemerintahan panjang Presiden Mahmoud Abbas.

Pada akhirnya, tulis harian Inggris tersebut, kasus Barghouti telah melampaui statusnya sebagai seorang tahanan politik terkemuka.

Ia menjelma menjadi simbol global yang mewakili kompleksitas konflik Palestina–Israel dan kebuntuan proses politik di wilayah itu.

Dengan meningkatnya tekanan internasional dan meluasnya mobilisasi rakyat, fase setelah gencatan senjata diperkirakan akan membuka kembali perdebatan mengenai masa depan Marwan Barghouti.

Sebuah isu yang dapat mempengaruhi arah politik Palestina pada tahun-tahun mendatang.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler