Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menggelar pertemuan darurat di Gedung Putih pada Jumat (6/3/2026) untuk membahas percepatan produksi senjata, menyusul kekhawatiran meningkatnya penipisan stok amunisi AS akibat perang yang sedang berlangsung melawan Iran.
Menurut laporan kantor berita Reuters yang dikutip Al Jazeera, pertemuan tersebut akan melibatkan para eksekutif dari perusahaan industri militer besar Amerika seperti Lockheed Martin dan RTX (Raytheon Technologies). Diskusi berfokus pada upaya mempercepat produksi persenjataan guna mengisi kembali persediaan yang mulai menipis.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut Washington kini menghadapi kebutuhan mendesak untuk membangun kembali stok senjata, khususnya sistem pertahanan udara yang digunakan secara intensif dalam operasi militer di Timur Tengah.
Pemerintah AS juga disebut tengah mempertimbangkan pengajuan anggaran tambahan sekitar 50 miliar dolar untuk mengganti persenjataan yang telah digunakan dalam operasi tersebut. Nilai ini masih dapat berubah bergantung pada lamanya konflik berlangsung.
Kekhawatiran penipisan persenjataan
Kekhawatiran terkait krisis amunisi ini juga muncul di kalangan pejabat militer dan politisi Amerika. Laporan Washington Post menyebut para petinggi Pentagon khawatir konflik dengan Iran dapat berubah menjadi perang jangka panjang yang menguras stok sistem pertahanan udara AS.
Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan bahwa penggunaan rudal pencegat berlangsung sangat intensif. Dalam banyak kasus, dibutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat untuk memastikan satu rudal musuh berhasil dihancurkan.
Anggota senior Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, Adam Smith, memperingatkan bahwa operasi militer ini akan memaksa Washington menghabiskan cadangan amunisi yang sudah berada di bawah tekanan.
“Pada tahap ini, proses itu sudah dimulai. Kita tidak bisa mengatakan kepada Iran bahwa sistem pertahanan rudal kita sudah habis dan meminta mereka berhenti sejenak,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa sebelumnya juga disampaikan Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, yang memperingatkan Gedung Putih bahwa kekurangan amunisi serta minimnya dukungan militer dari sekutu dapat meningkatkan risiko operasi militer terhadap Iran.
Perang mahal melawan drone murah
Salah satu tantangan utama yang dihadapi militer AS adalah serangan drone Iran yang relatif murah namun efektif.
Iran dilaporkan mampu memproduksi lebih dari 5.000 drone setiap bulan, dengan biaya sekitar 50 ribu dolar per unit. Sebaliknya, rudal pencegat yang digunakan AS jauh lebih mahal, mencapai sekitar 4 juta dolar untuk rudal Patriot dan 12,8 juta dolar untuk rudal THAAD.
Ketimpangan biaya ini membuat perang udara melawan drone Iran menjadi sangat mahal bagi Washington. Seorang pejabat Kongres bahkan memperkirakan biaya perang yang sedang berlangsung dapat mencapai sekitar 1 miliar dolar per hari, menurut laporan majalah The Atlantic.
Ancaman bagi posisi global AS
Mantan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga memperingatkan bahwa perang berkepanjangan dengan Iran dapat melemahkan posisi strategis Amerika secara global.
Dalam sebuah podcast Bloomberg, Blinken mengatakan bahwa upaya untuk menciptakan perubahan besar di Iran akan membutuhkan fokus militer jangka panjang di Timur Tengah, yang berpotensi menguras persenjataan Amerika.
“Saya khawatir kita akan menghadapi skenario di mana arsenal Amerika terkuras secara besar-besaran, dan butuh waktu lama untuk membangunnya kembali,” kata Blinken. Menurutnya, situasi seperti itu dapat membuat Washington lebih rentan terhadap tekanan dari kekuatan besar lain seperti China dan Rusia.
Ia juga menyoroti ketimpangan biaya perang, di mana Amerika menggunakan rudal bernilai jutaan dolar untuk menghancurkan drone Iran yang nilainya hanya puluhan ribu dolar.
Eskalasi konflik
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sendiri meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Iran dilaporkan meluncurkan puluhan rudal dan drone ke berbagai target yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan Timur Tengah.
Militer Amerika menyatakan telah menghancurkan lebih dari 1.000 target Iran, termasuk kapal, fasilitas rudal, dan pusat komando, dalam operasi yang berlangsung kurang dari dua hari.
Namun serangan balasan Iran terus berlanjut, bahkan beberapa di antaranya berhasil menembus pertahanan udara AS. Tiga tentara Amerika dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam serangan terhadap fasilitas militer AS di kawasan tersebut.
Di tengah eskalasi ini, para pejabat di Washington kini mempertanyakan apakah stok rudal pencegat Amerika mampu menahan gelombang serangan Iran yang terus meningkat—atau justru konflik ini berisiko berkembang menjadi perang panjang yang menguras kemampuan militer AS.


