spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Saturday, March 14, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAnalisis dan OpiniANALISIS - Mojtaba Khamenei belum muncul, tapi sistem sudah berjalan

ANALISIS – Mojtaba Khamenei belum muncul, tapi sistem sudah berjalan

Hampir sepekan setelah ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei masih belum muncul di hadapan publik.

Warga Iran baru mendapat gambaran awal mengenai pandangannya pada Kamis lalu, ketika sebuah pernyataan panjang yang dikaitkan dengannya dibacakan di televisi pemerintah. Keesokan harinya merupakan Jumat pertama sejak ia menjadi pemimpin sekaligus peringatan Quds Day—momen ketika pemimpin tertinggi Iran biasanya tampil di hadapan publik. Namun Mojtaba tidak muncul.

Kini sudah enam hari sejak ia ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi, tetapi masyarakat Iran masih belum melihat penampilannya ataupun mendengar suaranya secara langsung.

Disebut mengalami luka saat serangan

Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada CNN bahwa Mojtaba mengalami patah kaki, memar di mata kiri, serta luka ringan di wajah pada hari pertama kampanye pengeboman oleh Amerika Serikat dan Israel hampir dua pekan lalu. Gelombang serangan yang sama juga menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer tertinggi Iran.

Putra Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang juga menjabat sebagai penasihat pemerintah, kemudian menulis bahwa Mojtaba memang terluka tetapi berada di tempat aman dan kondisinya baik berdasarkan laporan dari orang-orang yang mengetahui situasi tersebut.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Mojtaba kemungkinan mengalami luka serius pada wajah, tanpa menyertakan bukti. Israel sebelumnya juga menyatakan bahwa siapa pun pemimpin tertinggi baru Iran akan menjadi target.

Dukungan tetap muncul

Meski tidak terlihat di publik, ketidakhadiran Mojtaba tidak mengurangi semangat para pendukung pemerintah. Ribuan orang turun ke jalan untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada rezim.

Aksi tersebut menjadi seruan dukungan bagi pemerintah Iran yang berupaya mengonsolidasikan dukungan melalui demonstrasi massal, terutama menjelang akhir bulan suci Ramadan.

Namun absennya pemimpin baru itu juga menimbulkan pertanyaan lebih besar: siapa sebenarnya yang menjalankan pemerintahan Iran di tengah situasi perang?

Selama hampir empat dekade, Mojtaba dikenal beroperasi di balik layar selama masa kepemimpinan ayahnya. Ia memiliki pengaruh tetapi jarang tampil di publik.

Kini, ketika menduduki posisi paling berkuasa di Iran di tengah konfrontasi militer dengan Amerika Serikat dan Israel, ketidakhadirannya justru menyoroti perubahan karakter kekuasaan di Republik Islam Iran—di mana lembaga dan aparat keamanan mungkin lebih berperan daripada figur pemimpin itu sendiri.

Dipuji pendukung, diejek kritikus

Tokoh agama yang didukung negara menggunakan mimbar mereka untuk mengajak masyarakat menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru.

Ulama berpengaruh Mahmoud Karimi bahkan menyatakan bahwa “fakta bahwa hampir tidak ada yang pernah melihatnya sudah cukup menggambarkan karakternya,” menggambarkan sifat tertutup Mojtaba sebagai sebuah keutamaan, bukan kelemahan.

Namun bagi para kritikus rezim, ketiadaan pemimpin baru tersebut justru menjadi bahan ejekan.

Gambar manipulasi yang menampilkan Mojtaba sebagai potongan karton yang duduk di kursi kekuasaan beredar luas di media sosial, bersama berbagai meme yang mempertanyakan keberadaannya.

Karena sangat sedikit rekaman asli yang tersedia, media pemerintah bahkan menyebarkan video hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan Mojtaba berpidato di depan massa atau berdiri di samping ayahnya pada momen penting—adegan yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Beberapa gambar AI juga memperlihatkan Ali Khamenei menyerahkan tongkat estafet revolusi kepada putranya, atau Mojtaba memeluk jenderal Iran yang tewas, Qasem Soleimani.

Seorang warga Teheran bahkan menyindir dengan menyebutnya sebagai “pemimpin tertinggi versi AI”.

Narasi sejarah dan mitologi Syiah

Kenaikan Mojtaba secara tiba-tiba di tengah perang juga memunculkan simbolisme yang kuat dalam mitologi politik Iran dan teologi Syiah.

Sejarawan Arash Azizi mengatakan bahwa kematian Ali Khamenei yang dianggap simbolik memberi citra religius yang dapat dimanfaatkan oleh rezim.

Menurutnya, rezim kemungkinan akan membangun narasi bahwa Mojtaba adalah putra dari seorang “imam yang syahid” yang juga terluka—sebuah gambaran yang mirip dengan kisah para tokoh suci Syiah dalam Battle of Karbala.

Budaya politik Iran sendiri telah lama dibentuk oleh pengalaman perang dan krisis. Hanya setahun setelah Republik Islam berdiri pada 1979, Irak di bawah pimpinan Saddam Hussein menginvasi Iran dan memicu perang delapan tahun yang menewaskan ratusan ribu orang.

Pengalaman tersebut membentuk mentalitas banyak pendukung rezim untuk menerima keterbatasan situasi selama masa perang.

Lembaga negara lebih menentukan

Direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga pemikir Chatham House, Sanam Vakil, mengatakan bahwa ketidakhadiran pemimpin tidak selalu langsung merusak legitimasi pemerintah.

Menurutnya, selama lembaga negara tetap berfungsi dan keputusan terlihat terkoordinasi, legitimasi sistem masih dapat dipertahankan dalam jangka pendek.

Beberapa analis menilai bahwa yang paling penting saat ini di Teheran bukanlah kehadiran pemimpin tertinggi di depan publik, melainkan soliditas lembaga-lembaga di bawahnya.

Badan keamanan yang kuat seperti Islamic Revolutionary Guard Corps kemungkinan besar memimpin strategi perang terlepas dari keberadaan Mojtaba di ruang publik.

Penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi dianggap sudah cukup memberikan legitimasi politik bagi kepemimpinan militer untuk melanjutkan operasi perang yang oleh rezim disebut sebagai “Perang Ramadan”.

Namun para analis menilai situasi tersebut mungkin berubah setelah perang berakhir.

Jika kondisi menjadi lebih menantang, elit politik—bukan hanya publik—akan membutuhkan bukti yang lebih jelas bahwa Mojtaba mampu menjalankan otoritasnya.

Untuk saat ini, lokasi Mojtaba masih dirahasiakan. Dan hanya sedikit pengikutnya yang mempertanyakan hal tersebut—terutama karena pemimpin baru itu diyakini menjadi target serangan.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler