Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kekecewaannya terhadap negara-negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang dinilai kurang membantu upaya AS membuka kembali Selat Hormuz.
Selat sempit tersebut merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, karena lebih dari 20 persen pasokan minyak mentah global melewati wilayah itu.
Pada Senin (17/3), Trump mengatakan sejumlah negara telah menyatakan akan ikut serta, meski ia tidak menyebutkan negara mana saja.
“Beberapa sangat antusias, tetapi ada juga negara yang selama bertahun-tahun kami bantu dan lindungi dari ancaman luar, namun mereka tidak begitu antusias. Tingkat antusiasme itu penting bagi saya,” kata Trump.
Para ahli sebelumnya memperingatkan bahwa misi mengawal kapal tanker atau operasi militer di Selat Hormuz akan sangat berbahaya.
Sejumlah pemimpin Eropa menegaskan tidak ingin terlibat dalam langkah yang berpotensi menyeret mereka ke konflik yang lebih luas dengan Iran. Mereka juga memandang serangan AS dan Israel terhadap Iran tidak memiliki mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Negara-negara seperti Jerman, Perancis, dan Britania Raya telah menolak terlibat dalam operasi tersebut.
Trump bahkan mengaku “terkejut” dan “tidak senang” dengan sikap Inggris.
Ia juga menyinggung bahwa Amerika Serikat menanggung sebagian besar pembiayaan NATO serta bantuan militer untuk Ukraina dalam menghadapi Rusia.
“Anda bisa bertanya kepada Vladimir Putin. Putin takut kepada kami. Dia sama sekali tidak takut kepada Eropa,” ujar Trump.
Ketika ditanya apakah ia telah membahas masalah ini dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron, Trump mengaku sudah melakukannya, namun tidak menekan pihak Prancis untuk ikut serta.
“Karena sikap saya adalah, kami tidak membutuhkan siapa pun. Kami adalah negara terkuat di dunia dengan militer terkuat,” kata Trump.
Meski demikian, Trump menyebut permintaannya kepada negara-negara sekutu juga bertujuan menguji komitmen mereka.
“Saya sudah mengatakan selama bertahun-tahun, jika suatu saat kami benar-benar membutuhkan mereka, mereka mungkin tidak akan ada,” ujarnya.
Selat Hormuz Terhambat
Dua pekan sejak perang antara AS–Israel dan Iran pecah, Iran dilaporkan membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, kecuali bagi beberapa kapal dari negara yang dianggap bersahabat.
Selat ini merupakan jalur bagi sekitar 20–25 persen perdagangan minyak laut dunia dengan nilai sekitar 600 miliar dollar AS per tahun. Sekitar 20 persen pasokan gas alam cair global juga melewati jalur tersebut.
Lonjakan harga minyak hingga melampaui 100 dollar AS per barel membuat Trump mendesak negara-negara lain mengirim kapal perang untuk mengawal tanker komersial.
Namun, langkah tersebut berisiko dianggap sebagai provokasi oleh Iran.
“Saya meminta negara-negara tersebut melindungi wilayah mereka sendiri, karena itu juga wilayah mereka,” kata Trump.
Ia bahkan menyebut Amerika Serikat sebenarnya tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz karena produksi minyak domestik yang tinggi.
Kritik terhadap Sekutu
Trump juga mengungkapkan percakapannya dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang menurutnya terlalu lama berkonsultasi dengan tim penasihat sebelum memutuskan apakah akan membantu AS.
“Saya bilang, Anda tidak perlu rapat dengan tim. Anda perdana menteri, Anda bisa membuat keputusan sendiri,” ujar Trump.
Sementara itu, mantan penasihat energi Gedung Putih Bob McNally menilai tidak ada solusi kebijakan yang mudah jika Selat Hormuz ditutup dalam waktu lama.
“Pilihan yang ada hanya berkisar dari langkah terbatas, simbolis, hingga keputusan yang sangat tidak bijaksana,” katanya.


