Thursday, February 12, 2026
HomeBeritaFoto Epstein dan pengusaha Emirat dengan kain diduga Kiswah Ka’bah Picu Kontroversi

Foto Epstein dan pengusaha Emirat dengan kain diduga Kiswah Ka’bah Picu Kontroversi

Sebuah foto dari berkas yang baru dirilis memperlihatkan Jeffrey Epstein—miliarder sekaligus terpidana kasus kejahatan seksual—berdiri bersama seorang pengusaha terkemuka Uni Emirat Arab, Sultan Ahmed bin Sulayem, di dekat sehelai kain yang tampak menyerupai Kiswah, kain hitam bersulam emas yang menutupi Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah.

Gambar tersebut muncul dalam rangkaian email yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Dalam foto itu, Epstein dan Bin Sulayem—yang kini menjabat sebagai CEO DP World—terlihat berdiri di bagian bawah tangga, tangan di saku, memandangi kain yang dibentangkan di lantai.

Foto tersebut dikirim sebagai lampiran email tertanggal 8 Mei 2014 dari alamat yang disamarkan kepada Epstein dan satu alamat lain yang juga disensor. Dalam isi pesan, pengirim menuliskan kalimat bernada cabul: “Hati-hati dengan apa yang Anda kira dompet besar di celana seseorang.” Tidak jelas apakah komentar itu berkaitan langsung dengan foto kain tersebut.

Middle East Eye melaporkan telah meminta tanggapan otoritas Saudi yang mengelola Masjidil Haram, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada respons. DP World juga menolak berkomentar.

Sementara itu, Inside the Haramain—media daring yang kerap memuat kabar seputar Masjidil Haram—mempertanyakan keaslian kain dalam foto tersebut. Berdasarkan “peninjauan internal oleh ahli”, media itu menyatakan tidak dapat memastikan bahwa kain yang terlihat adalah Kiswah asli Ka’bah. Mereka menyoroti perbedaan pada ukuran, bahan, tepian, serta motif dan pola kain.

Namun, media tersebut merupakan entitas swasta dan tidak berafiliasi dengan otoritas Masjidil Haram maupun pemerintah Arab Saudi.

Pengiriman Potongan Kiswah ke Epstein

Pekan lalu, dokumen email dalam berkas Epstein juga mengungkap bahwa sejumlah potongan Kiswah pernah dikirim kepadanya melalui perantara. Korespondensi pada Februari dan Maret 2017 menunjukkan seorang pebisnis perempuan berbasis di UEA, Aziza al-Ahmadi, bekerja sama dengan Abdullah al-Maari untuk mengatur pengiriman tiga potongan kain yang terkait dengan Kiswah.

Dokumen tersebut memperlihatkan barang dikirim melalui kargo udara dari Arab Saudi ke Florida menggunakan British Airways, lengkap dengan koordinasi faktur, bea cukai, hingga pengantaran di Amerika Serikat.

Kiriman itu tiba di kediaman Epstein pada Maret 2017—bertahun-tahun setelah ia menjalani hukuman penjara dan terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual.

Dalam salah satu email, Ahmadi—yang disebut-sebut berkebangsaan Saudi—menjelaskan makna religius kain tersebut kepada Epstein.

“Potongan kain hitam itu telah disentuh sedikitnya 10 juta Muslim dari berbagai mazhab—Sunni, Syiah, dan lainnya,” tulisnya.
“Mereka mengelilingi Ka’bah tujuh kali, lalu berusaha menyentuhnya sambil menaruh doa, harapan, air mata, dan keinginan mereka di atas kain itu, dengan harapan doa mereka dikabulkan.”

Sebagai informasi, Kiswah diganti setiap tahun pada 9 Dzulhijjah, menjelang puncak ibadah haji. Kain lama kemudian dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan diperlakukan sebagai artefak berharga. Sebagian dipamerkan di museum atau diberikan kepada individu dan institusi oleh pemerintah Saudi.

Belum diketahui di mana foto Epstein dan Bin Sulayem pada 2014 itu diambil. Mengingat nilai sakralnya, meletakkan Kiswah di lantai dinilai tidak pantas secara religius.

Hubungan Lama dan Email Kontroversial

Dokumen email juga menunjukkan bahwa Bin Sulayem memiliki hubungan panjang dengan Epstein, bahkan setelah Epstein divonis pada 2008 atas kasus prostitusi anak di bawah umur.

Sejumlah email memperlihatkan percakapan bernada seksual dan penggunaan bahasa merendahkan terhadap perempuan. Dalam satu pesan, setelah membahas agama, Bin Sulayem menulis kepada Epstein: “Saya akan mencoba sampel baru, perempuan Rusia 100 persen, di kapal pesiar saya.”

Dalam email lain, ia menyebut: “Ngomong-ngomong, perempuan Ukraina dan Moldova sudah tiba. Kekecewaan besar, yang Moldova tidak secantik fotonya, sementara yang Ukraina sangat cantik.”

Email lain menunjukkan Epstein mengirim tautan layanan pendamping di Italia, yang dibalas Bin Sulayem dengan komentar singkat: “Wow.”

Secara terpisah, dalam satu pesan, Bin Sulayem juga melontarkan candaan yang menyinggung jemaah Muslim sebagai teroris. “Seorang teman saya pergi ke masjid di Saudi,” tulisnya. “Dengan semua teroris ini, terus terang Anda tidak bisa membedakan apakah orang di sebelah Anda hanya menggaruk atau sedang memegang tombol detonator.”

Sultan Ahmed bin Sulayem merupakan salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di UEA. Ia menjabat sebagai Ketua DP World sejak 2007 dan menjadi CEO perusahaan pelabuhan dan infrastruktur global itu sejak 2016.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler