Otoritas Israel membatalkan koordinasi evakuasi gelombang ketiga pasien dan korban luka dari Jalur Gaza melalui perlintasan darat Rafah, sehingga keberangkatan yang dijadwalkan pada Rabu terpaksa ditunda. Hal itu disampaikan Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent Society).
Juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina, Raed Al-Nems, mengatakan kepada Anadolu bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberi tahu pihaknya mengenai pembatalan tersebut tanpa disertai alasan.
Menurut Al-Nems, tim Bulan Sabit Merah telah sepenuhnya siap mengevakuasi pasien dari Rumah Sakit Al-Amal di Kota Khan Younis, Gaza selatan. Namun, pembatalan koordinasi pada menit-menit terakhir membuat proses evakuasi tidak dapat dilaksanakan.
Ia menambahkan bahwa pihaknya kini menunggu dimulainya kembali koordinasi dengan harapan evakuasi gelombang ketiga pasien dan korban luka dapat dilakukan pada Kamis, mengingat kondisi kemanusiaan dan kesehatan di Jalur Gaza yang sangat memprihatinkan.
Perkiraan resmi di Gaza menunjukkan sekitar 22.000 orang luka dan sakit membutuhkan perawatan medis di luar Jalur Gaza, di tengah runtuhnya sistem kesehatan akibat perang Israel yang disebut bersifat genosidal.
Israel secara terbatas dan dengan pembatasan yang sangat ketat membuka kembali sisi Palestina dari perlintasan Rafah pada Senin. Perlintasan tersebut berada di bawah pendudukan Israel sejak Mei 2024.
Menurut laporan media Mesir dan Israel, sekitar 50 warga Palestina dijadwalkan melintas setiap hari menuju Gaza dan jumlah serupa menuju Mesir, termasuk pasien dan pendamping mereka. Namun, skema tersebut belum berjalan sebagaimana direncanakan.
Sejak dibuka kembali pada Senin, tercatat 52 warga Palestina memasuki Gaza dan 60 orang meninggalkan wilayah tersebut melalui perlintasan Rafah.
Data semi-resmi Palestina menunjukkan sekitar 80.000 warga Palestina telah mendaftarkan diri untuk kembali ke Gaza. Angka ini mencerminkan penolakan warga Palestina terhadap pengungsian paksa serta keteguhan mereka mempertahankan hak untuk kembali, meskipun kehancuran meluas terjadi di wilayah tersebut.
Israel menegaskan bahwa hanya warga Palestina asal Gaza yang diizinkan kembali ke wilayah itu apabila mereka meninggalkannya setelah pecahnya perang.
Kesaksian para warga yang kembali, termasuk lansia dan anak-anak, menunjukkan bahwa mereka mengalami pelecehan serta interogasi militer Israel yang keras di perlintasan.
Israel sejatinya dijadwalkan membuka kembali perlintasan Rafah pada fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun, komitmen tersebut tidak dipenuhi.
Gencatan senjata itu mengakhiri ofensif Israel yang dimulai pada Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun, yang menewaskan hampir 72.000 warga Palestina serta melukai lebih dari 171.000 orang, sekaligus menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur Jalur Gaza. Meski demikian, Israel dilaporkan masih melakukan serangan yang melanggar kesepakatan gencatan senjata.

