Pesawat pengebom siluman B-2 dan sejumlah pesawat jarak jauh Amerika Serikat yang mampu menjangkau Iran tetap berada dalam status siaga lebih tinggi dari biasanya. Laporan ini diungkapkan oleh The New York Times pada Jumat lalu.
Mengutip seorang pejabat senior AS yang berbicara dengan syarat anonim, laporan itu menyebutkan bahwa Pentagon telah meningkatkan status siaga para pengebom tersebut hampir sebulan lalu.
Pesawat-pesawat yang berbasis di daratan Amerika Serikat itu dapat digunakan dalam kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir atau rudal balistik Iran, seiring Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi apabila jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Trump bulan lalu memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat melancarkan serangan terhadap Iran jika Teheran menolak membatasi program nuklirnya. Namun sejumlah pejabat senior keamanan nasional dilaporkan mendorong penundaan tindakan militer hingga pasukan AS di kawasan berada pada posisi ofensif dan defensif yang lebih siap.
Sekitar 30 ribu hingga 40 ribu tentara Amerika yang tersebar di Timur Tengah, termasuk di delapan pangkalan permanen, dinilai masih minim sistem pertahanan udara untuk menghadapi potensi serangan balasan.
Dalam konteks Iran, kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perang bersenjata rudal Tomahawk memimpin gugus tugas yang terdiri atas sekitar selusin kapal Angkatan Laut AS. Armada ini dikerahkan di Laut Arab, Teluk Persia, Laut Merah, dan Mediterania timur.
Jet tempur siluman F-35 serta pesawat serang F/A-18 yang dibawa kapal induk tersebut berada dalam jarak jangkau target-target di Iran. Amerika Serikat juga mengirim lebih dari selusin pesawat serang F-15E tambahan ke kawasan, menurut pejabat AS.
Analis militer menilai, tanda-tanda persiapan operasi besar biasanya ditandai dengan peningkatan pengerahan pesawat pengisi bahan bakar di udara serta penempatan EA-18 Growler—pesawat pengacau radar yang mengawal pengebom. Growler berada di atas kapal Lincoln, dan US Central Command baru-baru ini menerbangkan sejumlah unit ke pangkalan di Yordania.
Data pelacakan penerbangan juga menunjukkan bahwa AS memindahkan tambahan pesawat, termasuk pesawat pengisi bahan bakar dan pengintai, lebih dekat ke atau langsung ke kawasan tersebut.
Indikator lain dari potensi perencanaan ofensif, menurut para analis, adalah reposisi kapal selam rudal balistik yang biasanya beroperasi di Laut Mediterania. Jika dipindahkan ke Laut Merah atau Laut Arab, kapal itu akan berada pada posisi yang lebih strategis untuk menyerang target di dalam wilayah Iran.
Kapal selam tersebut mampu membawa hingga 154 rudal jelajah Tomahawk, yang secara signifikan meningkatkan kapasitas serangan AS. Angkatan Laut tidak mengungkapkan lokasi kapal selamnya secara publik. Namun setiap kapal yang berpindah dari Mediterania menuju perairan timur harus melintas di Terusan Suez dalam posisi muncul ke permukaan, sehingga dapat terdeteksi pelacak kapal. Hingga kini, hal itu belum terjadi, demikian laporan tersebut.
Juru bicara White House, Anna Kelly, mengatakan Trump “memiliki semua opsi di atas meja” terkait Iran dan akan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan keamanan nasional.
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan sipil. Sementara pejabat AS menyatakan penambahan kekuatan militer tersebut dimaksudkan untuk memastikan kesiapan dan mencegah serangan balasan jika upaya diplomasi gagal.

