Armada bantuan Global Sumud berencana kembali berlayar menuju Gaza yang dilanda perang dari Barcelona pada 29 Maret mendatang, dengan partisipasi internasional yang lebih luas. Hal tersebut diumumkan pada Kamis, seperti dilaporkan Anadolu.
“Keberangkatan akan dimulai dari pelabuhan bersejarah Barcelona, kemudian dilanjutkan dari Tunisia, Italia, dan pelabuhan-pelabuhan lain di kawasan Mediterania. Kami akan berlayar pada 29 Maret,” ujar aktivis Global Sumud, Sumeyra Akdeniz Ordu, dalam konferensi pers yang disiarkan secara langsung dari Johannesburg, Afrika Selatan.
Ia mengatakan, pelayaran kali ini akan melibatkan ribuan peserta, termasuk lebih dari seribu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Selain tenaga medis, armada tersebut juga akan diikuti oleh pakar pembangunan ramah lingkungan serta penyelidik kejahatan perang.
“Inilah yang membedakan misi kali ini dengan misi sebelumnya,” kata Ordu.
Menyinggung upaya Presiden Amerika Serikat dalam menyelesaikan konflik Timur Tengah, Ordu menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan “alternatif terhadap rencana Trump”, karena melibatkan warga Palestina dan memberi mereka ruang untuk menentukan sendiri bagaimana membangun kembali tanah air mereka.
Konvoi darat baru menuju Gaza
Aktivis lainnya mengumumkan bahwa, selain misi laut, akan dilaksanakan pula “gerakan besar baru melalui jalur darat, yakni konvoi darat Sumud”.
Ia menjelaskan, konvoi kemanusiaan tersebut akan membawa bantuan medis, pangan, serta berbagai kebutuhan lain yang dibutuhkan warga Gaza.
Sejumlah profesional, termasuk dokter dan insinyur, akan bergabung dalam misi darat ini. Konvoi tersebut direncanakan berangkat dari Afrika Utara, melintasi Mesir, hingga mencapai perlintasan perbatasan Rafah.
Selain itu, sebuah konvoi darat kedua direncanakan berangkat dari Asia Selatan. Rincian lebih lanjut mengenai misi tersebut akan diumumkan kemudian.
Aktivis tersebut juga menyampaikan bahwa meskipun perlintasan Rafah secara resmi dinyatakan terbuka, kawasan itu menjadi lokasi penderitaan yang luar biasa akibat, menurut dia, manipulasi oleh otoritas Israel, sehingga menyulitkan keluar-masuknya warga.
“Koridor kemanusiaan yang digerakkan oleh rakyat ini adalah tanggung jawab kita bersama, sebagai masyarakat dari seluruh dunia,” ujarnya.
Seruan dukungan kepada masyarakat Turkiye
Salah satu aktivis menyerukan dukungan masyarakat Turkiye terhadap misi tersebut.
“Kami tahu rakyat Turkiye mencintai Palestina, mencintai rakyat Palestina, mencintai Gaza. Kami sangat mengharapkan dukungan besar dari masyarakat Turkiye. Karena itu, kami mengajak rakyat Turkiye untuk bergerak,” katanya.
Pada pertengahan Januari lalu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan bahwa pemerintah Malaysia akan terlibat langsung dalam misi Global Sumud berikutnya menuju Jalur Gaza.
Misi laut Global Sumud pertama dimulai pada pertengahan 2025. Pada Oktober, angkatan laut Israel dilaporkan menyerang dan menyita lebih dari 40 kapal yang tergabung dalam armada bantuan tersebut.
Otoritas Israel menahan lebih dari 450 aktivis yang berada di atas kapal-kapal tersebut. Sejumlah aktivis kemudian menceritakan pengalaman perlakuan keras yang mereka alami selama penahanan.
Israel telah memberlakukan blokade terhadap Jalur Gaza, yang dihuni sekitar 2,4 juta jiwa, selama hampir 18 tahun. Blokade tersebut diperketat pada Maret lalu ketika sejumlah perlintasan ditutup serta pengiriman makanan dan obat-obatan dihentikan, yang mendorong wilayah itu ke kondisi kelaparan.
Serangan Israel ke Gaza yang dimulai pada 8 Oktober 2023 telah menewaskan hampir 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut, menurut laporan Anadolu.

