Tuesday, February 17, 2026
HomeBeritaDipecat gara-gara kritik Israel, mantan pegawai Arsenal gugat klub

Dipecat gara-gara kritik Israel, mantan pegawai Arsenal gugat klub

Mark Bonnick, mantan pegawai Arsenal yang mengaku dipecat setelah mengkritik Israel terkait peristiwa di Palestina, menilai orang-orang yang bersuara menentang apa yang ia sebut sebagai pendudukan ilegal dan sistem apartheid Israel sedang dibungkam. Ia kini menempuh jalur hukum terhadap klub Liga Primer Inggris itu.

Bonnick, 62 tahun, bekerja sebagai kitman di klub asal London Utara itu selama 22 tahun sebelum dipecat pada Desember 2024. Pemecatan itu terjadi setelah ia mengunggah komentar di media sosial yang mengkritik tindakan Israel di Gaza.

Dalam wawancara dengan Anadolu, Bonnick menjelaskan bahwa sengketa hukum yang sedang berlangsung bersifat politik, bukan diskriminatif, dan membela pernyataannya sebagai komentar politik.

“Orang harus berbicara tentang kejahatan dan ketidakadilan. Kita membahas apartheid di Afrika Selatan. Kita membicarakan invasi ilegal Rusia ke Ukraina, dan pendudukan ilegal Zionis Israel. Itu apartheid. Kita dibungkam. Dibatalkan,” kata Bonnick. Ia menegaskan setiap orang memiliki kewajiban untuk bersuara menentang pelanggaran di Gaza.

Bonnick mengonfirmasi bahwa proses hukum terhadap Arsenal masih berjalan, dan mediasi dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang. Ia menyebut bahwa proses ini bisa berlangsung hingga 2028. Ia menilai penanganan kasus ini oleh Arsenal sangat disayangkan dan berharap klub dapat meninjau kembali pendekatannya terhadap kasus serupa di masa depan, termasuk respons terhadap perundungan daring.

Fokus Media pada Tuduhan Antisemitisme

Bonnick menilai pemberitaan media terlalu menyoroti tuduhan antisemitisme yang menurutnya tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa unggahannya murni merupakan komentar politik.

“FA (Football Association) tidak pernah menghubungi saya, dan polisi juga tidak pernah mengetuk pintu. Jadi itu semua omong kosong,” kata Bonnick.

Ia merujuk pada kasus akademisi University of Bristol, David Miller, dan menekankan bahwa debat soal ekspresi politik seharusnya berlaku secara setara. “Dalam pertemuan banding, mereka bilang saya tidak bisa punya pendapat karena bukan akademisi. Dia (Miller) akademisi, dan wanita itu bilang, ‘Dia kan akademisi.’ Saya bilang, ‘Apa, kitman tebal ini tidak boleh berpendapat? Mana kesetaraannya?’” ujar Bonnick.

Ia menambahkan bahwa panel disipliner Arsenal sebelumnya membela kebebasan pemain menyuarakan pandangan pribadi, merujuk pada pernyataan klub terkait gelandang Mesir, Mohamed Elneny. Menurut Bonnick, panel mempertanyakan sumber pernyataan itu, dan ia menegaskan pernyataan tersebut tersedia secara publik di internet.

Ia menggambarkan proses pertemuan sebagai singkat dan prosedural. Semua informasi yang ada telah dipresentasikan, tanpa bukti baru atau interpretasi substantif.

“Saya mencoba memberikan komentar. Saya langsung dihentikan. Orang yang memimpin pertemuan—saya tidak sebut nama—bilang, ‘Tidak, saya tidak mau dengar itu,’” ujarnya.

Pemecatan dan Proses Disipliner

Bonnick mengingat hari-hari terakhir sebelum pemecatannya, ketika seorang petugas keamanan terlihat cemas saat mengambil kartu aksesnya. “Mereka bilang, ‘Maaf, saya perlu ambil pass Anda.’ Dia mengambilnya pada tanggal 20. Saya belum dipecat, tapi itu memberi indikasi. Dan pada malam Natal, 24 Desember, saya diberitahu saya dipecat.”

Bonnick menambahkan, Football Association menilai unggahannya bersifat politis. Ia menyebut FA dan organisasi anti-diskriminasi Kick It Out meninjau kasus ini dan tidak menemukan bukti antisemitisme. Arsenal diwajibkan memberi informasi ke FA, tetapi Bonnick menilai klub tidak membagikan proses atau hasilnya.

Bonnick menilai ketakutan membuat banyak orang enggan bersuara secara publik. Ia menyamakan dirinya dengan “burung kecil yang membawa air untuk memadamkan api,” menekankan bahwa meski dampaknya kecil, suara bisa menimbulkan perubahan secara bertahap.

Referensi ke Mohamed Elneny

Pada 2021, gelandang Arsenal, Mohamed Elneny, mengunggah di media sosial: “Hati, jiwa, dan dukungan saya untukmu Palestina.”

Setelah ada sponsor yang keberatan, klub menegaskan pemain berhak menyuarakan pandangan pribadi di platform pribadi, sambil menekankan netralitas klub dan mempertimbangkan sensitivitas isu. Bonnick menggunakan pernyataan itu untuk mendukung argumennya bahwa individu yang terkait dengan klub seharusnya diperbolehkan memiliki pandangan politik pribadi.

Kontroversi Unggahan Media Sosial

Pada November dan Desember 2024, Bonnick mengunggah beberapa posting yang menuai kritik, termasuk pernyataan:

  • “Ya, ini semua soal supremasi Yahudi & ketidakmauan berbagi tanah. Pembersihan etnis.”
  • “Mengapa mereka harus dilindungi lebih dari komunitas lain? Beberapa melihat ini sebagai masalah komunitas Yahudi yang menempatkan diri di atas yang lain.”
  • “Hamas menawarkan untuk melepaskan semua sandera pada Oktober. Zionis Israel menolak. Kompleks persepsi penganiayaan.”
  • “Kalian meninggalkan mereka… menolak membawa mereka pulang… Diam kalian memekakkan… Sekarang kalian ingin orang lain berteriak… Moral, integritas, kejujuran, tanda Kain.”

Bonnick menjelaskan frasa “Mark of Cain” merujuk pada pernyataan Menteri Pertahanan Israel saat itu, Yoav Gallant.

Kasus hukum antara Bonnick dan Arsenal masih berlangsung hingga saat ini.

 

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler