Di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta spekulasi luas mengenai kemungkinan pecahnya perang, otoritas penanganan krisis di Teheran menyatakan kesiapsiagaan penuh.
Berbicara kepada media di Teheran pada Sabtu, Kepala Organisasi Manajemen Krisis Teheran, Ali Nasiri, mengatakan bahwa Komite Pertahanan Pasif Pemerintah Kota Teheran telah melakukan pendataan menyeluruh terhadap tempat-tempat perlindungan yang ada di ibu kota Iran tersebut.
Berdasarkan hasil survei, sekitar 518 tempat perlindungan lama yang berada di sekolah-sekolah telah diidentifikasi. Namun, hanya sekitar 20 persen di antaranya yang masih memungkinkan untuk dipulihkan dan digunakan kembali.
Nasiri menyebutkan, sebanyak 82 stasiun metro di seluruh Teheran telah resmi ditetapkan sebagai tempat perlindungan dan saat ini tengah dilengkapi dengan fasilitas dasar, seperti toilet, pasokan air, serta cadangan makanan.
Ia menambahkan, pemasangan rambu dan penanda khusus sebagai tempat perlindungan di stasiun-stasiun metro tersebut akan segera diselesaikan.
Selain jaringan metro, lebih dari 300 ruang bawah tanah lainnya, termasuk area parkir dan kompleks publik, juga telah diidentifikasi sebagai calon lokasi perlindungan darurat.
Setelah seluruh prosedur dan perizinan rampung, tempat-tempat perlindungan tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 2,5 juta warga.
Jumlah penduduk Teheran sendiri diperkirakan berada di kisaran 10 hingga 12 juta jiwa, dan dapat meningkat menjadi 15 hingga 16 juta jiwa jika mencakup wilayah metropolitan yang lebih luas.
Pada Juni 2025, saat terjadi konfrontasi militer langsung antara Iran dan Israel—yang merupakan pertama kalinya—warga di sejumlah wilayah Teheran sempat mencari perlindungan di stasiun-stasiun metro terdekat.
Sejak konflik bersenjata selama 12 hari tersebut, otoritas manajemen krisis Iran, khususnya di Teheran, telah mengambil berbagai langkah untuk meningkatkan kesiapan stasiun metro, fasilitas parkir, dan lokasi lainnya agar dapat difungsikan sebagai tempat perlindungan yang aman bagi warga.
Dalam beberapa pekan terakhir, ancaman pecahnya perang kembali menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa sebuah “armada” angkatan laut sedang menuju Iran, yang dinilai sebagai sinyal potensi aksi militer.
Pemerintah Iran telah memperingatkan bahwa mereka akan memberikan respons keras terhadap setiap serangan.

