Thursday, February 5, 2026
HomeBeritaDokumen AS ungkap Epstein memantau gejolak politik Arab Saudi pada 2017

Dokumen AS ungkap Epstein memantau gejolak politik Arab Saudi pada 2017

Dokumen terbaru yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap bahwa mendiang terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein memantau secara saksama gejolak politik di Arab Saudi, khususnya menjelang operasi besar-besaran yang dilakukan Putra Mahkota Mohammed bin Salman terhadap keluarga kerajaan dan elite bisnis pada 2017.

Dalam sebuah surel bertanggal 4 November 2017 dari pengirim tak dikenal, Epstein diminta untuk “mencermati dengan dekat apa yang sedang terjadi di Arab Saudi saat ini”. Epstein membalas dengan pertanyaan, “rudal atau antikorupsi?”, yang kemudian dijawab, “antikorupsi”.

Pertukaran surel tersebut terjadi sehari sebelum tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap anggota keluarga kerajaan Saudi dan kalangan pengusaha. Pada awal November 2017, puluhan tokoh kaya dan bangsawan Saudi ditahan di Hotel Ritz-Carlton Riyadh dalam operasi yang disebut sebagai pemberantasan korupsi oleh putra mahkota. Mereka diminta membayar miliaran dollar AS kepada negara.

Daftar mereka yang ditahan mencakup miliarder Pangeran Alwaleed bin Talal serta sejumlah bangsawan lainnya. Mereka yang menolak membayar dilaporkan dipindahkan ke penjara. The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa sebagian dari mereka mengalami pemukulan berulang.

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Epstein memantau secara aktif dinamika di kawasan Teluk dan menegaskan luasnya jejaring yang dimilikinya. Berkas-berkas itu juga mengindikasikan bahwa Epstein memiliki akses hingga ke tingkat tertinggi pemerintahan Arab Saudi.

Dalam korespondensi dengan jurnalis New York Times saat itu, Thomas Landon Jr, sekitar delapan bulan sebelum operasi Ritz-Carlton, Epstein tampak merujuk pada hubungannya dengan putra mahkota Saudi dalam upaya membangun kedekatan dengan pejabat Saudi.

“Sedang berusaha menghubungkan Anda dengan kelompok MISA. Ada sedikit hambatan karena berbagai pemberitaan dan kontroversi—sebagaimana bisa diduga. Saya menyebutkan hubungan Anda dengan kalangan Saudi, Gates, dan Trump, tetapi masih ada keraguan. Sedang diupayakan,” tulis Landon kepada Epstein. MISA diduga merujuk pada singkatan Kementerian Investasi Arab Saudi.

Epstein kemudian membalas, “Suruh dia bertanya pada Nathan Myhrvold… atau bin Salman,” yang tampaknya merujuk pada putra mahkota. Setidaknya satu foto dalam kumpulan dokumen tersebut memperlihatkan Epstein berpose bersama Mohammed bin Salman.

Jaringan elite Teluk

Dokumen yang dirilis juga mengungkap hubungan Epstein dengan sejumlah elite kawasan Teluk. Di antaranya, Epstein disebut memfasilitasi pertemuan yang sebelumnya tidak diketahui publik antara mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan mantan Perdana Menteri Qatar Hamad bin Jassim bin Jaber al-Thani pada 2018.

Di antara tokoh Teluk, CEO DP World Sultan Ahmed bin Sulayem tercatat paling sering muncul dalam korespondensi dengan Epstein. DP World merupakan perusahaan milik Emirat Dubai yang memperluas operasinya di Timur Tengah dan Afrika sejalan dengan kebijakan luar negeri Uni Emirat Arab.

Dalam salah satu surel, bin Sulayem menulis pandangannya tentang Al Quran kepada Epstein, sebelum menyinggung secara tidak pantas tentang keberadaan seorang perempuan Rusia di atas kapalnya.

Epstein juga beberapa kali bertukar pandangan mendalam tentang Arab Saudi dengan Landon. Dalam surel tertanggal 17 Oktober 2016, Landon meminta analisis Epstein mengenai dampak harga minyak yang rendah terhadap keluarga kerajaan Saudi.

Epstein kemudian memberikan pandangannya mengenai struktur keluarga kerajaan Saudi, dengan menyatakan bahwa istilah “keluarga kerajaan” bersifat menyesatkan karena terdiri dari sekitar 20.000 anggota.

Korespondensi tersebut berlangsung pada tahap awal peluncuran reformasi sosial dan ekonomi Arab Saudi yang dikenal sebagai Visi 2030. Epstein berpendapat bahwa sejumlah reformasi sosial, termasuk izin bagi perempuan untuk mengemudi, lebih didorong oleh tekanan pengamat Barat ketimbang tuntutan masyarakat Saudi sendiri.

“Yang menuntut perempuan mengemudi adalah orang-orang Amerika, bukan warga Saudi,” tulis Epstein dalam surel kepada Landon pada 18 Oktober 2016.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler