spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Monday, March 2, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaWashington Post: Perang Iran bisa tekan ekonomi AS jelang pemilu Kongres

Washington Post: Perang Iran bisa tekan ekonomi AS jelang pemilu Kongres

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut bertaruh bahwa perang terhadap Iran tidak akan menimbulkan tekanan ekonomi besar bagi konsumen AS menjelang pemilu Kongres pada November mendatang.

Namun, menurut laporan The Washington Post, dampak ekonomi konflik tersebut sangat bergantung pada durasi dan skala perang. Jika konflik berkepanjangan, harga minyak diperkirakan meningkat dan biaya pengiriman laut melonjak, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang secara umum di Amerika Serikat.

Harga BBM Jadi Kekhawatiran Utama

Kenaikan harga bahan bakar menjadi kekhawatiran terbesar bagi konsumen AS. Harga minyak mentah Brent tercatat mencapai 73 dollar AS per barel pada Jumat.

Jika harga minyak naik hingga 80 dollar AS per barel, harga bensin di AS diperkirakan meningkat signifikan. Dalam sebulan terakhir, harga minyak telah melonjak sekitar 12 persen di tengah ekspektasi pecahnya perang antara Washington dan Teheran.

Bahkan, sejumlah proyeksi menyebut harga minyak bisa melampaui 100 dollar AS per barel apabila konflik meluas, terutama jika Garda Revolusi Iran atau kelompok pro-Iran menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk.

Risiko Gangguan di Selat Hormuz

Kekhawatiran juga meningkat di kalangan perusahaan pelayaran global terkait potensi penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran atau serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut.

Sekitar sepertiga ekspor minyak mentah dunia dan hampir 20 persen ekspor gas alam cair (LNG) melewati selat itu.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran menyatakan pelayaran di Selat Hormuz tidak aman untuk saat ini, mengutip kantor berita Tasnim. Sejumlah perusahaan pelayaran besar, termasuk Hapag-Lloyd (Jerman) dan Nippon Yusen (Jepang), dilaporkan menangguhkan operasinya di kawasan tersebut.

Edward Fishman, Direktur Pusat Studi Ekonomi di Council on Foreign Relations, mengatakan perang ini berpotensi menimbulkan dampak luas karena minyak merupakan komponen vital dalam perekonomian global. Ia memperingatkan kemungkinan efek lanjutan terhadap kebijakan moneter dan inflasi.

Dampak pada Suku Bunga

Jika inflasi di AS—yang saat ini berada di kisaran 3 persen—kembali meningkat dan menjauh dari target 2 persen yang ditetapkan Federal Reserve (bank sentral AS), maka peluang penurunan suku bunga akan semakin kecil.

Trump sebelumnya berulang kali mendesak penurunan suku bunga dan mengkritik Ketua The Fed Jerome Powell. Ia bahkan menyebut Kevin Warsh, kandidat yang diajukan untuk memimpin bank sentral, akan lebih agresif menurunkan suku bunga guna menekan biaya kredit perumahan dan pinjaman pribadi.

Namun, jika perang berkepanjangan dan memicu kenaikan harga, target penurunan suku bunga bisa sulit tercapai.

Meski Trump mengklaim berhasil menurunkan biaya hidup warga AS, sekitar 65 persen pemilih tidak menyetujui cara pemerintahannya menangani inflasi, menurut jajak pendapat gabungan The Washington Post dan ABC News.

Tekanan pada Wall Street

The Washington Post juga mencatat bahwa perluasan konflik dapat berdampak negatif pada bursa saham Wall Street dan menggerus keuntungan investasi yang sebelumnya disoroti Trump dalam pidato kenegaraannya.

Saham sejumlah perusahaan teknologi besar, seperti Nvidia, telah melemah dalam beberapa waktu terakhir di tengah kekhawatiran adanya gelembung investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

Jika perang memicu gangguan luas pada rantai pasok global, tekanan terhadap saham-saham AS diperkirakan akan semakin besar.

Sumber: Al Jazeera, The Washington Post, The Wall Street Journal

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler