Para pemimpin Kanada, Perancis, Jerman, Italia, dan Britania Raya pada Senin (17/3) mendesak Israel untuk tidak melancarkan operasi darat besar ke Lebanon, setelah Israel kembali menggencarkan serangan di wilayah selatan negara tersebut dalam dua pekan terakhir.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin menyatakan “sangat prihatin” atas meningkatnya serangan dari berbagai pihak serta mendesak agar semua pihak kembali ke meja perundingan.
“Serangan darat besar Israel akan membawa konsekuensi kemanusiaan yang sangat menghancurkan dan berpotensi memicu konflik berkepanjangan. Hal itu harus dihindari,” demikian isi pernyataan tersebut.
Mereka juga menyoroti kondisi kemanusiaan di Lebanon yang semakin memburuk, termasuk gelombang pengungsian massal yang terus terjadi.
Menurut unit manajemen bencana dan risiko Lebanon, sekitar satu juta orang telah mengungsi akibat rangkaian serangan terbaru tersebut.
Hingga Senin, sedikitnya 886 warga Lebanon tewas dan 2.141 orang lainnya terluka.
Kelompok bersenjata Hezbollah mulai meluncurkan serangan roket ke Israel tak lama setelah Israel bersama Amerika Serikat memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebelumnya, gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah yang dimediasi oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump pada November 2024 dilaporkan telah berulang kali dilanggar.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi militernya hanya menargetkan gudang senjata dan pejabat senior Hezbollah yang dianggap menimbulkan ancaman langsung.


