Sedikitnya empat warga Palestina tewas akibat tembakan tentara Israel di lingkungan Al-Tuffah, Kota Gaza, Selasa, meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober lalu. Pada hari yang sama, seorang bayi dilaporkan meninggal dunia akibat cuaca dingin ekstrem, menambah jumlah kematian anak akibat hipotermia menjadi 11 orang sejak musim dingin dimulai.
Sumber medis di rumah sakit Gaza menyatakan bahwa keempat korban tewas ditembak oleh pasukan Israel di luar area penempatan yang telah ditetapkan di kawasan Al-Tuffah. Insiden tersebut terjadi di tengah laporan berlanjutnya tembakan dan penembakan artileri Israel di sejumlah wilayah Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, bayi yang meninggal akibat suhu dingin ekstrem merupakan bagian dari kelompok pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat atau bangunan yang rusak tanpa akses pemanas. Otoritas kesehatan setempat memperingatkan bahwa kondisi tersebut membuat keluarga pengungsi, khususnya anak-anak, sangat rentan seiring menurunnya suhu udara.
Di wilayah selatan Gaza, artileri Israel dilaporkan menembaki area timur Khan Younis, sementara angkatan laut Israel menyerang kapal-kapal nelayan Palestina di lepas pantai kota tersebut. Serangan udara juga dilaporkan terjadi di Rafah, yang menurut ketentuan gencatan senjata masih berada di bawah kendali militer Israel.
Laporan serupa datang dari Deir al-Balah dan Al-Tuffah, yang disebut masih berada dalam zona kendali Israel. Helikopter militer Israel dilaporkan melepaskan tembakan ke arah wilayah timur Kamp Pengungsi Al-Bureij di Gaza tengah.
Menurut sumber medis Palestina, sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 486 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.340 orang lainnya mengalami luka-luka akibat pelanggaran yang dilaporkan terjadi.
Secara keseluruhan, jumlah korban tewas di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 dilaporkan mencapai 71.662 orang, dengan lebih dari 171.400 lainnya terluka. Ratusan jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan dan belum dapat dievakuasi akibat keterbatasan alat berat dan kerusakan infrastruktur.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan hampir 90 persen infrastruktur sipil di Gaza mengalami kerusakan. Biaya rekonstruksi diperkirakan mencapai sekitar 70 miliar dollar AS. Lembaga kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa kondisi hidup yang memburuk masih mengancam keselamatan warga sipil, terutama anak-anak.

