Senator Amerika Serikat Lindsey Graham melakukan kunjungan ke Arab Saudi pada akhir Februari untuk membujuk Putra Mahkota Mohammed bin Salman agar “mendukung” rencana serangan terhadap Iran. Seorang pejabat AS yang mengetahui pertemuan tersebut mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) bahwa pemimpin Saudi itu tidak menyampaikan penolakan keras.
Kunjungan Graham sebelumnya telah dilaporkan, namun tujuan pertemuannya dengan Mohammed bin Salman baru terungkap kali ini.
Langkah tersebut mengindikasikan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump telah memantapkan keputusan menyerang Iran, bahkan ketika negosiasi dengan Teheran masih berlangsung.
Meski sebelumnya lebih memilih jalur diplomatik, serangan balasan Iran disebut memicu kemarahan di kawasan Teluk. Seorang pejabat AS dan pejabat Arab yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada MEE bahwa Arab Saudi kini mulai mendekati posisi yang mendukung aksi militer terhadap Iran.
Kantor berita resmi Saudi pada Sabtu melaporkan bahwa Riyadh mengutuk “serangan brutal Iran” terhadap negara-negara Teluk, yang dinilai merusak keamanan dan stabilitas kawasan.
Presiden Trump juga dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota Saudi pada Sabtu, namun rincian pembicaraan tersebut tidak dipublikasikan.
Pertemuan Disebut “Konsekuensial”
Dalam unggahan di platform X, Graham menyebut pertemuannya dengan Mohammed bin Salman sebagai “konsekuensial.” Ia juga memuji visi kepemimpinan sang putra mahkota bagi negaranya dan kawasan, beberapa hari setelah sebelumnya mengkritik Saudi terkait ketegangan dengan Uni Emirat Arab (UEA).
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran kini berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas. Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke berbagai wilayah Teluk.
Dengan dukungan sistem pertahanan udara buatan AS, negara-negara Teluk disebut berhasil mencegat sebagian besar serangan tersebut. Namun, sejumlah drone Shahed Iran dilaporkan berhasil menembus pertahanan dan menghantam hotel mewah di Dubai serta instalasi militer AS.
UEA, Bahrain, dan Kuwait dilaporkan menjadi sasaran utama, meski Arab Saudi juga turut menjadi target.
Sedikitnya tiga tentara AS tewas akibat serangan Iran, dan lima lainnya mengalami luka serius. Di Israel, satu rudal Iran dilaporkan menembus sistem pertahanan udara dan menewaskan sedikitnya sembilan orang di Beit Shemesh, sekitar 29 kilometer barat Yerusalem.
Iran menyatakan serangan AS-Israel di wilayahnya telah menewaskan sedikitnya 200 orang, termasuk sejumlah pejabat tinggi dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Saudi Pertimbangkan Opsi Militer
Sebelumnya, Arab Saudi berada di garis depan negara-negara kawasan yang mendesak AS untuk menempuh kesepakatan diplomatik dengan Iran terkait program nuklirnya.
Namun, menurut pejabat yang berbicara kepada MEE, komunikasi antara Riyadh dan Washington berlangsung lebih kompleks daripada yang terlihat. Tidak ada indikasi Saudi secara aktif melobi agar serangan dilancarkan secara mendadak.
Pada Januari, MEE melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah melobi Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman mengenai pentingnya mendukung AS dalam kemungkinan serangan di masa depan. Argumen yang disampaikan antara lain bahwa serangan militer dapat mengurangi ancaman Iran terhadap mitra kawasan serta menekan kemampuan rudal balistiknya.
Belum jelas apakah Washington menginginkan komitmen terbuka dari negara-negara Teluk atau cukup persetujuan tertutup.
Terdapat sejumlah cara bagi negara Teluk—khususnya Arab Saudi—untuk membantu AS tanpa terlibat langsung dalam operasi ofensif.
AS dan Israel dilaporkan mulai kekurangan sistem pencegat rudal seperti THAAD, Patriot, Arrow, dan David’s Sling untuk menghadapi serangan balistik Iran. Arab Saudi sendiri mengaktifkan sistem pertahanan udara THAAD pertamanya tahun lalu, dan tiga sistem tambahan dijadwalkan selesai pada 2026.
Dalam serangan gabungan AS-Israel pada Juni lalu, pejabat AS disebut meminta Saudi menyumbangkan pencegat THAAD untuk pertahanan Israel, namun permintaan itu ditolak. Kini, dengan Iran juga menargetkan wilayah Saudi, sistem tersebut kemungkinan telah digunakan untuk pertahanan domestik.
Negara-negara Teluk menghadapi dilema: bergabung dalam operasi ofensif berisiko memicu pembalasan lebih luas dari Iran. Sejauh ini, infrastruktur energi mereka belum menjadi sasaran.
Namun di sisi lain, negara-negara Teluk juga dapat merasa perlu menetapkan garis merah terhadap Teheran.
“Iran memaksa GCC naik ke tangga eskalasi. Mereka harus mempertimbangkan respons, atau setidaknya memberi AS ruang operasional lebih besar untuk melancarkan operasi dari wilayah mereka,” tulis Firas Maksad, Direktur Pelaksana Eurasia Group untuk Timur Tengah, di platform X.


