Lebih dari 900 warga Palestina di Tepi Barat terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak awal tahun ini akibat meningkatnya kekerasan pemukim Israel. Hal tersebut disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di tengah laporan gelombang serangan terbaru yang terjadi pada Jumat di wilayah pendudukan tersebut.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, dalam konferensi pers pada Kamis (waktu setempat), menyatakan bahwa tingginya angka pengungsian terutama disebabkan oleh kekerasan pemukim serta pembatasan akses yang diberlakukan melalui operasi pembongkaran bangunan.
Menurut Dujarric, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat lebih dari 50 serangan pemukim Israel sejak 20 Januari hingga awal pekan ini. Serangan-serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa, kerusakan properti, atau keduanya.
“Kami sedang melakukan penilaian awal terhadap kerusakan dan kebutuhan pascakejadian untuk memandu respons kemanusiaan PBB,” ujar Dujarric.
Kekerasan oleh pemukim Israel dan operasi militer dilaporkan meningkat tajam di Tepi Barat sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023. Dalam periode tersebut, lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Selain itu, lebih dari 18.000 warga Palestina telah ditahan, termasuk sekitar 1.500 anak dan 194 jurnalis, berdasarkan data otoritas Palestina. Sebagian dari mereka masih ditahan, sementara lainnya telah dibebaskan.
Pada Jumat malam, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun asal Abu Dis, wilayah tenggara Yerusalem Timur yang diduduki, dilaporkan mengalami luka serius setelah ditembak oleh pasukan Israel yang menyamar.
Pemerintah Distrik Yerusalem menyebutkan bahwa unit keamanan tersebut menggunakan kendaraan sipil dan melepaskan tembakan secara intens, sehingga melukai korban secara parah. Petugas medis dilaporkan tidak diizinkan mencapai lokasi selama lebih dari satu jam karena area tersebut ditutup oleh otoritas Israel.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan korban dalam kondisi bersimbah darah. Ambulans baru diizinkan masuk setelah beberapa waktu untuk memberikan pertolongan pertama dan membawa korban ke rumah sakit.
Pada hari yang sama, pasukan Israel juga menangkap jurnalis Bushra al-Tawil dan Hatem Hamdan saat melintasi pos pemeriksaan militer di utara Ramallah. Dua jurnalis lain yang bekerja untuk media asing serta sejumlah aktivis solidaritas internasional yang mendokumentasikan kekerasan pemukim di Masafer Yatta turut ditahan.
Di wilayah Masafer Yatta, para pemukim Israel dilaporkan merusak tanaman warga Palestina dengan menggunakan bahan kimia. Sementara itu, otoritas Israel mengeluarkan perintah penghentian pembangunan sejumlah bangunan di Ni’lin, sebelah barat Ramallah, dengan alasan tidak memiliki izin.
Israel selama ini memberlakukan kebijakan pembongkaran rumah-rumah warga Palestina dengan dalih tidak memiliki izin resmi. Namun, warga Palestina menilai izin tersebut hampir mustahil diperoleh. Di sisi lain, pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang berhaluan kanan jauh terus mendorong pembangunan permukiman Israel yang dinilai ilegal di Tepi Barat.
Di kota Dura, barat daya Hebron, sekelompok pemukim bersenjata dilaporkan menyerbu kawasan Jabal Tarousa dan melakukan ritual keagamaan Yahudi. Kelompok pemukim lainnya mendirikan tenda di dekat permukiman warga Palestina di Khirbet Samra, wilayah Lembah Yordan bagian utara.
Tindakan intimidasi semacam ini kerap bertujuan memancing reaksi warga Palestina. Situasi tersebut sering berujung pada intervensi aparat keamanan, penangkapan warga Palestina, dan dalam sejumlah kasus menyebabkan korban luka hingga meninggal dunia.

