Thursday, February 12, 2026
HomeBeritaMaduro terjungkal, Venezuela kembali kirim minyak mentah ke Israel

Maduro terjungkal, Venezuela kembali kirim minyak mentah ke Israel

Venezuela dikabarkan mengirimkan kargo pertama minyak mentahnya ke Israel setelah jeda yang lama, dalam perkembangan yang mencerminkan perubahan besar dalam arus ekspor energi negara Amerika Selatan itu. Langkah ini terjadi di tengah pembukaan kembali ekspor minyak Venezuela menyusul penahanan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat.

Menurut laporan Bloomberg yang dikutip sejumlah media, kargo minyak tersebut sedang dikirim ke Bazan Group, perusahaan pengolah minyak terbesar di Israel yang berbasis di Haifa. Jika dikonfirmasi, pengiriman ini merupakan yang pertama sejak pertengahan 2020, ketika Israel menerima sekitar 470.000 barel minyak dari Venezuela.

Hubungan kedua negara sendiri sempat terputus sejak era Presiden Hugo Chávez pada 2009, ketika Caracas memutus hubungan diplomatik sebagai bentuk protes atas tindakan militer Israel. Kini, setelah kontroversi politik besar di Venezuela dan perubahan dalam kendali sumber daya minyak, arus minyak mulai mengalir kembali ke pasar global, termasuk ke Israel.

Dalam beberapa minggu terakhir, ekspor minyak Venezuela juga dilaporkan telah dijual ke beberapa negara lain, termasuk India, Spanyol, dan Amerika Serikat, saat negara tersebut berusaha menstabilkan ekonominya di bawah pengawasan baru pascapenahanan Maduro. Venezuela sendiri memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia dan sejak lama menjadikan minyak sebagai tulang punggung perekonomiannya.

Pihak berwenang Venezuela belum secara resmi mengonfirmasi atau memberikan komentar atas laporan ini, dan pemerintah Israel pun umumnya tidak mengungkapkan sumber minyak mentah dalam pasokannya. Namun, perkembangan ini menandai pergeseran penting dalam pola perdagangan minyak global di tengah tekanan geopolitik yang sedang berlangsung.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler