spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Thursday, March 19, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaWHO waspadai risiko nuklir di tengah Perang AS-Israel terhadap Iran

WHO waspadai risiko nuklir di tengah Perang AS-Israel terhadap Iran

World Health Organization tengah bersiap menghadapi kemungkinan jatuhnya radiasi nuklir akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Organisasi ini memperingatkan bahwa konsekuensi dari insiden nuklir akan menjadi bencana besar, tak peduli seberapa banyak langkah pencegahan yang diambil.

Hanan Balkhy, Direktur Regional WHO untuk kawasan Mediterania Timur, mengatakan kepada Politico pekan ini bahwa ia “benar-benar berharap hal itu tidak terjadi.”

“Skenario terburuk adalah insiden nuklir, dan itulah yang paling kami khawatirkan,” ujarnya. “Sekalipun kita mempersiapkan diri, tidak ada yang bisa mencegah kerugian yang akan terjadi. Dampaknya akan bertahan selama beberapa dekade.”

Amerika Serikat memiliki persediaan senjata nuklir terbesar di dunia, sementara Israel—meski tidak pernah secara resmi mengaku—adalah satu-satunya kekuatan nuklir di Timur Tengah. Menurut International Atomic Energy Agency, Iran memiliki ambisi nuklir tetapi belum memperkaya uranium ke tingkat senjata. Kawasan ini juga memiliki fasilitas energi nuklir di Uni Emirat Arab.

Pada Juni lalu, Amerika Serikat mengambil langkah belum pernah terjadi sebelumnya dengan membom tiga situs nuklir terbesar Iran di Natanz, Isfahan, dan Fordow. Presiden AS menyatakan fasilitas tersebut “dihancurkan,” namun pemerintah Iran belum mengungkapkan dampak humaniter dari serangan ini.

Balkhy memperingatkan bahwa dampak nuklir tidak berhenti pada jumlah korban jiwa. “Mereka yang mempelajari sejarah insiden sebelumnya, baik disengaja maupun tidak, akan sangat memahami apa yang kami maksud,” katanya, merujuk pada penggunaan bom atom di Jepang oleh Washington pada 1945 dan bencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl di Ukraina pada 1986.

Ia menyoroti efek jangka panjang pada sistem pernapasan, lingkungan, dan risiko kanker yang bisa bertahan selama puluhan tahun.

 

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler