Sejumlah pejabat senior Arab Saudi dilaporkan menyatakan kemarahan atas skala dan waktu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Kerajaan juga meminta negara-negara Teluk untuk tidak mengambil langkah apa pun yang dapat memicu respons Teheran atau kelompok proksinya dan mendorong kawasan ke konflik yang lebih luas.
Dua sumber dari negara Teluk mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyampaikan pesan tersebut kepada para pemimpin Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) pada Sabtu, tak lama setelah Kementerian Luar Negeri Saudi secara resmi mengutuk serangan balasan Iran di Semenanjung Arab.
Menurut sumber tersebut, percakapan berlangsung singkat, namun muncul konsensus bahwa serangan balasan Iran tidak seintens yang diperkirakan. Negara-negara Teluk dinilai perlu menghindari tindakan langsung yang dapat memancing respons keras dari Teheran.
Sentimen serupa juga disampaikan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dalam komunikasi dengan para mitra regionalnya. Pembicaraan itu difokuskan pada upaya deeskalasi serta penyatuan posisi kebijakan luar negeri enam negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) agar tidak ada pihak yang bertindak di luar kesepakatan bersama.
Riyadh Disebut “Sangat Kecewa”
Salah satu sumber Teluk yang mengetahui percakapan tersebut menyebut Riyadh “sangat kecewa” terhadap cara serangan itu dilakukan.
Meski berhati-hati dalam menyampaikan kritik, sumber itu mengatakan Saudi khawatir keterlibatan militer langsung negara Teluk terhadap Iran dapat menyeret kelompok Houthi di Yaman ke dalam konflik.
“Ketakutan terbesar kami adalah setiap eskalasi akan dijadikan dalih oleh Teheran untuk mengaktifkan jaringan proksinya,” kata sumber tersebut.
Kelompok Houthi sebelumnya menghentikan serangan terhadap jalur pelayaran Laut Merah sebagai bagian dari kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, yang juga menghentikan serangan AS terhadap kelompok itu. Mereka juga menghentikan serangan terhadap Israel setelah gencatan senjata pada Oktober lalu yang mengakhiri pertempuran besar di Gaza.
Analis pertahanan Saudi, Hesham Alghannam, menilai penting bagi kerajaan untuk mempertahankan posisinya saat ini, yang dipersepsikan tidak sepenuhnya sejalan dengan keputusan AS-Israel menyerang Iran.
“Jika Houthi melihat Riyadh menjaga jarak dari front anti-Iran, mereka mungkin akan menahan diri,” ujarnya kepada MEE.
Peneliti Saudi Abdulaziz Alghashian juga mengatakan Saudi “marah” atas keputusan menyerang Iran dan telah berupaya menghindari situasi tersebut. Menurutnya, Riyadh kemungkinan akan menghindari diplomasi publik yang mencolok, namun berusaha meredam ketegangan melalui jalur lain.
Gedung Putih Abaikan Peringatan Sekutu?
Salah satu sumber menyebut bahwa saat melancarkan serangan Sabtu lalu, Gedung Putih pada dasarnya mengabaikan permintaan sekutu regional yang memperingatkan agar serangan tidak dilakukan, meski kesepakatan dengan Iran disebut hampir tercapai.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi, yang berperan penting dalam pembicaraan untuk mencegah perang, menyatakan “keprihatinan mendalam” atas serangan tersebut. Ia menilai kepentingan AS maupun perdamaian global tidak terlayani oleh langkah itu.
“Ini bukan perang Anda,” ujarnya, seraya mendesak AS agar tidak semakin terlibat.
Beberapa jam sebelum perang pecah, Al-Busaidi sempat menyampaikan bahwa pembicaraan menunjukkan kemajuan signifikan menuju kesepakatan, termasuk soal pembatasan pengayaan uranium.
Risiko Perpecahan atau Konsolidasi GCC
Seiring berlanjutnya perang dan serangan balasan Iran ke berbagai target, termasuk di Dubai dan Pelabuhan Jebel Ali, sejumlah analis memperingatkan bahwa negara-negara Teluk dapat terdorong semakin dekat dengan AS jika konflik berkepanjangan.
Firas Maksad dari Eurasia Group mengatakan Iran “memaksa GCC naik ke tangga eskalasi,” sehingga mereka mungkin harus mempertimbangkan respons atau setidaknya memberi kebebasan operasional lebih besar kepada AS.
Namun, Menteri Negara UEA untuk Kerja Sama Internasional Reem Al Hashimy menegaskan bahwa wilayah UEA tidak akan digunakan untuk menyerang Iran. Meski demikian, ia menyatakan bahwa jika situasi memaksa, keputusan dapat berubah tergantung perkembangan.
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Qatar Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani menyerukan agar GCC tidak terseret ke konfrontasi langsung dengan Iran.
“Benturan langsung antara negara-negara dewan dan Iran hanya akan menguras sumber daya kedua belah pihak dan membuka peluang bagi kekuatan lain untuk mengendalikan kawasan dengan dalih membantu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa negara-negara GCC harus bertindak sebagai satu kesatuan dalam menghadapi ancaman, serta menolak segala bentuk tekanan atau pemaksaan dari pihak mana pun.


