Pemerintah Qatar menyatakan bahwa serangan rudal Iran terhadap Ras Laffan Industrial City, fasilitas gas utama negara tersebut, telah menyebabkan “kerusakan signifikan”.
Dalam pernyataan pada Rabu, Kementerian Luar Negeri Qatar menyampaikan kecaman keras atas serangan yang disebut sebagai “agresi terang-terangan” yang memicu kebakaran dan kerusakan besar di fasilitas tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Qatar menyebutkan bahwa kebakaran di lokasi telah berhasil dikendalikan secara awal, dan tidak ada korban luka dilaporkan. Perusahaan energi negara, QatarEnergy, juga memastikan seluruh pekerja dalam kondisi aman tanpa korban jiwa.
Serangan ini terjadi beberapa jam setelah Iran mengancam akan menargetkan fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars miliknya, di tengah eskalasi konflik yang juga melibatkan Amerika Serikat.
Ancaman Iran mencakup sejumlah target di kawasan, termasuk kompleks petrokimia Mesaieed dan kilang Ras Laffan di Qatar, fasilitas energi di Arab Saudi, serta ladang gas di Uni Emirat Arab.
Menanggapi serangan tersebut, Qatar juga menetapkan atase militer dan keamanan Kedutaan Iran sebagai persona non grata dan memerintahkan mereka meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam, dengan alasan serangan berulang dari Teheran.
Qatar menilai serangan ini sebagai eskalasi berbahaya, pelanggaran serius terhadap kedaulatan, serta ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya. Pemerintah Qatar juga menuding Iran terus menjalankan kebijakan yang mendorong kawasan menuju konflik yang lebih luas.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengungkapkan telah berbicara dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, serta Presiden AS, Donald Trump. Ia menyerukan moratorium segera terhadap serangan yang menargetkan infrastruktur sipil, khususnya fasilitas energi dan air.
Sebelumnya, pada 2 Maret, Qatar sempat menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah serangan terhadap fasilitas Ras Laffan dan infrastruktur lain di Mesaieed. Kompleks Ras Laffan sendiri merupakan fasilitas LNG terbesar di dunia, yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan LNG global dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi di Asia dan Eropa.
Para analis menilai gangguan terhadap fasilitas ini berpotensi menekan pasokan energi regional dan mempertahankan harga energi global tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama.


