Saturday, February 14, 2026
HomeBeritaIsrael tangkap 22 ribu warga Tepi Barat sejak Oktober 2023

Israel tangkap 22 ribu warga Tepi Barat sejak Oktober 2023

Israel dilaporkan telah menangkap sekitar 22 ribu warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sejak pecahnya perang yang oleh sejumlah pihak disebut sebagai perang genosida. Data tersebut disampaikan Klub Tahanan Palestina yang berbasis di Ramallah.

Organisasi hak asasi itu menyatakan angka tersebut mencakup seluruh kasus penangkapan selama periode tersebut, baik mereka yang masih ditahan maupun yang telah dibebaskan. Menurut lembaga itu, jumlah tersebut merupakan rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kurun waktu dua setengah tahun.

Klub Tahanan Palestina menegaskan bahwa angka tersebut tidak termasuk penangkapan di Jalur Gaza, yang disebut mencapai ribuan kasus, serta tidak mencakup penangkapan di wilayah Palestina yang diduduki sejak 1948.

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis, organisasi itu menyebut operasi penangkapan di Tepi Barat terus berlangsung dengan intensitas meningkat. Sedikitnya 40 warga Palestina ditangkap antara Rabu malam hingga Kamis pagi, termasuk empat perempuan—satu di antaranya anak di bawah umur—serta sejumlah mantan tahanan.

Organisasi tersebut menyatakan operasi penangkapan itu disertai apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran serius dan belum pernah terjadi sebelumnya. Pelanggaran itu antara lain pemukulan berat, intimidasi terorganisasi terhadap tahanan dan keluarga mereka, perusakan rumah secara luas, serta penyitaan kendaraan, uang, dan perhiasan emas.

Mereka juga menuduh pasukan Israel menghancurkan infrastruktur, merobohkan rumah keluarga tahanan, menahan kerabat sebagai sandera, menggunakan tahanan sebagai tameng manusia, melakukan eksekusi di lapangan, serta menjadikan operasi penangkapan sebagai kedok untuk memperluas permukiman di Tepi Barat.

Klub Tahanan Palestina menambahkan bahwa interogasi lapangan dalam skala besar telah memengaruhi ribuan orang sejak awal perang. Menurut mereka, tentara melakukan berbagai tindakan kekerasan dalam proses tersebut yang dinilai tidak kalah serius dibanding praktik penyiksaan di pusat-pusat penahanan dan interogasi resmi.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler