Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa empat anggota militer AS tewas setelah pesawat pengisi bahan bakar udara milik Angkatan Udara Amerika jatuh di wilayah Irak barat. Operasi pencarian masih berlangsung untuk menemukan dua awak lainnya yang berada di dalam pesawat tersebut.
Dikutip dari Aljazeera pada Jumat (13/3), pesawat yang jatuh merupakan KC-135 Stratotanker, pesawat tanker yang digunakan untuk mengisi bahan bakar pesawat tempur di udara. Pesawat itu membawa enam awak ketika insiden terjadi.
Dalam pernyataannya, CENTCOM mengatakan kecelakaan tersebut terjadi di wilayah udara yang dikuasai sekutu dan tidak disebabkan oleh tembakan musuh maupun tembakan kawan sendiri, meskipun penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Klaim Kelompok Perlawanan Irak
Di sisi lain, kelompok yang menamakan diri “Perlawanan Islam di Irak” mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut. Kelompok itu menyatakan telah menembak jatuh pesawat tanker Amerika serta menyerang pesawat lain yang berada di wilayah yang sama.
Namun pihak militer Amerika belum mengonfirmasi klaim tersebut dan tetap menyatakan bahwa kecelakaan tidak terkait dengan serangan musuh.
Tabrakan di Udara
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa insiden itu melibatkan dua pesawat tanker KC-135 yang sedang menjalankan misi pengisian bahan bakar di udara. Salah satu pesawat dilaporkan jatuh di Irak barat, sementara pesawat lainnya berhasil kembali dan mendarat dengan selamat di Bandara Ben Gurion.
Pesawat yang jatuh merupakan bagian dari operasi militer Amerika yang mendukung kampanye udara terhadap Iran dalam konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.
Peran Penting KC-135
KC-135 adalah pesawat tanker strategis yang menjadi tulang punggung sistem pengisian bahan bakar udara militer AS, memungkinkan jet tempur melakukan misi jarak jauh tanpa perlu mendarat untuk mengisi bahan bakar.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan operasi militer besar di Timur Tengah, yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran serta kelompok sekutunya di kawasan.


