Hampir 30 anggota Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat meminta dilakukannya investigasi internal terkait ratusan keluhan dari prajurit militer AS. Para prajurit tersebut mengaku bahwa perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran digambarkan kepada mereka sebagai bagian dari nubuat Alkitab yang diyakini akan mempercepat kedatangan kembali Yesus Kristus.
Permintaan investigasi tersebut disampaikan melalui surat kepada inspektur jenderal Departemen Pertahanan AS. Salinan surat itu diperoleh situs berita militer Military.com pada Jumat.
Surat tersebut ditandatangani oleh sejumlah anggota Kongres dari kubu progresif, di antaranya anggota DPR dari Michigan Rashida Tlaib, anggota DPR dari Minnesota Ilhan Omar, serta anggota DPR dari negara bagian Washington Pramila Jayapal. Mantan Ketua DPR Nancy Pelosi juga turut menandatangani surat tersebut.
Dalam suratnya, para anggota Kongres menyatakan bahwa sejumlah komandan militer diduga menggunakan “nubuat keagamaan dan teologi apokaliptik” untuk membenarkan tindakan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Mereka menilai, jika pernyataan tersebut benar, maka hal itu menimbulkan persoalan serius terkait konstitusi AS, termasuk potensi pelanggaran aturan Departemen Pertahanan mengenai netralitas agama di lingkungan militer.
“Jika akurat, pernyataan yang membenarkan perang berdasarkan tafsir nubuat Alkitab dan menyampaikan kepada prajurit bahwa mereka mempertaruhkan nyawa demi mewujudkan visi keagamaan tertentu menimbulkan kekhawatiran konstitusional yang serius,” tulis para anggota Kongres dalam surat tersebut.
Selain itu, mereka juga mempertanyakan apakah pernyataan semacam itu berkaitan dengan iklim politik yang lebih luas di pemerintahan, termasuk pernyataan publik Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan pejabat sipil senior lainnya yang dinilai kerap membingkai kebijakan Timur Tengah dengan istilah keagamaan.
Hegseth sebelumnya menjadi sorotan publik karena memiliki tato salib bergaya Perang Salib di dadanya serta tulisan “kafir” dalam bahasa Arab di lengannya. Simbol-simbol tersebut memicu kontroversi bahkan sebelum sidang konfirmasi di Senat untuk mengangkatnya sebagai pejabat sipil tertinggi di Pentagon.
Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” di CBS News pekan lalu, Hegseth mengatakan bahwa ia mendorong para prajurit untuk berdoa sebelum bertempur.
“Mereka membutuhkan hubungan dengan Tuhan Yang Mahakuasa,” ujar Hegseth.
Sementara itu, organisasi Military Religious Freedom Foundation (MRFF) yang memperjuangkan kebebasan beragama di lingkungan militer AS menyatakan telah menerima lebih dari 200 pengaduan dari personel militer yang bertugas di berbagai cabang, termasuk Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Korps Marinir, dan Space Force.
Pendiri MRFF, Michael L. Weinstein, mengatakan organisasinya terus menerima laporan dari prajurit yang mengaku diberi tahu bahwa mereka seharusnya merasa bangga ikut dalam perang melawan Iran karena diyakini akan memicu “Armageddon” dan kembalinya Yesus Kristus.
Weinstein menilai fenomena tersebut bukan sekadar tindakan satu komandan saja, melainkan berkaitan dengan meningkatnya pengaruh kelompok nasionalis Kristen dan fundamentalis di lingkungan militer.
Para anggota Kongres kini meminta penjelasan mengenai asal-usul komunikasi tersebut dalam rantai komando militer, kemungkinan pelanggaran terhadap prinsip netralitas agama, serta sejauh mana keluhan serupa telah terjadi di lingkungan Pentagon.
Dalam sumpah jabatan, personel militer Amerika Serikat berkomitmen setia kepada Konstitusi AS yang menjamin pemisahan antara agama dan negara, bukan kepada otoritas keagamaan maupun kepada presiden.


