Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat menyatakan dukungannya terhadap gagasan pergantian rezim di Iran.
“Sepertinya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” kata Trump kepada wartawan seusai kunjungannya ke Fort Bragg, North Carolina.
Menurut Trump, selama 47 tahun Iran hanya “berbicara dan berbicara” tanpa hasil konkret. “Sementara itu, kita kehilangan banyak nyawa. Kaki putus, tangan putus, wajah hancur. Ini sudah berlangsung lama. Jadi kita lihat saja nanti apa yang terjadi,” ujarnya.
Trump juga menegaskan bahwa “kekuatan besar” telah dikerahkan ke kawasan tersebut. Amerika Serikat terus meningkatkan kehadiran militernya di wilayah itu sejak Trump mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran menyusul gelombang protes nasional pada akhir Desember.
“Ada tambahan kekuatan, seperti yang Anda tahu, dan kapal induk lainnya akan segera berangkat. Jadi sekarang kita lihat apakah ini bisa diselesaikan untuk selamanya,” katanya.
Ketika ditanya siapa yang diinginkannya untuk “mengambil alih” Iran, Trump menjawab singkat, “Saya tidak ingin membicarakan itu. Ada orang-orang.”
Trump menyatakan Amerika Serikat siap mengerahkan “kekuatan yang sangat besar” jika perundingan dengan Iran gagal.
“Kalau kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya. Jika ada kesepakatan, kita bisa menghentikannya lebih cepat. Pasukan itu akan ditarik. Sangat segera. Satu sudah tiba di sana. Kita siap. Kekuatan besar, sangat besar,” ujarnya ketika ditanya alasan pengiriman kapal induk kedua ke kawasan tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah media lokal melaporkan bahwa Amerika Serikat akan mengirim USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah untuk mendukung kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln.
Di North Carolina, Trump juga ditanya langkah apa yang bisa diambil Iran untuk menghindari serangan Amerika.
“Jika mereka memberi kita kesepakatan yang tepat, kita tidak akan melakukannya. Tapi secara historis, mereka tidak melakukannya. Saya akui mereka ingin berbicara. Namun sejauh ini, mereka banyak bicara tanpa tindakan,” kata Trump.
Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak menginginkan adanya pengayaan uranium oleh Iran.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menggelar pembicaraan tidak langsung di Muscat, Oman, pada 6 Februari, dengan mediasi Oman, untuk membahas program nuklir Teheran.
Pertemuan itu menandai berakhirnya penangguhan sekitar delapan bulan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dalam eskalasi konflik Iran–Israel pada Juni 2025.
Di tengah proses negosiasi tersebut, Washington secara signifikan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan, seraya Trump memperingatkan Iran agar mencapai kesepakatan.
Isu pengayaan uranium tetap menjadi titik sengketa utama. Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memindahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ke luar negeri.
Washington juga berupaya memasukkan program rudal Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan ke dalam agenda perundingan. Namun Iran berulang kali menyatakan tidak akan membahas isu di luar program nuklirnya.

