Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki minggu kedua tanpa tanda-tanda mereda. Meski Iran menunjukkan ketahanan dan mampu menyerap serangan awal, ketimpangan kekuatan militer antara Teheran dan Washington serta Tel Aviv terlihat jelas.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai peran negara-negara yang dianggap sekutu Iran, khususnya China, yang dinilai memiliki kapasitas untuk membantu mengubah keseimbangan konflik.
Namun hingga kini, Beijing memilih bersikap hati-hati dan tidak terlibat secara langsung.
Dukungan Terbatas dari China
Beberapa laporan sebelumnya menyebutkan bahwa China sempat memasok Iran dengan sejumlah peralatan militer, termasuk drone bunuh diri dan sistem pertahanan udara. Bantuan tersebut disebut terjadi sebelum konflik meningkat.
Setelah perang pecah, respons Beijing terbatas pada pernyataan diplomatik. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengecam serangan terhadap Iran sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Ia juga menyebut pembunuhan pemimpin tertinggi Iran sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima”.
Namun, China tidak mengumumkan bantuan militer baru kepada Iran sejak konflik berlangsung.
Sikap ini dinilai sejalan dengan tradisi kebijakan luar negeri Beijing yang selama ini menghindari aliansi militer formal dan menolak apa yang disebutnya sebagai “mentalitas blok”.
Hubungan Ekonomi yang Tidak Seimbang
Meski sering dianggap sebagai mitra strategis, hubungan China dan Iran sebenarnya tidak sepenuhnya seimbang.
Pada 2021, kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis selama 25 tahun. China juga menjadi pembeli utama minyak Iran, bahkan menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran pada tahun lalu.
Selain itu, China membantu Iran keluar dari isolasi diplomatik dengan mendukung keanggotaannya dalam kelompok BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai.
Namun secara keseluruhan, porsi Iran dalam perdagangan global China sangat kecil—kurang dari 1 persen. Sebaliknya, bagi Iran, China merupakan mitra dagang terbesar.
Perdagangan China dengan negara-negara Teluk bahkan jauh lebih besar. Pada 2024, nilai perdagangan Beijing dengan enam negara Dewan Kerja Sama Teluk mencapai sekitar 257 miliar dolar AS, jauh melampaui perdagangan dengan Iran yang hanya sekitar 14 miliar dolar AS.
Pertimbangan Energi dan Stabilitas
Bagi China, stabilitas kawasan Timur Tengah terutama berkaitan dengan keamanan energi. Sekitar sepertiga impor minyak China dan seperempat impor gas alamnya melewati Selat Hormuz.
Karena itu, kepentingan utama Beijing adalah memastikan jalur energi tetap aman, bukan terlibat dalam konflik militer.
China juga telah menyiapkan cadangan minyak strategis yang diperkirakan mencapai sekitar 1,1 miliar barel, cukup untuk menutupi kebutuhan impor selama tiga bulan.
Selain itu, Beijing mulai meningkatkan ketergantungannya pada pasokan energi dari Rusia, termasuk melalui proyek pipa gas “Power of Siberia 2”.
Menghindari Konfrontasi dengan Amerika Serikat
Faktor lain yang memengaruhi sikap China adalah hubungannya dengan Amerika Serikat.
Beijing dilaporkan tidak ingin memperburuk ketegangan dengan Washington menjelang pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pada awal April.
Karena itu, China memilih menjaga jarak dari konflik agar tidak memicu sanksi ekonomi atau eskalasi politik dengan Amerika Serikat.
Kecil Kemungkinan China Terlibat Militer
Para analis menilai kecil kemungkinan China akan mengirim pasukan atau terlibat langsung dalam perang untuk membela Iran.
Strategi global Beijing lebih menekankan dukungan ekonomi, diplomasi, dan kerja sama teknologi, bukan intervensi militer di wilayah yang jauh dari kawasan strategisnya.
Dalam beberapa kasus, China memang memberikan bantuan militer kepada negara yang berada di kawasan sekitarnya, seperti Pakistan. Namun pendekatan yang sama tidak selalu diterapkan di Timur Tengah.
Iran yang Lemah Justru Menguntungkan China
Sebagian pengamat bahkan menilai kondisi Iran yang melemah—namun tidak sampai runtuh—justru menguntungkan China.
Tekanan internasional terhadap Iran dapat membuat Teheran semakin bergantung pada dukungan ekonomi, teknologi, dan politik dari Beijing.
Dengan demikian, China tetap dapat mempertahankan pengaruhnya tanpa harus menanggung risiko besar akibat keterlibatan langsung dalam perang.


