Hampir dua juta orang di Israel hidup di bawah garis kemiskinan, termasuk sekitar 880.000 anak-anak, menurut data resmi yang dirilis Jumat (30/1), menyoroti krisis sosial yang semakin dalam di tengah perang, meningkatnya biaya hidup, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, lapor Anadolu.
Angka tersebut dipublikasikan dalam Laporan Kemiskinan Israel 2024 oleh National Insurance Institute, yang menyebutkan bahwa populasi negara itu lebih dari 10 juta jiwa, dengan warga Palestina mencakup sekitar 21%.
“Ada sekitar dua juta orang miskin di Israel, di antaranya sekitar 880.000 anak-anak, lebih dari satu dari empat anak di seluruh negeri,” demikian isi laporan tersebut.
Kemiskinan anak diproyeksikan mencapai 28%, naik dari 27,6% pada 2023, sementara hampir satu juta anak mengalami ketidakamanan pangan akibat kesulitan ekonomi, tambah laporan itu.
Institut tersebut memperingatkan bahwa kondisi ekonomi anak-anak terus memburuk, terdorong oleh dampak perang, biaya hidup yang tetap tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang lamban.
Menurut laporan, garis kemiskinan untuk seorang individu di Israel ditetapkan sebesar 3.547 shekel (sekitar 1.145 dolar AS) per bulan, berdasarkan indikator yang digunakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Untuk pasangan, ambang batas naik menjadi 7.095 shekel (2.290 dolar AS), sementara sebuah keluarga beranggotakan lima orang dianggap miskin jika pendapatannya di bawah 13.303 shekel (4.295 dolar AS).
Secara keseluruhan, tingkat kemiskinan menunjukkan sedikit perubahan dibanding 2023, dengan peningkatan tipis di kalangan individu dari 20,6% menjadi 20,7%, sementara tingkat kemiskinan keluarga menurun sedikit dari 20,2% menjadi 20%.
Di kalangan lansia, laporan mencatat sekitar 158.000 orang hidup dalam kemiskinan, angka yang lebih tinggi dibanding rata-rata OECD.
Israel menempati peringkat kedua di antara negara-negara OECD dalam tingkat kemiskinan anak, setelah Kosta Rika. Laporan mengaitkan hal ini dengan rendahnya pengeluaran publik untuk kesejahteraan sosial, yang hanya mencapai 16,7% dari produk domestik bruto, jauh di bawah rata-rata OECD.
Tingkat kemiskinan tertinggi tercatat di kalangan warga Palestina dan komunitas Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi). Menurut data, 37,6% keluarga Palestina dan 32,8% keluarga Haredi hidup di bawah garis kemiskinan, yang bersama-sama menyumbang 65,1% dari populasi miskin di Israel.
Laporan ini dirilis saat Israel masih terlibat dalam konflik regional yang berkepanjangan, termasuk perang yang terus berlangsung di Gaza dan operasi militer di beberapa front, perkembangan yang semakin menekan perekonomian dan struktur sosial negara itu.

